Tuesday, 9 July 2013

Ramadhan 1 : Allahu Penguasa Langit dan Bumi, dan di Antaranya



Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
 
57:1
1.     Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Setiap jenis makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi menyucikan dan memuji Allah SWT dari sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya. Allah SWT Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya. Maha Bijaksana dalam perbuatan dan syariat_Nya.

57:2
 2.     Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

             Allah SWT memiliki kerajaan langit dan bumi beserta semua yang terdapat pada keduanya. Dengan demikian, hanya dia yang bisa mengatur, menghidupkan dari ketiadaan, mengembalikan kehidupan makhluk setelah mati, dan mematikan makhluk yang hidup.
Allah SWT Mahakuasa untuk melakukan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang tidak mampu Dia lakukan. Semua yang Allah SWT kehendaki pasti terjadi dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

57:3
 3.     Dia-lah Yang awal dan akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, Dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Adalah Allah SWT Yang Awal, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dia pula Yang Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Dia yang Maha tampak, yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tampak dari-Nya. Dia pula Yang Maha Tersebunyi, yang tidak ada satupun yang lebih tersembunyi daripada-Nya.
Tidak ada yang tidak terlihat bagi Allah di langit dan di bumi. Tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui semua rahasia dan yang tersembunyi, yang tampak jelas dan yang samar.

57:4
4.     Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan

Hanya Allah SWT semata Yang menciptakan langit dan bumi beserta semua yang berada di antara keduanya dalam enam hari. Kemudian Allah SWT bersemayam di Arsy-Nya yang berada di atas semua langit, tentunya dengan sifat bersemayam yang sesuai dengan kebesaran-Nya.

Allah SWT mengetahui segala hewan, tumbuhan, air, perbendaharaan, dan lain sebagainya yang masuk ke bumi dan semua tumbuhan, hasil tani, buah-buahan, dan lain sebagainya yang keluar darinya.
Allah SWT juga mengetahui air dan lain-lain yang turun dari langit. Dia pun mengetahui malaikat, perkataan, dan perbuatan yang naik kelangit.

Allah SWT senantiasa mengetahui makhluknya dimana pun mereka berada. Allah SWT melihat segala ucapan, amal perbuatan, dan keadaan para hamba.

Tidak ada hal yang samar bagi-Nya dan tidak ada yang tidak terlihat oleh-Nya. Semua akan diperhitungkan berdasarkan perbuatan masing-masing.
-Aidh Al Qarni -
Sumber : Tafsir Muyassar – Qisthi
www.eramuslim.com

Monday, 8 July 2013

Puasa, Momentum Perubahan Menuju Pribadi Yang Bertakwa



Oleh: Adam Cholil (Pengajar di HSG Khoiru Ummah Gresik)

Marhaban Ya Ramadhan. Allah swt. kembali menyuguhkan bulan Ramadhan yang mulia kepada kita. Bulan yang penuh rahmat, keberkahan, dan pengampunan. Bulan pertama kali diturunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw. Bulan di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Setan-setan dibelenggu, pintu neraka dikunci, dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Bulan Ramadhan adalah bulan anugrah bagi umat Islam, karena kita diberi kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah swt., setelah selama sebelas bulan kita banyak melalaikan segala perintahNya dan terlena dengan kehidupan dunia.

Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan dilandasi keimanan dan semata mengharap ridla Allah swt. akan keluar dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ia keluar dari rahim ibunya. Pahala berbagai amal pun dilipatgandakan oleh Allah swt. hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih. Bulan Ramadlan merupakan bulan sabar, bulan jihad, dan bulan kemenangan, serta bulan pembentuk ketqwaan.
Bukan hanya itu, bulan Ramadlan merupakan bulan membaca Al Quran, bulan mengeluarkan zakat fitrah, bulan memakmurkan masjid, bulan taubat kepada Allah swt., bulan ishlah antar sesama kaum muslim, bulan silaturrahim, bulan menolong mereka yang membutuhkan, bulan menjaga lisan dan perbuatan, bulan pembaharuan dan pengokohan iman, serta bulan penyucian hati dan pikiran.

