Sunday, 19 May 2013

Jika Nafas Masih Ada, Tanda Masih Terbuka Kesempatan Bertaubat


Ahad, 12 Mei 2013

وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
[QS: Al-Furqan, 25: 71]
SESUNGGUHNYA tidak ada yang setengah-setengah dalam agama, semua yang haq dan bathil telah dijelaskan secara rinci dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Karena itu, jika manusia ingin melaksanakan syari’at agama hendaknya bersikap total, sepenuhnya diamalkan.

Masalahnya, ajakan dan perintah yang cukup jelas itu kadang menjadikan makhluk yang bernama manusia tidak sempat untuk menangkap hikmah dan manfaat kini. Orang menjadi serius dengan kesibukan tertentu, dan lalai dalam melaksanakan ajakan dan perintah itu.

Di sisi lain, agama ini memberikan ‘rambu-rambu’ kehidupan yang jelas, dan larangan adalah garis yang tidak dapat diterjang oleh siapapun. Tanpa terkecuali. Betapa Islam tidak memberikan perlakuan yang bersifat ‘pilih kasih’ dalam soal tatanan dan aturan hidup.

Sering kali ungkapan yang diajukan adalah karena saya manusia, tempat lupa dan salah. Ada lagi yang menganggap mumpung masih muda, dipuas-puaskan. Yang lain lagi mengatakan bahwa saya ini sudah terlanjur banyak berbuat maksiat. Mungkin masih banyak yang ingin menunjukkan mengapa tidak segera keluar untuk menemukan jalan baru, taubat. Semakin dicari alasan semakin tidak akan pernah terjadi pertaubatan. Dan menuruti hawa nafsu tidak akan pernah ada ujungnya.
Salah dan Dosa

Menurut pandangan Islam, dosa dibagi dua; dosa besar dan dosa kecil. Allah berfirman:
إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفّر عنكم سيّئاتكم وندخلكم مدخلا كريما
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS:An-Nisa’, 4: 31)
Dalam ayat lain disebutkan:
الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللّمم إنّ ربّك واسع المغفرة
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya.” (QS: An-Najm, 53: 32)

Perbuatan dosa, baik besar maupun kecil, merupakan sebab utama kesengsaraan manusia. Dosa itu berdampak negatif pada diri pelakunya; keresahan, keterpurukan, bahaya kesehatan, akal, dan pekerjaan. Dampak lain berupa menghilangnya rasa persatuan, keguncangan maupun keributan pada masyarakat.
Hanya para Nabi dan Rasul saja yang terjaga (ma’shum). Tidak ada satu dosapun yang dilakukan oleh mereka alaihissalam. Allah Ta’ala memberikan perlakuan khusus kepada hamba-hamba-Nya itu. Jika terdapat di antara kita yang mengaku bebas dari kesalahan, sok suci, bebas dari setitik salah, tentu bukanlah pengakuan, mungkin lebih dekat kepada canda atau mengingatkan kita dengan logika terbalik. Artinya, sadar atau tidak, ya kita pernah berbuah salah.

Terdapat sebuah analogi bahwa salah itu seperti kotoran. Tergantung pada kecerdasan orang untuk dapat mengelolanya. Jika orang mampu menjadikan kesalahan untuk mendekat kepada Allah Ta’ala, untuk bertaubat kepada-Nya, maka kesalahan itu sebenarnya bukan kesalahan melainkan itu bentuk saluran rahmat dari Allah.
Rasulullah Muhammad pernah bersabda “Setiap anak manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” Hadits inilah yang dijadikan landasan untuk menyadari adanya kebaikan dari setiap keburukan, sehingga orang yang berbuat salah tidak berlama-lama menikmati kemaksiatan yang membawa kehancuran.
Argumen Itu

Selalu orang bertanya tentang alasan dalam mengerjakan sesuatu, atau paling tidak orang berpikir tentang maksud ataupun tujuan melakukan hal yang diperintahkan. Tidak ada suatu perintah yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk. Semua perintah yang Allah Ta’ala tetapkan merupakan indikator adanya kemampuan makhluk untuk mengerjakannya. Pun bila terdapat larangan-Nya, sebenarnya tidak seorangpun yang tidak dapat meninggalkannya. Betapa larangan itu lebih dekat kepada hawa nafsu yang mendominasi pribadi seseorang, sehingga larangan pun diterjang.
Panggilan bertaubat sering dikumandangkan, hanya soal indera pendengaran saja yang bermasalah. Mendengar tetapi tidak fokus pada inti yang disampaikan. Mungkin bisa saja mendengar, tetapi menerima panggilan tersebut adalah soal lain.

