Monday, 3 June 2013

Isa As In Action


Rasulullah SAW. Menggambarkan ciri ciri Isa As adalah sangat bagus, indah dan berwibawa . Wajahnya putih kemerah merahan.Jika menundukkan  kepala, seperti air yang menetes, jika mendongakkan wajah, laksana mutiara.

Diriwayatkan oleh An Nuwas bin Sam’an , rasulullah SAW , bersabda , : “Allah menurunkan Isa as di atas menara putih, sebelah timur  Damaskus antara dua malaikat yang berpakaian hijau dan memakai minyak za’faran seraya meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat.  Jika dia menundukkan kepala, seperti air yang menetes  dan jika mendongakkan kepala, laksana mutiara” (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Aqil bin Khalid ra, bahwa Rasulullah SAW  menjelaskan saat saat turunnya Isa as, “ Kulitnya putih, rambutnya keriting, dan dadanya bidang” dalam riwayat lain dijelaskan,” Kulitnya lebih indah  daripada kulit laki laki yang pernah kamu lihat. Rambutnya lebat dan bersih.” (HR Bukhari)

Tugas pertama yang harus dilakukan Isa as adalah membunuh Dajjal. Dajjal adalah masalah yang sangat besar, mengerikan, dan berbahaya. Oleh karena itu, tugas membunuh Dajjal adalah awal tugasnya, harus dilakukan secepatnya, tanpa ditunda tunda.

Kemudian, Isa as menghancurkan semua salib yang ada di dunia, untuk membatalkan klaim orang nasrani dan mengungkapkan kebenaran Ilahi bahwa sebenarnya dia tidak disalib sebagaimana mereka sangka. Kemudian nabi Isa as akan membunuh semua babi yang sangat diharamkan Allah Swt. Setelah itu Isa as akan menghapuskan Jizyah (pajak) bagi siapapun. Dalam Islam pajak hanya diberlakukan bagi agama bukan Islam dengan tujuan untuk melindungi umat beragama lain itu yang tinggal di negeri Muslim.
Hal itu ditunjukkan dengan turunnya nabi isa as  ke dunia untuk mematahkan setiap gerakan yang berupaya  menghancurkan agama Islam.

Isa as tidak mentolerin siapa pun untuk hidup di dunia ini jika bukan seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya. Tugas Isa as yang diamanatkan oleh Allah SWT adalah menghabisi setiap orang yang tidak beriman kepadaNya sehingga yang Berjaya hanyalah agama yang benar , yaitu Islam.
صحيح البخاري ٣١٩٢: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
{ وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا }

Dikisahkan dalam Shahih Bukhari : Telah bercerita kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ya’qub binIbrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab bahwa Sa’id bin Al Musayyab mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam besabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, diprediksikan segera turun kepada kalian ‘Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta benda akan banyak tersebar sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerima (shadaqah) hingga pada masa itu satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan isinya”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; “Bacalah firman Allah jika kamu mau;

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا

 “Tidak ada seorang pun di antara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari kiamat, dia (Isa) akan menjadi saksi mereka.” (An-Nisa`: 159)
Dalam riwayat lain di shahih Muslim,   Abu Hurairah berkata , Rasulullah SAW bersabda, “ Demi Allah, isa putra Maryam benar benar akan turun menjadi penguasa yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah (pajak). Unta betina yang masih muda benar benar dilepaskan dan tidak dikembangbiakan orang lagi. Isa benar benar akan menghilangkan permusuhan, kebencian dan kedengkian. Manusia benar benar diimbau untuk mengambil harta, tetapi tidak ada yang mau menerima harta.” (HR Muslim)
Sumber : Asyrath As Sa’ah Al Alamat Al Khubra – Mahir Ash Shufiy-
www.eramuslim.com

Manusia Terakhir yang Berada di Muka Bumi adalah Manusia Terburuk

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa manusia yang akan mengalami kiamat adalah manusia terkutuk karena mereka menyembah berhala, menyekutukan Allah, dan ingkar terhadap nikmat nikmat Allah. Mereka tidak lagi mencegah kemungkaran, gemar berbuat dosa, tidak mengerjakan sesuatu kecuali yang membuat Allah murka, dan senantiasa meremehkan perbuatan dosa dosa tersebut.

Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa orang orang yang akan mengalami kiamat adalah orang orang yang paling jahat, sesat, dan kufur, dan mereka yang lebih layak dimasukkan ke neraka pada hari kiamat kelak.
صحيح مسلم ١٦٨: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ وَأَبُو عَلْقَمَةَ الْفَرْوِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلْمَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ رِيحًا مِنْ الْيَمَنِ أَلْيَنَ مِنْ الْحَرِيرِ فَلَا تَدَعُ أَحَدًا فِي قَلْبِهِ قَالَ أَبُو عَلْقَمَةَ مِثْقَالُ حَبَّةٍ و قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah adl-Dlabbi telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dan Abu Alqamah al-Farwi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Sulaim dari Abdullah bin Salman dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menghembuskan angin yang sangat lembut, selembut sutera dari arah Yaman, ia tidak akan melewati seseorang yang di dalam hatinya terdapat -Abu Alqamah berkata- seberat biji-bijian, -sedangkan Abdul Aziz berkata; seberat biji sawi- dari keimanan kecuali Allah akan mewafatkannya.” (Shahih Muslim)