Menuju Ketaqwaan yang Sesungguhnya
Ramadhan adalah bulan pembentuk pribadi yang bertaqwa. Yaitu pribadi yang senantiasa berupaya melaksanakan apasaja yang diperintahkan Allah swt. dan menjauhi apasaja yang dilarang-Nya. Dia berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .
 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al Baqarah:183)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa inti dari puasa bulan Ramadlan itu adalah menjadikan manusia sebagai pribadi yang  bertaqwa. Imam Al Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, halaman 121, mengatakan, bahwa pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang memiliki perasaan takut yang sangat kepada Allah swt, hanya ber­bakti dan tunduk kepada-Nya, serta membersihkan hati dan perbuatan dari segala dosa. Dengan begitu ia tidak akan berani sekecil apapun melanggar aturan Allah swt.

Ketaqwaan yang tulus haruslah ditunjukkan oleh lisan, hati, dan perbuatan seseorang. Allah swt. memerintahkan kita agar mengikuti seluruh yang dibawa Rasul saw. dan mencegah diri dari seluruh larangan yang disampaikan Rasul saw. Allah swt. berfirman:
“Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.” (QS. Al Hasyr [59]:7)
Jadi taqwa merupakan ketaatan total kepada Allah swt. dengan cara mengikuti setiap hukum dan aturan-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Allah swt. berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian semua ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh nyata bagimu. Tetapi, jika kalian menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(QS. Al Baqarah [2] : 208 – 209).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sebagian orang-orang Yahudi yang masuk Islam menyangka bahwa keimanan mereka tidak ternodai sekalipun mereka tetap meyakini sebagian isi Taurat. Namun, Allah swt. menjelaskan bahwa masuk kedalam iman mengharuskan beriman kepada suluruh apa yang diturunkan Allah swt. berupa Islam ini. Bila tidak, berarti ia telah mengikuti syaithan yang sebenarnya merupakan musuh yang nyata. Saat itulah turun surat Al Baqarah [2] ayat 208 dan 209 tadi. Lebih jauh beliau memaknai ayat ini dengan menyatakan ‘Allah swt. memerintahkan kepada kaum beriman dan meyakini kebenaran Rasulullah Muhammad saw. untuk mengambil seluruh ajaran Islam dan syari’atnya, melakukan semua perintah-Nya dan meninggalkan apa pun yang Dia larang dengan sekuat tenaga’. (Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, I, halaman 307 – 308).

Bulan Ramadlan merupakan saat yang tepat bagi kita untuk menjadi orang-orang yang melakukan ketaatan penuh kepada Allah swt. menjadi pribadi yang bertaqwa yang menjalankan hanya hukum dan aturan-aturan-Nya saja baik dalam hal yang berkaitan dengan pribadi, masyarakat, maupun negara.

Perbanyak Ibadah
Untuk menjadi pribadi yang bertaqwa sebagaimana hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan hendaknya kita menjadikan Ramadhan sebagai ajang latihan untuk seterusnya menjadi pribadi yang taat dan gemar beribadah kepada Allah swt.  Beberapa kegiatan ibadah ini bisa kita jadikan sebagai amalan dibulan Ramadhan yang akan kita jalani:

  1. I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
 « كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ  العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »
Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
« كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ،
وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ».
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainnya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Bersungguh-sungguh memperhatikan lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah saw. bersabda:
« تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ
مِنْ رَمَضَانَ. »
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)

  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji.” (HR. An-Nasai)

  1. Berjihad di jalan Allah. Dari Abu Sa’id Khudri radhiyallah ‘anhu, Rasulullah saw. bersabda:
« مَامِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا ِفيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ
الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً. »
Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari dalam (perang) di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya -karena hari tersebut- dari neraka sejauh (perjalanan) 70 tahun. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. »
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)

  1. Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. »
Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Semoga kita menjadi manusia yang akan meraih ketaqwaan dengan kembali datangnya bulan suci Ramadhan tahun ini. Untuk itu kita harus bekerja keras dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Hati-hati terhadap bujuk rayu syaithan yang akan senantiasa mengintai manusia untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang benar menuju kesesatan. Kita sambut Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan yang dalam agar kita sukses dan dapat meraih kemuliaannya. Amin.
www.eramuslim.com

Tengoklah Sang ”HATI”, Sehatkah Hati Mu?