Jika nafas masih ada, itu tandanya masih terbuka kesempatan untuk bertaubat. Jika ada yang merasa kotor, terlanjur banyak maksiat dan dosa, itu tandanya diperintahkan untuk membersihkan diri, bertaubat. Jika orang sudah tahu dirinya kotor, berlumur lumpur, lantas ‘mandi’, lalu menceburkan diri dalam kubangan lumpur, itu berarti “nekad”. Orang yang berbuat dosa dan maksiat, sudah bertaubat, lalu menjerumuskan diri lagi, ini berarti belum menyadari dan sadar diri yang sesungguhnya.
Pertanyaanya, “mengapa harus bertaubat?”.
Adalah awal yang baik bagi orang yang sadar akan maksiat dan bahayanya. Kesadaran untuk menjawab pertanyaan tersebut menjadi tonggak penting dalam perubahan seseorang yang ‘biasa’ berlaku maksiat untuk berubah dan menjadi ‘diri’ yang baru.
Amru Khalid, dalam Hatta Yughayyiru ma bi Anfusihim, menyebutkan 15 efek buruk dari maksiat, di antaranya: murka Allah, kebencian orang mukmin, penghalang datangnya rezeki, penghalang memperoleh ilmu, cobaan yang berat, merasa terasing dari Allah, merasa terasing dari lingkungan, hati yang gelap dan raut muka yang suram, terhalang melakukan ketaatan, hasrat untuk mengerjakan kemaksiatan lain, kehinaan di sisi Allah, kehinaan di dalam hati, melemahkan akal, petaka akibat maksiat, dan mulut pelaku maksiat akan berkhianat pada dirinya.

Argumen yang sahih ditemukan oleh para pelaku maksiat adalah dalam firman Allah:
إنّما التوبة على الله للّذين يعملون السّوء بجهالة ثم يتوبون من قريب فأولئك يتوب الله عليهم وكان الله عليما حكيما
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’, 4: 17).

Pada ayat di atas, yang dimaksud mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan adalah: 1. orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu; 2. orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak; 3. orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau Karena dorongan hawa nafsu.
Saatnya Kembali

Dalam Al-Khathaya fi Nadzril Islam disebutkan bahwa taubat mencakup tiga syarat: (a) meninggalkan perbuatan dosa; (b) menyesali perbuatannya; (c) bertekad tidak akan melakukannya kembali. Salah satu unsur penting dalam taubat adalah adanya rasa penyesalan. Rasa penyesalan ini mempunyai pengaruh besar dalam merubah sikap seseorang dari keadaan jelek menjadi baik.

Manusia lahir dalam keadaan suci, fitrah. Jika manusia mengotori fitrahnya itu lantaran hawa nafsu yang menguasai dirinya, hingga orang lalai, salah, berbuat dosa atau maksiat, maka kesempatan untuk membersihkan diri masih terbuka dan selalu dibuka untuk siapa saja yang mau kembali, kembali ke jalan yang benar. Selama hayat masih dikandung badan, bertaubat masih diterima. Namun bila orang menunda-nunda, mengulur waktu, tidak mau bersegera untuk bertaubat, maka suatu saat nyawa akan meregang dari raga tanpa warning, dan datangnyapun tiba-tiba.

Jika panggilan taubat tidak lagi dihiraukan, waspadalah bahwa Malaikat Izrail bisa kapan saja dan dimana saja mencabut nyawa, tentunya Izrail bertindak setelah adanya instruksi Sang Khaliq. Maka waspadalah terhadap mati su’ul khatimah (akhir yang buruk).

Upaya untuk kembali ke jalan yang lurus hendaknya diupayakan semaksimal mungkin. Perjuangan untuk taubat ini mengandung nilai yang positif bagi perbaikan pribadi dan bukti penghambaan kepada Yang Maha Pengampun. Jika orang yang bertaubat sudah kembali ke dalam naungan cahaya ilahi, ia pantang kembali kepada kemaksiatan. Maka diperlukan cara jitu untuk menepis keinginan untuk bermaksiat, yaitu (i) bergaul dengan orang saleh; (ii) membiasakan diri beramal saleh. Di sinilah pentingnya lingkungan yang baik, yang mendukung berseminya kemaslahatan dan perbaikan serta kebermaknaan hidup di bawah ridha Allah Ta’ala.*/Moh. In’ami, peneliti pada Lembaga Kajian Agama Sosial Budaya & Filsafat "eLKASYF" Kudus


Red: Cholis Akbar
www.hidayatullah.com

Beginilah Seharusnya Seorang Muslim yang Kaya dan Berkuasa dalam Melihat Harta


Jum'at, 12 April 2013


KALAU ada orang berperkara karena rebutan harta itu biasa. Tetapi kisah ini sangat luar biasa. Ada dua orang berperkara soal harta tapi bukan untuk saling rebut, tetapi saling memberikan, karena merasa bukan haknya.
Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan termaktub dalam Kitab Shahih Imam Muslim.

“Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang itu menemukan sebuah pundi-pundi berisi emas dari ladang tersebut. Pembeli itu mengembalikan pundi-pundi itu ke si penjual. Sedang si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya: “Ambillah! Tapi pembeli itupun menolak dengan berkata: ‘Aku hanya membeli ladang. Bukan membeli emas itu.”

Keduanya tetap tak mau menerima harta itu. Karena si penjual pun menyatakan bahwa dia menjual ladang dengan segala isinya. Akhirnya mereka pergi kepada seorang yang sholeh untuk membantu memecahkan persoalan ini.
Hakim yang ditunjuk mereka itu kemudian bertanya pada masing-masing, apakah mereka mempunyai anak. Ternyata ada. Yang satu mempunyai anak laki-laki, sedang yang lain mempunyai anak perempuan. Hakim kemudian berkata: “Kawinkan keduanya. Pakailah pundi itu sebagai biaya untuk menyelenggarakan pernikahan itu.”
Kisah tersebut benar-benar luar biasa. Keduanya tidak mau menerima harta yang bukan haknya, bukan hasil jerih payah mereka. Keduanya justru takut jika itu malah menggoyahkan, mengancam akhlak dan moral, serta mengganggu ketentraman jiwanya, yang merupakan inti dan hakikat kebahagiaan hidup.
Demikianlah seharusnya seorang Muslim melihat harta. Tiak asal dapat, tapi diperhatikan dulu, apakah harta itu hak atau tidak. Sebab jika bukan hak, harta itu malah akan merusak kekayaan sejati kita berupa iman dan ketentraman jiwa. Lihatlah para koruptor, sekalipun uang mereka banyak, tapi mereka tak tenang bahkan kelak akan disiksa karena makan harta yang bukan haknya.
Tauladan Sahabat Nabi yang Kaya