Dalam hadis lain, Diriwayatkan dari An Nuwwas bin Sam’an ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ,” Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba tiba Allah mengutus angin sejuk yang mencabut setiap jiwa manusia yang memiliki keimanan dan tinggallah manusia kufur dan jahat. Maka, kiamat pun datang menghantam mereka.” (HR Ahmad dalam musnadnya dan Muslim dalam Shahihnya)

Mereka itu disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai generasi manusia terburuk di sisi Allah. Mereka lebih rendah dari binatang sekalipun. Allah telah memberikan anugerah yang banyak kepada mereka hingga mereka hidup berkecukupan, tetapi kemapanan dalam kehidupan itu tidak membuat mereka bersyukur. Mereka mengingkari kenikmatan kenikmatan tersebut dengan banyak melakukan maksiat dan kekufuran.
Allah SWT berfirman ‘
2:15
…dan membiarkan mereka terombang ambing dalam kesesatan (QS Albaqarah 15)
Yang dimaksud Allah dalam ayat di atas adalah manusia yang mengalami kedatangan hari kiamat.
Allah SWT berfirman,
19:75

Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang waktu baginya, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik azab maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya” (QS Maryam 75)
Mereka itu orang orang yang akan mengalami kiamat, yaitu orang orang yang hidup serba berkecukupan dengan rezeki yang melimpah ruah, Allah berfirman ,
18:103
18:104

Katakanlah (Muhammad) , “ Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” Yaitu orang yang sia sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik baiknya (QS Al Kahfi 103 -104)
Rasulullah menjelaskan keadaan mereka, orang orang yang digiring oleh api ke tanah Masyar di Negara Syam – dan bagaimana kehidupan mereka sebelum kiamat datang. Setelah mencabut nyawa semua orang yang beriman, Allah menganugerahkan nikmat yang melimpah ruah kepada mereka sehingga mereka hidup tanpa kekurangan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Kemudian Allah melepaskan angin dingin yang berhembus dari Syam. Maka tidak ada seorang pun dari manusia yang beriman kecuali dicabut nyawanya sehingga yang tersisa hanya manusia jahat yang tidak memiliki keimanan. Mereka tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk hingga setan muncul dan berkata, “Mengapa kamu tidak memenuhi seruanku saja?” mereka menjawab,” Apa yang kamu perintahkan kepada kami?” Setan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah berhala. Maka merekapun mengikuti saran tersebut. Sedangkan, mereka berada dalam kehidupan yang serba kecukupan, kemudian hari kiamat pun datang.” (HR Muslim dan HR Ahmad)

Dari hadis di atas, dapat diketahui sifat sifat orang yang mengalami kiamat, bagaimana Allah memberikan kenikmatan yang melimpah ruah kepada mereka, dan orang orang beriman semuanya dimatikan, meskipun kadar keimanannya hanya sedikit. Hal tersebut merupakan keagungan rahmat dan anugerah Allah bagi mereka. Dari hadis di atas, juga dapat diketahui tentang kiamat yang menghancurkan langit, bumi, bintang bintang, runtuhnya gunung gunung, tumpahnya air laut dan sungai serta berbagai pandangan yang mengerikan lainnya. Selain itu , hadits tersebut menyebutkan bahwa hanya orang orang jahat-orang yang mencampur adukkan keimana, kekufuran, dan kemusrikan yang akan mengalami kiamat. Wallahu Alam

Sumber : Al Hasyr wa Qiyam As Sa’ah – Mahir Ash Shufiy
www.eramuslim.com

Sunday, 2 June 2013

Mesra dengan Pasangan: Ya Mandi Bersama, Ya Ibadah Bersama!

Jum'at, 31 Mei 2013


TIDAK BANYAK yang mengupas atau setidaknya mengingatkan kita, mengapa pernikahan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallahu Anha bertahan lama, mesra, penuh kenangan dan kebahagiaan. Bahkan, karena begitu indahnya pernikahan tersebut, Rasulullah tak sanggup melupakan kenangannya bersama Khadijah meski telah didampingi Aisyah yang cantik jelita.
Hal tersebut menunjukkan bahwa, kekuatan cinta bukan terletak pada fisik atau atribut keduniawian. Kekuatan cinta itu hanya ada di dalam hati, lebih-lebih yang dilandasi iman dan ketakwaan. Itulah yang dimiliki Rasulullah dan Khadijah. Jauh sebelum menjadi Nabi, keluarga bahagia ini sudah memiliki tradisi saling percaya, saling menghormati, dan saling menjaga.

Saling memahami, juga menjadi kunci kesuksesan keluarga bahagia ini. Kita bisa saksikan betapa Khadijah tidak pernah keberatan melihat suaminya bolak-balik antara rumah dan Gua Hira. Malah Khadijah mendukung sepenuh hati, melayani kebutuhan suami bahkan tak pernah terlambat memberikan bekal sebelum meninggalkan rumah.
Tidak berhenti di situ. Tatkala datang keraguan pada diri Rasulullah, Khadijah bersegera memotivasi suaminya dengan ungkapan yang indah, mesra, dan penuh ketulusan, hingga mampu membangkitkan semangat Rasulullah untuk terus yakin dengan usahanya untuk menemukan solusi bagi kehidupan umat manusia.
Kesetiaan dan pelayanan yang begitu istimewa itu, menjadikan Rasulullah tak enggan untuk bersikap seperti anak manja di hadapan istrinya. Pernah suatu kali Rasulullah pulang dengan perasaan bingung dan takut, begitu sampai di rumah dengan tubuh bergetar beliau langsung berkata, “Wahai istriku, selimutilah aku, selimutilah aku”. Wah, betapa indahnya keluarga ini.