Dalam khazanah keimanan, bagian dari diri seseorang yang menjadi raja dari keseluruhan pribadi dan jiwanya adalah HATI. Seluruh tubuh adalah pelaksanan titahnya,  siap menerima apa saja. Aktivitasnya tidak dinilai benar jika tidak diniatkan dan dimaksukdan oleh sang Hati. Di kemudian hari, sang hati  inilah yang akan bertanggung jawab, datang menghadap dan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu akan ditanyai atas apa yang dipimpinnya.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman :
“.. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban(Al Isra: 36)
Begitu pula Rasulullah bersabda tentang hati,” Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati..”
Membuat hati dalam kondisi tetap sehat, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati  dan metode mengobatinya , merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah
Hati bisa berada dalam keadaan 1. Sehat   2. Sakit  3. Mati

HATI YANG SEHAT,  adalah hati yang selamat (Qalbun salim). Barang siapa menghadap Allah nanti dengan kondisi hati yang tidak sehat maka akan celaka
Allah SWT berfirman :
“.. Adalah hari, dimana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat..(Asy-Syu’ara : 88-89)
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat , keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah dan dari setiap syubhat yaitu keraguan dan  ketidak jelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati yang tidak pernah beribadah kepada selain Allah dan berhukum kepada Rasulullah. “ Ubudiyahnya murni kepada Allah. Iraddah, mahabbah, inabah, ikhbat, khassyah, raja dan amalnya, semuanya Lillah, semata karena Allah.

Jika ia mencintai, membenci , memberi dan menahan diri semuanya dilakukan karena Allah. Ini saja tidak dirasa cukup, sampai ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikutan yang kuat untuk menjadikan Rasul sebagai satu-satunya panutan dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan berani bersikap lancang , mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan ataupun perbuatan

HATI YANG MATI, adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya.  Ia tidak beribadah kepadaNya, enggan menjalankan perintahNya, atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhaiNYa. Hati ini selalu lebih tunduk kepada hawa nafsu  atau kecenderungan diri terhadap kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT. Ia tidak peduli kepada keridhaan atau kemurkaan Allah SWT. Baginya yang penting adalah terpenuhinya hawa nafsu/keinginan. Ia menghamba kepada selain Allah demi kesenangannya ini.

Jika ia mencinta, membenci , memberi dan menahan diri semuanya karena  hawa nafsu. Hawa nafsu inilah telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah sopirnya dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dipenuhi dan dikerahkan untuk mencapai target-target duniawi.
HATI YANG SAKIT adalah hati yang hidup namun mengundang penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada penyakit. Padanya terdapat kecintaan, keimanan , keikhlasan dan tawakal kepada Allah yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (Sombong) dan sifat ujub yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada diantara dua penyeru kepada Allah, rasul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi.

Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu, tawadlu, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.

INDIKASI  SAKIT- SEHATNYA HATI
Hati seseorang itu bisa sakit. Sakitnya bisa semakin parah dan tidak menyadarinya. Bahkan bisa jadi hati telah mati, tanpa disadari pemiliknya. Pertanda hati itu sakit atau telah mati adalah; ia tidak lagi dapat merasakan sakitnya bermaksiat dan betapa menderitanya berada dalam kebodohan tentang kebenaran serta memiliki aqidah yang sesat. Sebab hati yang hidup pasti merasa tersiksa bila melakukan perbuatan buruk . Begitu pula jika ia bodoh tentang kebenaran.
Terkadang, seseorang yang memiliki hati yang sakit dapat merasakan penyakitnya. Namun, ia tidak tahan mengecap pahitnya obat penawar . Dan ia pun lebih memilih menderita penyakit untuk selamanya.
Diantara tanda sakitnya hati adalah keengganan mengkonsumsi makanan yang bermanfaat. Justru  cenderung kepada yang mendatangkan mudharat. Juga enggan terhadap obat yang berguna dan cenderung kepada penyakit yang berbahaya.

Hati yang sehat selalu mengutamakan makanan yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan terbaik adalah keimanan. OBAT TERBAIK ADALAH AL QUR’AN.
Adapun tanda sehatnya hati adalah “ ketidak hadirannya”  di dunia menuju ke negeri akhirat. Disana ia tinggal dan seakan-akan menjadi penghuninya. Kehadirannya di dunia ini ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali ke negerinya. Kepada Abdullah bin Umar , Rasulullah berpesan
“ di dunia ini hendaknya kamu berlaku seperti orang asing atau orang yang lewat..”