Ada dua sahabat Nabi yang kaya raya, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya tidak menjadi sombong karena harta, apalagi serakah untuk terus menambah koleksi hartanya. Malah gelisah, jika harta yang berlebihan itu yang sejatinya amanah Allah tidak dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, keduanya selalu memanfaatkan harta yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan kebahagiaan umatnya. Menjadi sesama Muslim agar menjadi orang-orang yang mandiri dan terhormat, sehingga umat Islam menjadi unggul di atas umat-umat yang lain.
Utsman bin Affan radhiyallahu anhu pernah meringankan kesulitan penduduk Madinah. Saat itu musim kemarau melanda. Kebutuhan air meningkat sementara tidak ada persediaan air lagi. Satu-satunya cara untuk bisa mendapat air adalah dengan membeli sumur dari seorang Yahudi yang kejam.
Melihat situasi tersebut Rasulullah bersabda, “Siapa kiranya yang sudi membantu meringankan beban kaum Muslimin ini?”

Mendengar demikian, spontan Utsman bin Affan membeli sumur itu dari tangan si Yahudi dengan harga yang sangat mahal. Utsman tidak pernah merasa rugi dengan keputusan tersebut. Karena dalam pemahamannya, harta bukan untuk disimpan tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat.
Demikian pula halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia tidak pernah tanggung dalam memberikan harta untuk kemaslahatan umat. Pernah ia memberikan 700 ekor unta yang dimilikinya beserta segala muatannya untuk kepentingan umat Islam. Setiap hari Abdurrahman bin Auf memikirkan hartanya jangan sampai ada yang tidak termanfaatkan di jalan Allah.

Jadi, seorang hartawan tidak seharusnya jatuh dalam kenistaan karena menganggap harta yang disimpan lebih membahagiakan daripada dibelanjakan di jalan Allah. Sungguh tercela seorang hartawan yang dalam hidupnya memilih meribakan uang, memonopoli perdagangan, dan mempermainkan harga serta tenaga kaum lemah yang menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi memeras tenaga buruh, hingga mereka tidak dapat menunaikan kewajiban agamanya.

Keteladanan Umar bin Abdul Aziz
Selain orang kaya, penguasa termasuk orang yang memiliki kelapangan harta. Tetapi lain halnya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia tak pernah memanfaatkan harta yang bukan haknya untuk kepentingan diri dan keluarganya.
Suatu hari khalifah meminta pelayannya untuk memanaskan air untuknya, supaya ia bisa berwudhu di hari yang sangat dingin, dengan cepat si pelayan kembali setelah memanaskan airnya, lalu khalifah bertanya, “Di mana kamu panaskan air secepat itu?
Pelayannya pun menjawab, “Aku memanaskannya di dapur umum”. Dapur umum didirikan Umar untuk memenuhi hajat kaum Muslimin yang dibiayai dari Baitul Mal. Khalifah Umar pun memarahi pelayannya atas perbuatannya itu.
Khalifah pun tak menyentuh sedikitpun air panas itu sampai pelayan itu pergi untuk membayar harga dari sekedar menumpang memanaskan air.
Jadi, tidak seharusnya seorang penguasa memanfaatkan jabatannya sebagai alat memperkaya diri dan keluarga. Bergaya hidup mewah, boros dan kikir. Karena bagaimanapun, kewenangan yang dimiliki untuk memanfaatkan harta rakyat sekalipun tidak diperiksa oleh pengadilan, kelak pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Oleh karena itu dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Imam Ghazali berpesan agar seorang penguasa atau pejabat negara harus berhati-hati dengan harta yang bersumber dari kas negara yang dikumpulkan dari pajak dan hasil ekspor. Karena hakikatnya harta itu adalah untuk kepentingan rakyat bukan penguasa.
Keutamaan Dermawan dan Tercelanya Kekikiran
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu tidak memiliki harta, maka sikapilah dengna qana’ah. Sedangkan jika kamu memilikinya, maka sikapilah dengan mendahulukan orang lain, dermawan dan tidak pelit.

Kemudian Imam Ghazali mengutip hadits Nabi, “Sifat dermawan adalah salah satu pohon dari pepohonan surga yang dahannya terjuntai hingga ke tanah. Barangsiapa yang mengambil sehelai dahannya, maka dahan itu akan menuntunnya ke surga”.
Artinya, Muslim yang mendapat anugerah harta berlebih semestinya membagikan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Bukan malah menyimpan dan terus menerus berusaha menambahnya tanpa peduli terhadap sesama alias kikir atau bakhil.
Siapa yang kikir tentu keberuntungan akan menjauh darinya.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al Hasyr [59]: 9).
Dan, siapa yang tetap bakhil, kelak akan merasakan siksa yang memberatkan.
وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS: Ali Imron [3]: 180).
Sifat kikir orang kaya dan penguasa akan berakibat pada kekacauan atau kerusuhan sosial. Rasulullah bersabda, “Waspadalah dari sifat kikir. Sesungguhnya orang-orang sebelummu binasa karenanya. Sifat kikir membuat mereka saling membunuh dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Ahmad).*/Imam Nawawi