Dengan penuh kelembutan, Sayyidah Khadijah pun menyelimuti suaminya seraya membisikkan kata-kata indah yang meneguhkan hatinya. “Wahai suamiku, engkau adalah orang yang lurus, engkau orang yang suka menyambung tali persaudaraan, tidak mungkin engkau didatangi setan. Saya yakin, engkau pasti seorang Nabi, utusan Allah untuk umat akhir zaman. Berbahagialah wahai suamiku, aku akan selalu di sampingmu, menemanimu mengarungi perjuangan ini”.

Tulus Mencintai dan Saling Memotivasi

Tulus mencintai dan saling memotivasi ini sangat penting bagi sebuah rumah tangga. Tanpa itu, kekuatan iman akan terganggu dan ketajaman visi akan tumpul. Setidaknya hal itulah yang dapat kita saksikan pada kisah rumah tangga Nabi Ibrahim Alayhissalam dengan Sayyidah Hajar.
Nabi Ibrahim benar-benar melihat Hajar sebagai media yang dapat meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah. Untuk itu, Nabi Ibrahim senantiasa mendidik istrinya itu untuk iman dan takwa kepada Allah. Karena hanya dengan cara seperti itu, anak-anak yang lahir nanti akan mengikuti spirit dari sang ibu.
Sayyidah Hajar pun demikian. Ia menerima setulus hati apa yang disampaikan sang suami. Mengikuti segala perintah dan larangannya, termasuk mematuhi segala hal yang memberatkan hati. Tapi karena iman telah dominan, Hajar tetap tegar meski harus menghadapi tantangan kehidupan yang sangat menantang dan menggetarkan hati.
Hasilnya jelas. Kekuatan cinta dan motivasi antara keduanya, menjadikan Ismail, putra semata wayangnya tumbuh menjadi anak yang sholeh, sabar dan membahagiakan. Jadi, kunci kebahagiaan rumah tangga, ada pada kekuatan hati yang selalu tulus mencintai dan ikhlas memotivasi.

Cerdas Bergaul dengan Pasangan
Kemesraan, mungkin juga romantisme adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Maka dari itu Islam juga mengatur masalah ini, tentu dengan bahasa yang perlu dimaknai sesuai dengan frekuensi cinta sepasang suami istri sendiri, yang sangat menentukan kualitas interaksi atau pergaulan dalam keluarga.
Menurut Imam Ghazali dalam kitab monumentalnya Ihya Ulumuddin disebutkan bahwa seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan baik (penuh kelembutan, kemesraan, kecintaan dan ketulusan kasih sayang) dan bijaksana. Selain itu, seorang suami juga harus memiliki strategi yang baik dalam mengatur, mengajar, membagi dan membimbing istri yang mungkin masih perlu pembinaan lebih.
Sementara itu, seorang istri wajib taat (siap melayani suami seikhlas hati dengan rasa penuh antusiasme dalam segala kondisi) kepada suaminya. Mengasihi suami dengan penuh kasih sayang, memelihara hartanya, dan bersikap ramah terhadap kerabat suaminya.
Artinya, semua ini adalah bukti betapa Islam sangat memperhatikan aspek dasar manusia yang sangat berkebutuhan terhadap kemesraan dengan pasangan. Istri wajib taat kepada suami, dan suami wajib memperlakukan istrinya bak ratu dunia yang tiada duanya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana bersama istri-istrinya.Rasulullah juga mengajarkan kita untuk memperlakukan istri dengan istimewa. Hal itu ditunjukan ketika Nabi ketika beliau tidak sungkan mandi dari sisa air istrinya.

Dari Ibnu Abbas, “Bahwa Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah." (HR Muslim).
Nabi juga dikenal memanjakan wanita (istri-istrinya). Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)
Sepiring berdua, gurauan dan ciuman Rasulullah membiasakan mencium istri ketika hendak bepergian atau baru pulang.

Dari ‘Aisyah radhiallahu anhu, "bahwa Nabi SAW biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.” (HR ‘Abdurrazaq)

Dari Imam Al-Bukhari meriwayatkan: ُﻞِﺴَﺘْﻏَﺃ ُﺖْﻨُﻛ ْﺖَﻟﺎَﻗ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍَﻭ ﺎَﻧَﺃ ُﻒِﻠَﺘْﺨَﺗ ٍﺪِﺣﺍَﻭ ٍﺀﺎَﻧِﺇ ْﻦِﻣ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪﻴِﻓ ﺎَﻨﻳِﺪْﻳَﺃ Artinya: Daripada Aisyah Ra berkata; “Aku sentiasa mandi bersama dengan Nabi daripada satu bekas. tangan kami sama-sama berselisih (ketika menggunakan air dalam bekas itu).” (Sahih Al-Bukhari : hadis no : 253).

Tidak saja dianjurkan mandi bersama, tetapi selalu bersama-sama membaca al-Qur’an, tahajjud bersama, puasa bersama, buka dan sahur bersama dan sebagainya. Tidakkah kita sangat mendambakan hal ini?
Sekiranya hal ini dipahami dengan baik, tentu tak satu pun orang mau berpacaran, karena kemesraan tanpa pernikahan hakikatnya hanyalah kepalsuan.*/Imam Nawawi

Red: Cholis Akbar
www.hidayatullah.com

10 Teman Iblis



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri

Dalam riwayat Imam Bukhari, diceritakan, suatu saat ketika sedang duduk, Rasulullah saw didatangi seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya Iblis.”

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatangannya. Iblis menceritakan kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari Rasulullah saw.

Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal. Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada 10 kelompok.

Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan tidak semestinya.

Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum, seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka menjadi hakim dalam keluarganya.

Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang membutuhkan.
Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun.

Ketiga, taajirun kha’in (pedagang yang berkhianat). Ia melakukan penipuan, baik dalam hal kualitas barang yang diperdagangkan, maupun mengurangi timbangan.

Bila membeli sesuatu, dia selalu meminta ditambah, namun saat menjualnya dia melakukan kecurangan dengan menguranginya.

Disamping itu, ia menimbun barang. Membeli di saat murah, dan menjualnya di saat harga melambung tinggi. Dengan begitu, dia memperoleh untung besar.
Demikian juga pada pengerjaan proyek tertentu, ia membeli barang dengan kualitas rendah untuk meraih keuntungan berlipat (mark up).

Kelompok keempat yang menjadi teman Iblis adalah syaaribu al-khamr (orang yang meminum khamar). Minuman apapun yang memabukkan, ia termasuk khamar. Misalnya arak, wine, wisky, atau minuman yang sejenisnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, peminum khamar (pemabuk) dikatakan tidak beriman, jika dia meninggal nanti masih terdapat khamar dalam tubuhnya.

Yang kelima, al-fattaan (tukang fitnah). Fitnah lebih berbahaya dari pada pembunuhan (al-fitnatu asyaddu min al-qatl). Lihat QS al-Baqarah [2]: 191.

Membunuh adalah menghilangkan nyawa lebih cepat, namun fitnah ‘membunuh’ seseorang secara pelan-pelan. Fitnah ini bisa pula ‘pembunuhan’ karakter seseorang.

Fitnah itu di antaranya, mengungkap aib seseorang yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, gosip, ghibah, dan lainnya.

Keenam adalah shaahibu ar-riya` (orang yang suka memamerkan diri). Mereka selalu ingin menunjukkan kehebatan dirinya, menunjukkan amalnya, kekayaannya, dan lainnya. Semuanya itu demi mendapatkan pujian.

Ketujuh, //aakilu maal al-yatiim// (orang yang memakan harta anak yatim). Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat QS al-Ma`un [107]: 1-7.

Kedelapan, al-mutahaawinu bi al-shalah (orang yang meringankan shalat). Mereka memahami perintah shalat adalah kewajiban, namun dengan berbagai alasan, akhirnya shalat pun ditinggalkan. Allah juga mengancam Muslim yang melalaikan shalat.

Kesembilan, maani’u az-zakaah (orang yang enggan membayar zakat). Mereka merasa berat untuk mengeluarkan zakat, walaupun tujuan zakat untuk membersihkan diri dan hartanya.

Teman Iblis yang ke-10 adalah man yuthiilu al-amal (panjang angan-angan). Enggan berbuat, namun selalu menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa berandai-andai, tapi tak pernah melakukan hal itu. Wallahu a’lam.



Redaktur : Damanhuri Zuhri

Lima Tiket Menuju Surga, Anda Berminat?


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini
(Penulis Buku “Keadilan Tuhan dalam Tulisan”)


Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur.

Surga merupakan tempat di akhirat yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman. Kehidupan surga penuh keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Masyarakat dalam surga mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan di dunia. “Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya” (QS Al-Furqan: 24).

Masyarakat surga mengenakan pakaian berwarna hijau, terbuat dari sutra halus dan tebal (QS Al-Kahfi: 31). Perhiasan mereka berupa gelang-gelang emas dan mutiara (QS Al-Haj: 23). Mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah (QS Ar-Rahman: 74-76).

Bahkan, menurut keterangan Rasulullah yang dituturkan Muslim, masyarakat surga tidak buang air kecil maupun air besar. Tidak meludah dan beringus. Keringat mereka berupa minyak kesturi. Mereka selalu muda, bersih, halus, tidak berambut kecuali pada kepala dan bulu mata. Tinggi badan mereka setinggi Nabi Adam, yakni 60 hasta dan seusia Nabi Isa, yakni 33 tahun.

Mereka memperoleh segala yang diinginkan (QS Al-Furqan: 16). Tidak berduka, lelah, apalagi lesu (QS Fathir: 34-35). Setiap hari selalu riang gembira (QS Yasin: 56-57). Karena dikelilingi anak-anak muda yang siap melayani. Wajah mereka bagai mutiara tersimpan (QS At-Thur: 24). Juga disediakan pendamping yang lebih sempurna dari pendamping mereka di dunia. Para pria beristrikan bidadari-bidadari cantik dan bermata indah (QS At-Thur: 20). Rumah tangga mereka selalu rukun dan memuji Allah sepanjang pagi dan petang.

Fasilitas dalam surga juga serba lengkap dan istimewa. Piring-piring terbuat dari emas (QS Az-Zukhruf: 71), bejana dan gelas dari perak (QS Al-Insan: 15-16). Ada pohon bidara tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya (QS Al-Waqiah: 27-34), kebun-kebun dan buah anggur (QS An-Naba’: 31-34).

Semua buah-buahan itu mudah dipetik (QS Al-Insan: 4). Juga ada minuman jahe (QS Al-Insan: 17), aneka daging yang lezat (QS At-Thur: 22), minuman keras yang tidak memabukkan (QS As-Shaffat: 45-47), dan sungai susu, madu, arak, serta bermacam buah-buahan lain (QS Muhammad: 15).

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur. Berikut lima kebaikan untuk mendapatkan tiket itu. Pertama, mencegah diri dari kemaksiatan.