Tanda sehatnya hati adalah selalu  mengingatkan si Empunya, sehingga ia mau kembali ke jalan Allah Subhanau wa Ta’ala, tunduk dan bergantung kepadaNya seperti bergantungnya seseorang yang mencintai kepada yang dicintainya. Ia hanya butuh cintaNya. Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepadaNya.

Tanda sehatnya Hati adalah jika si empunya hati ketinggalan atau tidak sempat melaksanakan wirid (bacaan rutin berupa dzikir atau Al qur’an) atau suatu ibadah, ia akan merasa sakit dan tersiksa melebihi orang kaya yang kehilangan harta..
Masya Allah..demikianlah begitu berharganya hati. (LR)
Sumber : Tazkiyatunnafs, Konsep penyucian jiwa menurut para ulama salafus saleh
www.eramuslim.com

Taubatlah Dengan Sholat

Setiap kita pasti memiliki dosa , kesalahan, noda dan aib. Jika demikian..apakah semua itu akan terus melekat dan kita berputus asa dari rahmat Allah akan ampunanNya..? Tidak sama sekali… karena Allah menyuruh kita untuk menuju pintu ampunanNya, maaf dan taubat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wassalam meriwayatkan sabda Rabb ‘Azza wa Jalla
“…Wahai Anak Adam , jika kamu senantiasa berdoa kepadaKu, mengharapkanKu, meminta ampunan dari Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, andaikan dosamu setinggi langit, kemudian kamu memohon ampunanKU, niscaya Aku aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, andaikan Kamu menemui-Ku dengan kesalahan seluas bumi, tetapi tidak mensekutukan-Ku dengan apapun, maka aku akan mengampunimu dengan ampunan seisi bumi..”

Berbahagialah bagi orang yang mencuci bercak-bercak dosa dengan taubat, dan kembali terhindar dari segala kesalahan sebelum kesempatan hilang.  Siapakah yang bisa selamat dari penyakit dunia? Siapakah yang selalu sehat dan tidak pernah sakit? Siapakah yang hidup, sedang kehidupannya tidak pernah bersanding dengan kematian? Siapakah yang umurnya tidak pernah berakhir….??
Jika kita merasa bergelimang dosa, dan maksiat membumbung tinggi sampai ke angkasa…kesadaran ini adalah satu anugrah. Lanjutkanlah dengan menghapus dosa , yang dapat dilakukan dengan shalat Taubat. Mari kita  mengenal lebih dekat tentang shalat Taubat ini dan tata caranya menurut sunah Nabi ..!

Abu Bakar Ash-shiddiq Radiyallahu Anhu mendengar Rasulullahu shallallahu Alaihi Wassalam bersabda,
“ Tak seorang pun hamba mukmin yang memiliki dosa lalu ia bersuci dengan benar, kemudian bangun melakukan shalat dua rakaat memohon ampunan kepada Allah dari dosanya tersebut, melainkan Allah akan mengampuninya...” (Haidts Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud 1521, at Tirmidzi 3006, Ibnu Majah 1395, An Nassai Ibnu Hibban 2/10
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kemudian ,” Rasulullah membaca firman Allah Subhanahu waTa’ala :
“ dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya diri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (AN Nisa : 110)

Kita mulai dengan “ Bersuci yang benar” maksudnya berwudhu sesuai dengan sunah-sunnah wudhu, tertib dari awal hingga akhir mulai dari membaca basmalah hingga akhir wudhu.