Red: Cholis Akbar
www.hidayatullah.com

Bisnis yang Tak Akan Pernah Merugi, Berbisnis dengan Allah


Senin, 22 April 2013


SEBAGAI orang beriman tentu kita tahu dan sadar bahwa diri kita dan apapun yang ada di dunia ini milik Allah. Apalagi Allah telah menegaskan hal ini dalam kitab sucinya:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.  (Al-Baqarah [2]: 284)

Karena itu, sesungguhnya Allah memiliki kuasa penuh atas semua yang dimilikinya, termasuk terhadap diri kita. Apakah Allah mau menghidupkan, mematikan, melapangkan rizki atau menyempitkannya, memberi nikmat atau mengazab; semuanya terserah Dia.

Dengan demikian sesungguhnya manusia sangat tergantung kepada kehendak Allah. Seandainya ada banyak orang hendak membunuh si fulan, tapi kalau Allah berkehendak menghidupkan dia, maka dia akan tetap hidup, sebagaimana Allah telah menyelamatkan dan membiarkan Nabi Ibrahim tetap hidup meskipun dia dihukum bakar oleh rezim Raja Namruz.

Begitu pula sebaliknya, meskipun si fulan dijaga kesehatannya oleh sebuah tim yang terdiri dari puluhan dokter yang sangat ahli, namun kalau Allah berkehendak mematikannya, maka tak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan nyawanya.

Karena begitu mutlaknya kekuasaan Allah terhadap manusia, maka sepatutnya manusia takluk dan menyerah kepada Allah. Seharusnya dia tunduk dan patuh atas apa saja yang Allah perintahkan kepada-Nya. Kalau ada sepasukan tentara yang menyerah kalah kepada lawannya lalu menjadi tawanannya, maka di bawah todongan senjata, tentara itu akan mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh musuhnya. Begitu pula para budak kerajaan, akan selalu mematuhi apa saja perintah raja, meskipun raja tidak memberikan upah sepeser pun kepada mereka.

Kita sadari, Allah jauh lebih berkuasa daripada raja ataupun musuh tentara itu. Allah tidak hanya dapat mematikan sepasukan tentara manusia, tetapi Dia dapat mematikan semua tentara yang ada di muka bumi secara serentak. Semua itu mudah bagi Allah. Karena itu seharusnya perintah Allah lebih dipatuhi daripada perintah siapapun yang ada di bumi ini.

Menariknya, meskipun kekuasaannya begitu mutlak, meski kita semua adalah ciptaan-Nya dan budak-Nya, namun karena Allah memiliki sifat asy-Syakur  (Maha Balas Jasa) dan  al-Haliim (Maha Penyantun), Dia tidak memerintahkan sesuatu kecuali Dia akan memberikan balas jasa kepada hamba yang Dia perintahkan. Perintah-Nya tidak gratis, tapi ada bayaran-Nya.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Baqarah [2]: 281)
Yang lebih menarik lagi, bayaran yang Allah tawarkan bukan dalam kerangka kesepakatan kerja majikan-buruh, karena biasanya buruh digaji lebih kecil daripada jerih payahnya. Yang Allah tawarkan dalam al-Qur`an adalah kerangka kesepakatan bisnis, berupa pinjam-meminjam dengan bunga pinjaman yang berlipat ganda serta jual-beli dengan nilai tukar yang sangat tidak sebanding; ibarat meminjam seekor nyamuk lalu mengembalikan dalam bentuk seekor kuda atau membeli seekor lalat dengan bayaran seekor unta.

Berikut ini transaksi pinjam meminjam yang Allah tawarkan:
إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ (QS: At-Taghabun [64]:17).

Adapun transaksi kedua yang Allah tawarkan adalah transaksi jual-beli atau perdagangan:
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah [9]: 111)
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Faathir [35]: 29)

Jadi setiap orang yang sudah baligh (mencapai usia kesempurnaan akal) adalah pebisnis yang bertransaksi dengan Allah.

Semua modal bisnisnya (kehidupannya, kesempurnaan tubuhnya, kesempurnaan akalnya, kesehatannya, kepandaiannya, perasaannya, intuisinya, dan lain-lain) berasal dari Allah. Dia tinggal memutar roda usahanya dengan modal tersebut.

Transaksi bisnisnya adalah semua perbuatan dirinya sejak dia baligh sampai malaikat maut datang menjemputnya. Dan semua transaksi itu tercatat rapi serta detil. Tak ada secuil pun, bahkan tak ada sebesar dzarrah (atom) pun yang terluput oleh malaikat sang juru catat.
 وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ
وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS Al-Qamar [54]: 52-53)

Begitu detilnya buku catatan itu, sehingga kelak para pendosa terperanjat kaget ketika menerima rapor mereka yang kebakaran itu.

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun". (Al-Kahfi [18]:49)

Setelah itu seluruh manusia dikumpulkan pada sebuah forum pengadilan yang dipimpin oleh Sang Pemilik Modal sendiri selaku Ahkamil Hakimin (Sang Hakim Yang Maha Adil) di suatu hari yang dinamakan Yaumul Hisab (Hari Penghitungan rugi/laba).
 وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)-nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya [21]: 47)


Berapa banyak manusia yang berhasil membukukan laba? Lebih dari 1400 tahun yang lalu, Sang Pemilik Modal Yang Maha Kaya—sekaligus Sang Hakim Maha Adil—itu telah menyebarkan bocoran informasi bahwa hampir semua “mitra bisnisnya” gagal membukukan laba. Hasil auditing terhadap terhadap neraca keuangannya menunjukkan hasil bahwa bisnis mereka membukukan kerugian.