Sepele, tetapi dalam praktiknya sangat tidak mudah. Sering kita mampu melanggengkan ibadah, tetapi gagal menanggalkan kemaksiatan. Boleh dikata, tidak bermaksiat rasanya lebih berat ketimbang taat. Karena itu, Allah berfirman, “Dan menahan diri dari dorongan nafsu, maka sungguh surga tempat tinggalnya” (QS An-Naziat: 40-41).

Kedua, siap hidup sederhana. Kelemahan utama manusia adalah mudah tergiur oleh kesenangan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi. Melihat kekayaan Qarun, orang-orang yang gila harta berseru, “Amboi, andai kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh ia mempunyai keuntungan yang besar (QS Al-Qashash: 79). Padahal Rasulullah berkisah, “Saya berdiri di pintu surga, sebagian besar yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang kaya ditahan dulu” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, gemar mengerjakan ketaatan kepada Allah. Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. “Sungguh Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Maidah: 1). Islam disebut sebagai ‘din’, yang artinya sistem ketundukan atau kepatuhan. Masyarakatnya disebut ‘madinah’, artinya suatu tempat yang kehidupannya teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh kepada aturan. Mereka diganjar oleh Allah dengan surga. “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena amal yang dahulu kamu kerjakan” (QS Al-A’raf: 43).

Keempat, mencintai orang-orang saleh. Dunia ini hancur karena adanya orang-orang jahat yang merasa berbuat baik. Hatinya bukan lagi nurani tetapi sudah zulmani. Rugilah bergaul dengan orang-orang demikian. Orang-orang saleh akan memberikan syafaat kepada kita. Tepatlah pesan Rasulullah, “Jangan kamu bersahabat, kecuali dengan orang Mukmin dan jangan pula makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa” (HR Tirmidzi). Pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh, kata Rasulullah, karena setiap orang akan bersama dengan kekasihnya (HR Bukhari dan Muslim).

Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar dapat menutup hidup dengan khusnul khatimah. Tiada daya tanpa pertolongan Allah. Memperbanyak doa merupakan wujud pengakuan bahwa kita memang hamba yang serba lemah. Sepanjang berkenan melangitkan doa, niscaya Allah akan menjawabnya. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Redaktur : Heri Ruslan

Embriologi Menurut Quran dan Sunnah Bagian ke 2


Oleh : Khaerul Amri H

Allah Swt telah mengaruniakan `Bukti-Bukti Nyata` kepada setiap Utusan dari para Rasul-Nya, sebagai peneguh Risalah yang dibawanya dalam memikul beban Dakwah dan menyeru kepada ummat manusia menuju penyembahan Allah Swt semata.
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…..
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata….(Al-Hadiid: 25)

Para Ulama menamakan `Bukti-Bukti Nyata` itu dengan istilah `Mukjizat`, dan sudan menjadi sunnahtullah bahwa Mukjizat-mukjizat yang dikaruniakan pada setiap Rasul harus sesuai dengan kondisi ummat yang diserukan, sesuai dangan wawasan dan pemikiran mereka agar memberi pengaruh kuat dalam mengajak mereka ke jalan yang benar. Seperti pada Zaman Firaun, ketika kaum paganis Mesir Kuno dahulu sangat mengagungkan kekuatan Sihir, maka dengan Mukjizat-Mukjizat nyata Nabi Musa A.s dapat mengalahkan Ilusi-ilusi para penyihir untuk membebaskan Bani Israel dari cengkraman Firaun, dan tatkala Nabi akhir zaman Muhammad Saw diurus untuk seluruh Manusia, Allah Swt mengaruniakannya dengan beraneka ragam Mukjizat yang sesuai dengan Kondisi, wawasan dan pemikiran Ummat manusia dari setiap generasi-generasi hingga hari Kiamat. Seperti Pada zaman Arab Jahiliah, ketika kefasihan tutur kata tertuang dalam bait-bait Syair yang sangat dibanggakan oleh bangsa Arab, maka Al-Quran tampil dengan gaya literatur yang karismatik dan tak tertandingi yang seketika melumpuhkan lidah-lidah para pujangga besar Arab dalam menentang dan mengingkari keajaiban kesastraan Mukjizat Nabi Muhammad Saw. Tidak berhenti sampai di sini, setelah Beliau wafat bukti-bukti kebenarannya masih terus bermunculan dari generasi ke generasi, betapa banyak kejadian yang membuktikan kebenaran Nubuwat-Nubuwat Baginda Rasulullah ?, Bukti kebenaran tersebut akan terus bermunculan bahkan pada era modern saat ini, ketika kejayaan sains melahirkan teknologi dan penemuan-penemuan yang menakjubkan Allah Swt kembali memperlihatkan kebesaran-Nya lewat Mukjizat Nabi Akhir Zaman ini yang terdapat dalam Al-Quran dan As-sunnah.

Diantara Mukjizat paling spektakuler yang menyikap keterlambatan Ilmu pengetahuan dan banyak mengislamkan para Ilmuwan Besar (1) adalah Mukjizat tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia dalam janin (Embriologi) yang akan kita ketahui dalam beberapa bagian tulisan  InsyaAllah.

Ketika berbicara tentang Embriologi dalam prespektif  Al-Quran dan As-Sunnah terdapat beberapa fase atau tahapan dasar yang akan dilalui embrio sebelum berevolusi menjadi manusia,  Mengenai tahapan evolusi embrio Allah Swt berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah  (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (14)( Al-Muminun: 12-14)

Dari ayat ini, Fase penciptaan Manusia terbagi dalam beberapa tahapan yaitu: Fase pertama: sperma (Air mani), Fase kedua: Segumpal darah dan daging, Fase ketiga: pembentukan tulang belulang dan pembungkusan (dengan) daging, Fase Keempat: pembentukan Manusia.