“Tak seorang pun hamba yang mukmin” baik laki-laki maupun wanita, tidak ada perbedaan. “kemudian bangun” maksudnya bersiap-siap setelah wudhu untuk melakukan shalat. “ memohon ampun kepada Allah “ memohon ampunan atas dosanya yang  merupakan penyebab ia melakukan shalat. Memohon ampun disini maksudnya taubat dengan penuh penyesalan, mencerabut dari dosa dan berazam untuk tidak kembali mengulang hal yang sama selamanya dan mengembalikan seluruh hak orang lain jika ada.
Demikian sangat jelas penjelas tentang keutamaan shalat taubat dimana ia merupakan sunnah Rasulullah dalam melakukannya. Shalat taubat bisa menghapus dosa dan menghapus segala kesalahan, mengangkat derajat , menambah kebaikan dan memupus keburukan. Oleha karena itu perbanyaklah melakukan shalat taubat semampumu. Inilah bagian dari rahamat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Allah pun membuka berbagai puintu taubat, melalui shalat taubat.  Maksiat atau dosa yang ‘dicuci’ kemudian dengan thaharah melalui wudhu, dan pengakuan yang direfleksikan dengan berdiri di hadapan Allah, setelah itu ketaatan yang teraktualisasikan dalam shalat, kemudian berdoa kepada Allah dalam sujud dan beristighfar seusai shalat. Semua hal ini jika dilakukan bisa menjadi resep mujarab diterimanya taubat berapapun besarnya maksiat dan dosa yang telah kamu lakukan terhadap Allah dalam berbagai hakNya.

Namun jika maksiat berkaitan dengan hak-hak hamba, maka sebelum shalat taubat, kamu mesti minta kehalalannya, dengan catatan kamu tidak mampu mengembalikannya, serta mengembalikan objek-objek kezaliman kepada si empunya jika kamu mampu melakukannya.
Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu Anhu meriwayatkan bahwa seseorang datang menghadap Rasulullah Sallallahu Alaihi sa Sallam sembari berkata,” Wahai Rasulullah, aku bercanda dengan seorang wanita di pinggiran Madinah. Aku menciumnya tanpa sempat menjimaknya. Inilah aku , hukumlah aku sesukamu..”
Umar bin Al Khatab berkata kepadanya,” Sungguh Allah akan menutupi aibmu, seandainya kamu sendiri menutupinya..”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengatakan sepatah kaata pun. Si pria itupun kembali. Rasul terus mengikutinya yang  kemudian memanggilnya dan Rasulullah membacakan firman Allah;
“ Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatn yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (QS Huud ; 114)
Seorang pria dari satu kaum bertanya, wahai Nabi Allah , apakah khusus bagi orang tadi?”

Rasulullah menjawab,” tidak, ia berlaku untuk seluruh manusia.”
Dalam riwayat lain , Muadz bin Jabal bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus bagi si pria tadi atau bagi kami semuanya?”
Rasul menjawab ,” Bagi kalian semua”
Sumber : (Majdi Fathi As-Sayid,  Al Kautsar)
www.eramuslim.com

Tuesday, 2 July 2013

Harta dan Anak Menjadi Fitnah


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٧﴾
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿٢٨﴾
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. Al-Anfaal: 27-28)
***
Kemudian, diulang lagi seruan kepada orang-orang yang beriman. Dibisikkan lagi kepada mereka bahwa harta dan anak-anak itu kadang-kadang dapat menjadikan manusia tidak mau memenuhi seruan Allah dan seruan Rasul. Karena, takut terhadap nasib anaknya nanti dan karena bakhil terhadap hartanya.

Kehidupan yang diserukan Rasulullah adalah kehidupan yang mulia, yang sudah tentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya, harus ada pengorbnan. Oleh karena itu, Alquran mengobati ambisi ini dengan mengingatkan mereka terhadap fitnah harta dan anak-anak. Karena, harta dan anak-anak merupakan tempat ujian dan cobaan.

Alquran juga mengingatkan mereka agar jangan lemah menghadapi ujian ini, jangan mundur dari perjuangan, dan jangan melepaskan diri dari beban amanat, janji, dan baiat.

Alquran menganggap pelepasan diri dari semua ini sebagai pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Juga pengkhianatan terhadap amanat-amanat yang dibebanan kepada umat Islam di muka bumi.
Yaitu, amanat untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menetapkan uluhiyyah-Nya saja bagi manusia, dan berpesan kepada manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Di samping kehati-hatian ini, diingatkan pula mereka terhadap pahala yang besar dari sisi Allah kalau mereka dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak, yang kadang-kadang menghalangi manusia dari berkorban dan berjihad.

Menghindarkan diri dari tugas-tugas sebagai umat Islam di muka bumi merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Persoalan pertama dalam agama Islam ini adalah persoalan ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.’ Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Persoalan mengesakan Allah terhadap uluhiyyah, dan menerima dengan sepenuh hati akan semua ini menurut apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saja.