Tapi ada juga yang membukukan keuntungan dalam berbisnis dengan Allah.  Siapa mereka? Simak saja bocoran di bawah ini:

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (gagal membukukan laba dalam bertransaksi dengan Allah), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 1-3).
Selamat bertransaksi dengan Allah. Semoga transaksi kita membukukan laba.*/Saiful Hamiwanto 

Red: Cholis Akbar
www.hidayatullah.com

Persiapkan Sebelum Melewati Shirath Hari Esok!

Kamis, 16 Mei 2013

UMUMNYA orang memahami masa depan hanya sebatas usia tua. Tidak heran jika banyak orang mati-matian mengumpulkan uang sejak muda dengan harapan hidup berlimpah harta di masa tuanya. Bahkan, kalau perlu kekuasaan tetap berada di tangan keturunannya.
Sekiranya, cara mendapatkannya halal, tentu tidak mengapa. Persoalannya adalah ketika pengumpulan harta itu dilakukan dengan cara-cara curang dan haram. Tentu ini suatu kecelakaan besar. Jangankan di akhirat, di masa tua di dunia pun pasti akan sengsara. Lihatlah nasib Fir’aun, Haman, Qarun, Namrudz dan yang lainnya.
Seperti jamak diketahui, sekarang ini demi sebuah posisi atau jabatan, sebagian orang sangat mudah berjanji dan sering tidak menepatinya tanpa sedikitpun ada penyesalan. Lain di bibir lain di hati.
Di depan orang bertindak seperti orang baik, di belakang sering mengabaikan perintah agama. Gemar sekali bermaksiat, menipu, menggunjing, dan menebar berita yang tidak jelas kebenarannya. Termasuk tidak segan-segan memfitnah saudara sendiri jika dianggap menghambat perjalanan karir atau mengancam posisinya. Sementara itu, tradisi yang dibangun setiap hari dan malamnya hanyalah ke kafe, hotel, dugem, dan pesta-pesta tiada henti. “Semua itu demi masa depan,” dalihnya.
Padahal, mengacu pada sumber hadits Nabi, di akhirat nanti, setiap manusia harus melintasi yang namanya shirath (jembatan) yang menjadi penentu nasib setiap jiwa bisa masuk surga atau terjun ke neraka. Oleh karena itu, Ibn Athaillah sangat heran kepada tingkah laku kebanyakan manusia yang heboh mengejar dunia dan tertawa-tawa seolah telah peroleh kebahagiaan akhirat. Di depan manusia bertingkah laku baik, di belakang sering melupakan aturan Allah.
Melintasi Shirath
Dalam kitabnya Tajul Arus, Ibn Athaillah berkata, “Kau tertawa terbahak-bahak seakan-akan telah melewati jembatan (shirath) dan menyeberangi neraka. Jika kau tidak menjaga sikap wara’ kepada Allah yang bisa mencegah dari maksiat ketika sendiri, taburkan tanah ke atas kepala sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidak memiliki sikap wara’ yang bisa mencegahnya dari maksiat ketika sendiri, Allah sama sekali tidak akan memedulikan amalnya.” (HR. Al-Daylami).

Shirath sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi adalah jembatan di atas Jahannam. Dalam shahih Bukhari Muslim disebutkan, “Jembatan Jahannam dibentangkan dan aku yang pertama kali melewatinya. Doa para rasul ketika itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkan!’
Pada jembatan itu terdapat jangkar-jangkar seperti duri sa’dan. Tahukah kalian, apakah duri sa’dan itu? Para sahabat menjawab, ya.
Beliau melanjutkan, “Ia bagaikan duri sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Ia akan menarik manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka. ada yang selamat ada pula yang merangkak kemudian selamat.” (HR. Bukhari).
Jadi, satu hal yang mestinya menjadi perhatian setiap orang beriman adalah bagaimana kira-kira nasibnya di akhirat nanti, terutama ketika harus melewati shirath. Karena shirath ini adalah media penentu dari Allah seseorang masuk surga atau terjungkal ke dalam neraka.
Sungguh, kita tidak pernah bisa mengetahui, apalagi memastikan, apakah amal yang kita lakukan termasuk amal yang diterima, jiwa kita adalah jiwa yang takwa, atau justru masuk kelompok manusia yang celaka.
Oleh karena itu, kita patut bertanya dalam diri, sebagaimana Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata, “Aku takut ketika sebagian dosaku terlihat kemudian Allah berkata, ‘Dosamu tidak diampuni.”

Masa depan manusia yang harus menyeberangi shirath itulah yang kemudian mendorong Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis,” (HR. Bukhari).
Artinya, kita harus benar-benar mengimani hari akhir, dengan bersegera melakukan segala amal sholeh dan menjauhi perbuatan yang merusak. Berlomba-lomba menyiapkan bekal takwa menuju Allah agar kelak mendapat rahmat dari-Nya dan bisa menyeberang di atas shirath dengan selamat hingga ke surga.
Firman-Nya tentang Hari Esok

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59]: 20).
Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut menyebutkan riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad dari Al-Mundzir bin Jabir, yang secara inti memaparkan pengalaman Rasulullah melihat suku Mudhar yang sangat miskin, hingga tak beralas kaki dan tidak berpakaian.