Fase Pertama-Sperma
Di antara permasalahan yang sukar nan kompleks sepanjang perjalanan sejarah embriologi adalah Penemuan mengenai urutan dan tahapan-tahapan pembentukan Embrio, dianggap rumit dikarenakan keterbatasan sarana dalam meneliti eksistensi embrio yang berukuran sangat kecil terkhusus pada  minggu-minggu pertama kehamilan, hingga ditemukannya Mikroskop pada abad ke tujuh belas yang mendorong para Ilmuwan untuk menyimpulkan bahwa sel sperma pada lelaki dan sel telur pada perempuan memiliki peranan mendasar dalam pembentukan embrio.

Namun pada hakekatnya, Al-Quran ( yang kembali ke abad ketujuh silam) adalah referensi pertama yang menjelaskan secara detail tahapan-tahapan eksternal embrio, dan proses-proses internal penting yang terjadi dalam setiap tahapannya. Dengan pengistilahan Komprehensif  yang sangat fleksibel Al-Quran telah menguraikan fakta Ilmiah tersebut.

Ada pun Fase pertama yang akan kita bahas pada bagian tulisan kali ini adalah Tahapan Sperma (air mani) atau Spermatozoid (النطفة  )

Definisi istilah
Kata نطفة Sperma dalam bahasa Arab dapat diartikan dalam beberapa makna, diantaranya: Sedikit atau setetes air. Dan Ibnu Manzur menafsirkan bahwa: Sperma disamakan dengan setetes air (2)
Sepeti yang diisyaratkan dalam Hadist riwayat Imam ahmad dari Abdullah bin Masud ra bahwa: seorang yahudi pernah berlalu sementara Rasulullah Saw tengah berbincang dengan para sahabatnya, lalu berkatalah Kafir Qurais kepadanya: “Wahai Yahudi, sesungguhnya orang ini (Nabi Muhammad) mengaku dirinya sebagai Nabi”, Yahudi berkata: “akan kutanyakan kepadanya tentang sesuatu yang tidak diketahui kecuali para Nabi”, maka ia pun datang dan duduk di hadapan Beliau kemudian bertanya: “ wahai Muahmmad, dari manakah Manusia diciptakan?, Rasulullah Saw menjawab: “Wahai yahudi,(diciptakan) dari setiap Air mani Laki-laki dan Perempuan”  (3)
Dari hadist ini dapat dikatakan bahwa istilah air mani mencangkup Sel sperma dan Ovum, yang akan berakhir pada proses implantasi (penanaman) dan ada pun prose-proses yang akan dilalui sperma sebagai berikut:

1. Air yang terpancarkan  ( ماء دافق )
Sperma pada Pria keluar dengan terpancarkan, seperi yang diisyaratkan dalam Al-Quran:
فَلْيَنظُرْ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ(5)خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ(6)
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? (5) Dia diciptakan dari air yang dipancarkan (6) (Ath Thariq: 5-6)
Yang perlu diperhatikan dari ayat ini bahwa kata `Pancar` disandingkan dengan `Air` yang menunjukkan makna: sifat pancaran yang kuat pada Air (4)
Di era Modern kini, ilmu pengetahuan menemukankan bahwa sel-sel sperma yang terdapat pada air mani pria harus berkriteria organisme yang aktif dan bergerak memancar, karena hal itu merupakan syarat terpenuhinya proses inseminasi (pembuahan). Juga ilmu pengetahuan berkesimpulan bahwa Air mani perempuan yang mengandung Ovum (sel telur) bergerak memancar sewaktu keluar menuju saluran rahim (Tuba Fallopi) dan karakteristik Ovum harus berjenis organism aktif dan bergerak merambat untuk mencapai proses pembuahan.
Maka makna dari `Air yang dipancarkan` yang dijelaskan dalam Al-Quran telah mewakili sifat cairan dari sperma dan Ovum sebelum proses pembuhan.

2embrio2Gambar 1: sperma atau Air Mani yang diperbesar 450 kali, setiap sel sperma memiliki kepala berbentuk Oval dengan sedikit menonjol, dengan tubuh pendek dan ekor bergerak membantu membawanya mencapai tempat pembuahan.


2embrio3Gambar 2: Ovum yang diperbesar (100) kali, proses penarikan sel telur ke bagian dalam saluran. Nilsson et al, A Child is Born, New York, Delacorte Press, 1982

2. Saripati ( سلالة )
Lafaz سلالة  Saripati dalam bahas Arab digunakan dalam beberapa makna, diantaranya:
Sesuatu yang tercabut atau terlepas secara perlahan-lahan (5)
Juga bisa bermakna: ikan panjang (6)
Salah satu Ahli tafsir mengatakan bahwa Kata المهين (yang hina) yang dimaksud dalam Ayat adalah cairan lelaki (7)
ketika kita memperhatikan dengan seksama bentuk sel-sel Sperma maka bisa kita simpulkan bahwa sel Sperma adalah: Saripati yang berasal dari sperma laki-laki berbentuk ikan panjang dari cairan yang hina (Air mani) (Lihat Gamabar 1), semua hal itu telah tercantum dalam firman-Nya:
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (As-Sajadah: 8)
Dengan masuknya sel sperma pada sel telur, maka keduanya akan membentuk نطفة الأمشاج  atau setetes mani yang bercampur (antara benih lelaki dengan perempuan) (Lihat gambar 4). Dalam salah satu Hadist Nabawi menjelaskan bahwa proses pembuahan tidak akan terjadi dari semua sel-sel sperma yang terdapat pada Air mani lelaki, Rasulullah Saw Bersabda:
ما من كل الماء يكون الولد
“Tidaklah dari setiap Air (akan) menjadi Anak” (HR. Muslim) (8)
Uraian Hadis Nabawi di atas sangat tepat dengan apa yang diungkapkan oleh ilmu pengetahuan saat ini bahwa proses penyeleksian yang dialami sel-sel sperma terjadi sebelum tahapan penciptaan.