Manusia dalam seluruh sejarahnya, tak pernah mengingkari keberadaan Allah sama sekali. Mereka hanya mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, yang kadang-kadang, dan ini hanya sedikit, dalam bidang akidah dan ibadah.
Adakalanya, dan ini yang terbanyak, dalam masalah hukum dan kedaulatan. Inilah yang lebih dominan dalam kemusyrikan. Oleh karena itu, persoalan utama agama Islam ini bukan mengajak manusia untuk mempercayai uluhiyyah Allah. Tetapi, mengajak mereka untuk mengesakan uluhiyyah bagi Allah saja, untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah.

Yakni, mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang berdaulat mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Juga mengakui-Nya sebagai yang berdaulat untuk mengatur alam semesta, sebagai implementasi firman Allah: “Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi.” (QS. Az-Zhukhruf: 84)

Juga mengajak mereka bahwa hanya Rasulullah yang membawa wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada mereka. Dengan demikian, mereka berkewajiban mematuhi segala ajaran yang beliau sampaikan.
Inilah persoalan utama agama Islam, sebagai itikad yang harus ditanamkan dan dimantapkan di dalam hati, dan sebagai gerakan yang harus diaplikasikan di dalam kehidupan. Karena itu, menghindarkan diri dari hal ini adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul.

Allah mengingatkan hal ini kepada golongan Islam yang telah beriman kepada-Nya dan telah menyatakan keimanannya ini. Sehingga, mereka mempunyai tugas untuk berjuang guna merealisasikan petunjuknya dalam dunia nyata. Juga supaya bangkit menunaikan tugas jihad ini terhadap jiwa, harta, dan anak-anak.
Allah juga mengingatkan mereka agar jangan mengkhianati amanat yang mereka usung pada hari mereka berbaiat kepada Rasulullah untuk memeluk Islam. Islam itu bukan sekadar ucapan dengan lisan, bukan sekadar retorika dan pengakuan-pengkuan.

Islam adalah manhaj kehidupan yang sempurna dan lengkap. Tetapi, untuk menegakkannya selalu menghadapi hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan.
Islam adalah manhaj untuk membangun realitas kehidupan di atas landasan Laa ilaaha illallah, yang mengembalikan manusia kepada menyembah Tuhan mereka Yang Mahabenar, mengembalikan masyarakat kepada hukum dan syariat-Nya. Mengembalikan para thaghut yang melampaui batas kepada uluhiyyah Allah dan kedaulatan-Nya dari kezaliman dan tindakan melampaui batas.
Juga, mengamankan kebenaran dan keadilan bagi semua manusia, menegakkan keadilan di antara mereka dengan timbangan yang mantap, memakmurkan bumi, dan melaksanakan tugas khilafah di muka bumi dengan menggunakan manhaj Allah.

Semua itu merupakan amanat yang barangsiapa tidak menunaikannya berarti telah berkhianat, melanggar perjanjian kepada Allah, dan merusak baiat yang telah diikrarkannya kepada Rasulullah.
Mereka semua perlu berkorban, bersabar, dan tabah. Mereka harus dapat menanggulangi fitnah harta dan anak. Juga melihat pahala yang besar di sisi Allah, yang disimpan untuk hamba-hamba-Nya yang terpercaya mengemban amanat-amanat-Nya, yang sabar, suka mengalah, dan suka berkorban.

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)

Alquran ini berbicara kepada eksistensi manusia. Karena, Sang Pencipta mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi pada manusia ini, mengetahui yang lahir dan yang batin, mengetahui jejak-jejak langkah dan perjalanan hidupnya.

Allah mengetahui titik-titik kelemahan pada diri manusia. Dia mengetahui bahwa ambisi terhadap harta dan anak-anak itu merupakan titik kelemahan paling dalam pada diri mereka.
Oleh karena itu, di sini, Dia mengingatkan hakikat pemberian harta dan anak-anak itu. Allah memberikan harta dan anak-anak kepada manusia untuk menguji dn memberi cobaan kepada mereka dengannya.
Harta dan anak termasuk perhiasan dunia yang notabene adalah ujian dan cobaan. Karena, Allah hendak melihat apa yang diperbuat dan dilakukan seorang hamba terhadap harta dan anak ini. Apakah dia mau mensyukurinya dan menunaikan hak-hak nikmat yang diperolehnya itu? Ataukah, malah sibuk dengannya sehingga lupa menunaikan hak-hak Allah?