Melihat hal tersebut, kemudian Rasulullah berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu (sampai akhir ayat). Lau beliau membaca ayat tersebut hingga tuntas, kemudian menambahkan, ‘…meskipun hanya dengan satu belah kurma.
Mendengar khutbah itu, seorang sahabat Anshar datang membawa satu kantong, hampir saja telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu. Lalu orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam berseri-seri bagaikan disepuh emas.

Maka, menurut Ibn Katsir hari esok itu atau masa depan itu hanya tepat jika kita persiapkan dengan banyak beramal sholeh, bersegera membantu saudara yang lain yang sangat berhajat terhadap kebutuhan hidup, walau hanya dengan separuh biji kurma. Kemudian menjauhi seluruh bentuk larangan-Nya.
Dengan demikian perbanyaklah intropeksi diri (muhasabah). Lihatlah apa yang telah kita tabung untuk akhirat kita sendiri utamanya ketika bertemu dengan Rabb kita semua. Jangan sampai kita lupakan hal yang sebenarnya tidak lama lagi akan kita jumpai dalam perjalanan panjang kehidupan akhirat.
Mulai sekarang, berhentilah bergantung pada harta, jabatan, dan kekuasaan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa iman, takwa dan amal sholeh. Justru siapapun kita, pada dasarnya sangat berpotensi mendapatkan masa depan yang baik bahkan sangat-sangat baik, asalkan, senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas takwa kepada-Nya dan banyak melakukan amal sholeh untuk kemaslahatan bersama.*/Imam Nawawi


Red: Cholis Akbar
www.hidayatullah.com

Maksimalkan Pendidikan Shalat Anakmu!

www.hidayatullah.com
Senin, 20 Mei 2013


Oleh: Abdullah al-Mustofa
“NANTI  kan shalat sendiri kalau sudah baligh, bu, ” jawab seorang ibu muda – sebut saja namanya Faizah - yang berprofesi sebagai seorang guru di Sekolah Dasar (SD) menjawab orangtuanya yang menasehati agar Faizah menyuruh dua anaknya yang berusia tujuh dan sepuluh tahun untuk segera melaksanakan shalat saat terdengar adzan Maghrib.
Setiap hari ketika dikumandangkan adzan Maghrib dan Isya’ anak-anaknya tetap asyik menatap layar TV dan atau menatap layar laptop untuk bermain game. TV tidak dimatikan, bahkan suaranya nyaring bersaing dengan suara adzan dari musholla yang letaknya berdekatan dengan rumah mereka. Faizah tidak menyuruh mereka untuk sekadar mengecilkan suara TV apalagi mematikan TV dan atau Laptop. Dia juga tidak melakukannya sendiri. Lebih dari itu, dia tidak menyuruh mereka shalat.
Faizah sendiri melakukan shalat, tapi lebih sering menunda-nunda hingga hampir habis waktunya. Selain karena tidur, juga karena asyik menonton acara-acara TV kesukaannya. Tak ketinggalan juga karena asyik bermain Facebook.
Suaminya, yang mengaku sebagai guru juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya terhadap anak-anak mereka. Lebih dari itu, setiap shalat lima waktu berjamaah di musholla dia pergi sendiri tidak mengajak anak-anaknya ikut.
   
Kadang ketika telah adzan Maghrib dan Isya’ dia menyuruh anak-anaknya mematikan TV dan segera shalat. Bahkan mengajak anak-anaknya shalat berjamaah bersamanya di rumah. Tapi mereka tidak segera melaksanakannya perintah.
Setiap waktu Subuh dia dan suaminya seringkali tidak membangunkan anak-anaknya untuk shalat. Lebih-lebih di hari libur,  anak-anaknya seharian berada di rumah untuk bercengkrama dengan acara TV sampai lupa shalat. Kegiatan ini berlangsung hingga bertahun-tahun hingga anak sulungnya mencapai umur baligh dan duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah.
Sekadar Memberi Teladan Tidaklah Cukup
Kedua orangtua dari anak-anak di atas telah memberi teladan dengan melaksanakan shalat terlebih dahulu. Namun memberi teladan tidaklah cukup, tapi juga harus diiringi dengan kata-kata verbal berupa perintah sejak anak berumur tujuh tahun, juga hukuman fisik sesuai dengan aturan menghukum anak yang diajarkan Nabi saw jika anak telah berumur sepuluh tahun dan tidak melaksanakan shalat.
Anak juga manusia yang cenderung lebih tertarik, mudah dan senang melakukan aktivitas-aktivitas yang memuaskan kesenangan duniawi daripada kesenangan ukhrawi. Untuk melakukan aktivitas kesenangan duniawi, tanpa didorong, disuruh dan dipaksa, siapapun mau, mampu, ringan dan senang melakukan. Sedangkan untuk melakukan aktivitas kesenangan ukhrowi siapapun termasuk anak cenderung berat dan malas.
Apalagi keadaan zaman modern sekarang ini yang tersedia begitu banyak jumlah dan jenis sarana pemuas kesenangan duniawi seperti TV dengan segala programnya, serta handphone, komputer, dan internet dengan segala kontennya yang menggoda siapapun apalagi anak sehingga lupa pada kewajiban-kewajibannya termasuk kewajiban agama seperti shalat. Oleh karena itu, agar anak mau dan terbiasa melakukan shalat anak perlu diperintah. Jika tidak diperintah alias dibiarkan atau diberi kebebasan dan pilihan, anak cenderung menuruti kehendak hatinya atau memilih melakukan kegiatan yang diinginkannya atau yang disenanginya.
“Suruhlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud)
Demikian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam  menyuruh anak shalat harus sudah dilakukan orangtua ketika anak mencapai umur tujuh tahun.
Menyuruh anak shalat tidak berhenti ketika anak memasuki umur delapan tahun. Pada prakteknya, meskipun hampir atau bahkan telah baligh bisa saja anak tetap harus disuruh shalat. Perbedaannya, jika telah mencapai umur sepuluh tahun dan tidak mau melaksanakan shalat, orangtua boleh menghukumnya