2embrio4Gambar 3: Ovum yang dikelilingi oleh sel-sel Sperma yang aktif menuju ke aranya, Dan ketika salah satu dari sel-sel itu berhasil mencapainya (pembuahan) maka tahapan Saripati akan membuahkan نطفة الأمشاج  atau setetes mani yang bercampur.


2embrio5aGambar 4:Diperoleh dari Mikroskop Elektronik, Gambar dari proses pembuahan Sel telur dan sel sperma yang selanjutnya akan membentuk نطفة الأمشاج   atau Zigot. Permission from Nilsson et al, A Child is Born, New York, Delacorte Press, 1982

3. Setetes mani yang tercampur  ( نطفة الأمشاج )
Bentuk Ovum yang telah terbuahi mensimulasikan bentuk `Setetes Air`, wujud ini persis dengan makna نطفة (sedikit atau setetes air) seperti yang telah dijelaskan.
Adapun makna dari نطفة الأمشاج adalah: setetes cairan yang telah tercampuri, dan setetes campuran ini dapat diketahui pada awal proses pembentukannya  (Zigot).
2embrio6Mengenai tetesan cairan ini Al-Quran telah menyinggungnya dengan istilah `Setetes Mani` dalam Ayat:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Al-Insan: 2)
Adapun uraian penting yang terdapat dengan ayat ini, yaitu kata `Setetes` yang merupakan kata tunggal bersandingan dengan kata  أمشاج (kata jamak ) yang berfungsi sebagai sifat dari kata `Setetes`, dalam qaidah bahasa Arab menjelaskan bahwa kedudukan sifat harus mengikut dengan yang disifati baik itu dalam keadaan Tunggal, rangkap, atau jamak (lebih dari satu).
Dan pengistilahan نطفة الأمشاج sebagai mana yang dipahami oleh para Ulama Tafsir bahwa : نطفة bermakna tunggal, tetapi dalam arti Jamak (9)
Dan kata أمشاج dalam perspektif Ilmiah memiliki signifikansi yang sangat mendetail yaitu : ibarat Organisme tunggal yang terdiri dari berbagai campuran dan membawah unsur karakteristik leluhur dan cucu-cucu pada setiap Janin.
Dalam tahapan ini pertumbuhannya akan terus berkembang dalam wujud `Setetes Air` yang terdiri dari berbagai sel kecil yang  disebut Blastomer, dan setelah Empat hari akan terdiri dari bulatan-bulatan sel yang dinamakan Morula yang kemudian menjadi Blastocyst.

2embrio7Melalui Mikroskop, tampak gambar نطفة  pada berwujud Morula

Selama tahapan ini, istilah نطفة الأمشاج sangat cocok untuk mengambarkan perkembangan yang dilalui sel sperma dan Ovum hingga menjadi Zigot.
Demikianlah spesifikasi Al-Quran yang begitu menakjubkan,  Dengan mengunakan  pengistilahan yang menyeluruh dan pengambaran yang mendetail, Al-Quran telah menguraikan fase pertama tentang penciptaan Manusia (yang masih berlanjut pada tiga tahapan dalam Zigot di bagian tulisan selanjutnya) , jika tanpa dilengkapi dengan alat pendeteksi yang mutakhir mustahil Ilmu pengetahuan bisa mengungkapkan misteri Embrio yang telah terkubur selama berabad-abab, Dan dengan kemajuan teknologi dan Ilmu pengetahuan hal itu Justru menjadi saksi atas kebenaran Mukjizat Al-Quran dan As-sunnah. Dengan seiring berjalannya waktu Allah Saw akan terus memperlihatkan kebesarannya lewat penemuan-penemuan Umat Manusia itu sendiri.
وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
 “Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi”(Shaad: 88)


Catatan kaki:
(1) -http://islamstory.com/ar/greats-converts-to-islam
   -http://quran-m.com/container2.php?fun=artview&id=1080
(2) Lisanul Arab  9:335
(3) Musnad Ahmad 1: 465
(4) lihat Tafsir Al-Qurtubi 20:4, juga dalam Hasyiah Jumal – Jalalain 4:517, Fathul Qodir 5:419
(5) Lisanul Arab jilid 11 hal 338, Kamus Muhit 3:407 , Tajul Lugah 5:1731, Tajul `Urus 7-377 / 378
(6) Kamus Muhit 3:407, Tajul `Urus 7-377 / 378
(7) Tafsir At-Thobary 21:59, Tafsir Qurtuby19:159
(8) diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihinya, (dari hadis yang panjang ) 2:1064
(9) Tafsir Al-Qurtubi 19:121, Hasyiah Showi Jalalain 4:273, Fathul Qadir –AsSykhani 5:344
www.eramuslim.com

Sekelompok Kecil Mu’min dalam Timbangan Neraca Allah


Sesungguhnya kelompok Muslim  yang menjadi pengikut Nabi Nuh alaihissalam disebutkan dalam beberapa riwayat , jumlah mereka hanyalah ada dua belas orang.  Mereka adalah hasil dakwah Nabi Nuh alaihis salam selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, seperti yang dinyatakan oleh satu-satunya referensi yang bisa dipercaya tentang masalah ini yaitu : Al Qur’an.