Hadits tersebut bisa menjadi pembenar bagi orangtua untuk memukul anak-anaknya yang telah berusia sepuluh tahun jika tidak melaksanakan shalat.
Tapi apakah memang dibenarkan dan diperbolehkan bagi orangtua untuk memukul anak jika tidak melaksanakan shalat? Memukul anak dalam pengertian ini pasti berbeda dengan memukulnya dua orang dewasa dalam sebuah perkelahian. Lebih tepatnya “memukul” di sini dimaksukkan sebagai sarana pendidikan dan shock terapy.
Meskipun menurut Islam orangtua diperbolehkan menghukum anaknya yang sudah berusia sepuluh tahun yang tidak melaksanakan shalat tapi pada zaman ini tidak setiap orangtua Muslim melaksanakannya.
Memberi Teladan dan Melatih Anak Sabar Mendirikan Shalat
Menyuruh anak sebagai anggota keluarga untuk melaksanakan shalat merupakan kewajiban bagi orangtua terutama ayah. Perintah Allah kepada orangtua untuk memerintah anaknya malaksanakan shalat tidaklah mudah, sederhana, sekadar memerintah dan membutuhkan waktu yang pendek. Di dalamnya tersirat banyak perintah lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan anak yang tidak sepi dari rintangan dan tantangan, serta membutuhkan waktu yang panjang. 

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa [20]:132)

Melalui ayat tersebut di atas, Allah selain memberi perintah kepada orangtua terutama ayah sebagai pemimpin rumah tangga untuk menyuruh anak-anaknya sebagai anggota keluarganya untuk mendirikan shalat, juga memerintah mereka berdua untuk bersabar dalam mendirikannya. Dengan menjalankan perintah bersabar mendirikan shalat, orangtua terutama ayah berarti telah memberi teladan kepada anak-anaknya. Keteladanan adalah faktor utama dan pertama penentu keberhasilan pendidikan. Dengan demikian tidaklah mengherankan, orangtua yang sabar mendirikan shalat mempunyai peluang lebih besar memiliki anak-anak yang sabar mendirikan shalat dibandingkan orangtua yang tidak sabar mendirikan shalat.

Menjadi tanggung jawab orangtua terutama ayah tidak cukup mencetak anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi penegak shalat, namun juga mencetak mereka menjadi pribadi-pribadi yang memiliki sifat sabar dalam mendirikan shalat dan sabar meninggalkan aktivitas dan urusan lain untuk mengutamakan shalat.  Untuk itu memberi nasehat, pengetahuan, keteladanan, pelatihan dan pengalaman adalah langkah-langkah yang tidak boleh diabaikan orangtua.  

Melakukan semua proses pendidikan shalat pada anak seperti yang telah disebutkan di atas merupakan upaya yang bisa dilakukan orangtua sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, serta tidak mempunyai daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala. Allah Maha Segalanya. Oleh karena itu orangtua mesti sering dan banyak memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar anak-anaknya menjadi penegak-penegak shalat yang sabar dalam mendirikannya dan dalam mengutamakan shalat daripada aktivitas lainnya.*
Penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia, pengelola Fanspage SBQ (Sukses Bersama Qur’an)

Red: Cholis Akbar

Perintah Shalat


REPUBLIKA.CO.ID. H Imam Nur Suharno MPdI

Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Nabi saw menerima perintah shalat dari Allah SWT secara langsung tanpa perantara malaikat.

Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata, Nabi saw bersabda, “Allah SWT mewajibkan shalat atas umatku 50 kali sehari semalam. Maka aku turun membawa perintah itu. Ketika sampai di hadapan Musa, ia bertanya kepadaku, “Apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk dilaksanakan umatmu?

Jawabku, “Allah SWT mewajibkan shalat 50 kali.” Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sangup melaksanakannya.Maka kembalilah aku kepada Tuhanku, lalu dikuranginya sebagian. Kemudian aku kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi seperdua.

Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sangup melaksanakannya.” Kembalilah aku kepada Tuhanku. Lalu Allah mengurangi pula seperdua. Sesudah itu aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa.

Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.” Maka kembali pula aku kepada Tuhanku. Kemudian Allah SWT berfirman, “Walaupun lima, namun lima puluh juga. Putusan-Ku tidak dapat dirubah lagi.”

Maka aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Jawabku, “Malu aku kepada Tuhanku.” (HR Bukhari).

Itulah prosesi penerimaan perintah shalat lima waktu yang diterima oleh Nabi SAW. Meskipun lima kali namun nilainya sama dengan 50 kali. Subhanallah. Hal ini menunjukkan sangat pentingnya ibadah shalat bagi kehidupan kaum Muslimin.