Sesungguhnya kelompok Muslilm ini, yang merupakan buah umur yang panjang dan jerih payah yang lama itu, berhak menjadi alasan Allah untuk mengubah fenomena alam semesta yang biasa dikenal! Ia juga berhak menjadi alasanNya menjadikan kelompok Muslim ini satu-satunya pewaris bumi ! Walau hanya 12 Orang ! benih kemakmuran, serta pemimpin yang baru di sana.
Ini adalah perihal yang penting !

Sesungguhnya para pionir kebangkitan Islam  yang tengah menghadapi jahiliyah universal diseluruh muka bumi, yang sedang merasakan keterasingan dan kesendirian ditengah-tengah jahiliyah ini, rasa sakit, pengusiran penyiksaan dan pemusnahan..maka mereka harus wajib berhenti untuk memfokuskan diri untuk memahami peristiwa  yang urgen ini

Sesungguhnya adanya benih muslim (walau sedikit) di bumi ini adalah sesuatu yang begitu berarti di neraca Allah, sesuatu yang menjadikan Allah Subhanahu waTa’ala layak untuk menghancurkan jahiliyah, negerinya, kemakmurannya, akar-akarnya, kekuatan-kekuatannya, dan simpanan-simpanannya ; sebagaimana ia juga menjadikanNya layak untuk memelihara benih ini dan merawatnya agar ia tetap sehat , berkembang mewarisi bumi dan memakmurkannya kembali.
Nabi Nuh ‘alaihi ssalam  telah membuat bahtera di bawah pengawasan Allah dan wahyuNya seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’ala
“ Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zallilm itu; sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan (QS Hud ;37)
Ketika itu Nuh ‘alaihissalam mengadu kepada Tuhan-Nya memberitahukan bahwa dirinya adalah “orang yang dikalahkan” dan ketika menyeru Tuhan-Nya “Menangkanlah aku sebab Rasul-Nya telah dikalahkan”.
Ketika itulah Allah melepaskan kekuatan-kekuatan tentara alam yang maha dasyat agar ia membantu hambaNya yang kalah itu
……
“Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka berkumpulah air-air itu untuk  satu urusan yang sungguh telah ditetapkan…” (QS AL Qamar :11-12)
Tatkala kekuatan tentara alam yang maha dahsyat itu memainkan peranannya di seluruh semesta dengan peran yang menyeramkan dan mengerikan itu, Allah Subhanahu wa ta’ala denagn dzatNya yang Mahatinggi bersama  hambaNya  yang dikalahkan itu.
“ Dan Kami angkat Nuh ‘alaihissalam ke ats (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami…sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari(Nuh) ..: QS Al qamar 13-14

Inilah gambaran menyeramkan yang  para pionir kebangkitan Islam di seluruh tempat  dan semua masa wajib memahami kejadian ini kala ia dimusuhi oleh jahiliyah dan ketika ia dikalahkan oleh jahiliyah !
Sungguh tidak sepatutnya bagi orang mukmin yang menghadapi jahiliyah berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa jahiliyah sehingga ia berprasangka  bahwa  Allah akan membiarkannya menjadi  mangsa jahiliyah padahal dirinya menyerukan pentauhidan Allah Subhanahu waTa’ala dengan ketuhannanNya. Sebagaimana ia juga tidak patut untuk membandingkan kekuatan pribadinya dengan kekuatan-kekuatan jahiliyah sehingga ia berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa padahal ia adalah hambaNya yang meminta pertolongan kepadaNya ketika ia kalah.

Kekuatan itu pada hakikatnya tidaklah berimbang ; jahiliyah memiliki seluruh kekuatan, tetapi orang yang menyeru kepada Allah bersandar kepada kekuatan Allah, dan Allah Mahakuasa untuk menundukkan sebagian kekuatan alam untuk hambaNya, kapan dan bagaimanapun ia menghendaki. Kekuatan palling remeh pun dari kekuatan-kekuatan ini bisa menghancurkan jahiliyah dari arah yang tidak disangka-sangka.

Fase ujian adakalanya berlangsung lama karena suatu hal yang dikehendaki Allah . Nuh ‘alaihissalam telah tinggal dikaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, sebelum tiba ketetapan yang telah ditakdirkan Allah, bahkan hasil yang panjang ini pun hanyalah tersisa duabelas orang Islam, tetapi sekelompok kecil manusia ini di neraca Allah sama dengan penaklukan kekuatan-kekuatan maha dasyat itu, pembinaan seluruh manusia yang   sesat  dan pewarisan bumi kepada sekelompok manusia yang baik itu , yang akan memakmurkan bumi untuk kedua kalinya dan yang akan menjadi khalifah disana!
Orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah Subhanahu wata’ala tidak punya kewajiban apapun selain menunaikan kewajiban mereka secara sempurna dengan mencurahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, lalu menyerahkan seluruh urusan kepada Allah dengan penuh ketenangan dan percaya diri. Dan ketika dikalahkan mereka harus mengadu kepada Pelindung Yang Maha Menolong dan meminta pertolongan kepadaNya seperti hamba-Nya yang saleh, Nuh ‘alaihissalam –
Sayyid Qutb 
www.eramuslim.com