Shalat merupakan bentuk ungkapan penghambaan diri kepada Sang Khalik. Ia sebagai tali penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan demikian, jika Nabi saw melakukan mikraj untuk menerima perintah shalat, kini bagi kaum Muslim shalat sebagai sarana mikraj ke haribaan Allah SWT.

Oleh karena itu, dalam peringatan Isra dan Mi’raj Nabi saw kali ini hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi kualitas pelaksanaan shalat kita. Sehingga, shalat yang kita lakukan dapat mengubah diri menjadi lebih baik.
   
Selain itu, pelaksanaan shalat secara berkualitas dapat mensucikan diri dari sifat-sifat buruk. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut [29]: 45).
   
Rasululllah saw bersabda, ”Barangsiapa yang mendirikan shalat tetapi dirinya tidak terhindar dari perbuatan keji dan munkar, maka hakikatnya dia tidak melaksanakan shalat.” (HR Thabrani).
   
Hal ini terbukti dengan keadaan orang-orang munafik. Meskipun mereka shalat bersama Nabi saw, namun mereka justru menjadi penghuni neraka yang paling bawah.

Karena shalat yang dilakukan bermaksud untuk riya. Seakan-akan mereka mendirikan shalat dengan penuh khusyuk, namun sejatinya mereka tidak shalat. (QS An-Nisa [4]: 142-143).
   
Marilah pada peringatan Isra dan Mi’raj Nabi saw kali ini jangan sebatas rutinitas, tapi jadikan sebagai sarana untuk terus memperbaiki kualitas shalat kita, agar perubahan ke arah yang lebih baik dapat terwujud. Semoga.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

Thursday, 16 May 2013

Apakah Peristiwa Mi'raj Nabi SAW Tertulis di Dalam Al-Qur'an?


Assalamu’alaykum Wr. Wb.
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam ajaran agama Islam.
Dalam permulaan surat Al-Isra’ diterangkan secara singkat mengenai peristiwa Isra’ Nabi Muhammad SAW; yakni perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa’.
Namun pertanyaan saya, apakah peristiwa Mi’raj juga diterangkan atau tertulis pula di dalam Al-Qur’an? Pada isi surat apa dan ayat ke berapa?
Demikian pertanyaan saya, dan terima kasih.
Wassalam
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Meskipun peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dilakukan dalam satu paket perjalanan dan dilaksanakan di malam yang sama, namun penyebutannya di dalam Al-Quran ternyata diletakkan di dua ayat yang berbeda. Bukan hanya beda ayatnya tetapi juga berbeda suratnya.
Namun yang pasti, baik peristiwa Isra’ maupun peristiwa Mi’raj, keduanya memang disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem. Dan tidak benar kalau dikatakan bahwa mi’rajnya nabi Muhammad SAW tidak disebutkan di dalam Al-Quran.

Masalahnya orang sering terkecoh dengan ayat pertama surat Bani Israil atau surat Al-Isra’, di mana memang hanya disebutkan tentang isra’ saja. Sedangkan mi’raj, yaitu perjalanan naik ke langit tujuh hingga ke sidratil muntaha (the final frontier), tidak disebut-sebut di dalam ayat itu secara tegas.
Ternyata, kisah tentang bagaimana Rasulullah SAW naik ke langit hingga ke sidratil muntaha disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu surat An-Najm (bintang), ayat 13 sampai ayat 18.
Silahkan ambil mushaf dan bukalah surat dengan nomor urut 53, nama suratnya An-Najm yang berarti bintang.

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 13-18)

Umumnya para ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat inilah yang menyebutkan dengan tegas peristiwa mi’raj nabi Muhammad SAW. Beliau sampai ke sidratil muntaha dan melihat wujud malaiakat Jibril dalam keadaan aslinya.
Memang ayat ini tidak secara tegas menyebut kata mi’raj, karena itu orang awam yang membaca Al-Quran sambil lalu, apalagi yang tidak tahu artinya, jelas akan membaca begitu saja.
Tapi mereka yang sering membuka kitab tafsir, biasanya akan segera tahu. Karena kitab tafsir itu memang kitab yang dikhususkan untuk menjelaskan tiap potong ayat Al-Quran. Maka tidak ada informasi sekecil apapun di dalam Al-Quran, kecuali dijelaskan di dalam kitab tafsir.
Maka berbahagialah mereka yang melek huruf arab dan mampu membaca dalam bahasa arab. Karena kitab-kitab tafsir umumnya disusun dalam bahasa arab, bahasa resmi umat Islam sedunia sejak masa Nabi SAW sampai hari kiamat nanti.

Kalau masih ada kalangan muslim, apalagi ustadz, da’i, penceramah, tokoh Islam, tapi belum menguasai bahasa arab, sungguh kasihan kita melihat mereka. Karena kunci ilmu agama tidak di tangan mereka, maka informasi yang mereka miliki sangat terbatas, paling banter dari buku terjemahan.
Padahal nyaris hampir semua kitab yang penting dalam agama ini, baik tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, akhlaq, sirah dan seterusnya, semua ada di internet, bisa didowload dengan gratis, sampai hardisk cadangan kita penuh semua, buku berbahasa arab masih berlimpah.
Jadi, secepatnya saja belajar bahasa arab, mumpung dunia belum kiamat.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
www.eramuslim.com