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyaa: 35)

Maka, fitnah atau cobaan itu bukan hanya dengan kesulitan, kesengsaraan dan sejenisnya saja. Tetapi, fitnah itu juga bisa berupa kemakmuran dan kekayaan. Termasuk kemakmuran dan kesenangan itu adalah harta dan anak-anak. “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.”
Apabila hati sudah menyadari posisi harta dan anak-anak sebagai ujian dan cobaan, maka kesadaran itu akan membantunya untuk senantiasa berhati-hati, menyadari dan mewaspadai, agar jangan sampai ia tenggelam, lupa, dan terbenam dalam ujian dan fitnah.

Kemudian Allah tidak membiarkan manusia tanpa pertolongan dan bantuan. Karena, manusia itu kadang-kadang merasa lemah, setelah menyadari semua itu, untuk memikul beratnya pengorbanan dan tugas. Khususnya, pada titik kelemahannnya yaitu terhadap harta dan anak-anak.

Maka, Allah memanggil-manggil mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, dengan adanya keinginan untuk mendapatkannya, ia menjadi tabah dan kuat menghadapi ujian itu. “Dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”

Allahlah yang memberi manusia harta dan anak. Di balik itu, di sisi-Nya terdapat pahala yang besar bagi orang yang dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak. Dengan demikian, tidak seorang pun yang pantas mengabaikan amanat dan tidak mau berkorban untuk jihad.

Kesadaran inilah yang dapat membantu manusia yang lemah, yang diketahui oleh Sang Maha Pencipta titik-titik kelemahannya. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa: 28)
Islam adalah manhaj yang lengkap tentang akidah dan pandangan hidup, tarbiyah dan pemberian arahan, masalah kewajiban dan tugas-tugas manusia. Islam adalah manhaj atau aturan Allah Yang Maha Mengetahui, karena Dia Yang Maha Pencipta.

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)
www.eramuslim.com

Kaum Kafirin Ingin Keluar dari Neraka


Sementara para pemikul “Arasy dan malaikat di sekitar mempersembahkan doa ini kepada Tuhannya bagi kaum mukminin, kita menjumpai orang-orang kafir berada di suatu tempat di mana setiap diri mencari-cari penolong, sedang penolong itu sangatlah langka. Kita menjumpai orang-orang kafir itu tatkala segala hubungan antara mereka dengan setiap orang dan setiap benda yang ada di alam ini telah terputus. Tiba-tiba mereka dipanggil deri segala penjuru dengan nada menghinakan, membenci, dan menggugat. Tiba-tiba mereka berada di tempat kehinaan setelah sebelumnya berlaku congkak; berada di tempat yang tidak mungkin menggapai harapan,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِن مَّقْتِكُمْ أَنفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ ﴿١٠﴾
قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ ﴿١١﴾
ذَلِكُم بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِن يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ ﴿١٢﴾
 
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari Kiamat), ‘ Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencian kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir. ‘Mereka menjawab .’Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka, adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?’ Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah dipersekutukan . Maka, putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”’ (al-Mu’min : 10 – 12 )
 
Al-muqtu berarti kebencian yang kuat. Mereka diseru dari segala penjuru bahwa kebencian Allah kepadamu tatkala kamu diseru kepada kaimanan, lalu kamu ingkar, adalah lebih hebat daripada kebencian kamu atas dirimu sendiri. Sekarang kamu mencari-cari sesuatu yang dapat menyelamatkan kamu dari keburukan dan dari sesuatu yang dibenci karena kekafiran dan berpalingan kamu dari seruan keimanan sebelum habis waktunya. Alangkah menyakitkan peringatan dan gugatan ini pada situasi yang menakutkan dan sulit itu.

Sekarang, sedang penutup tipuan dan kesesatan telah jatuh, mereka mengetahui bahwa yang menjadi pusat tujuan hanyalah Allah Ta’ala.
Mereka berkata. ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)? ‘ (al-Mu’min : 11)

Itulah pertanyaan yang hina, putus asa dan menestapa. “Ya Tuhan kami, ” padahal dahulu mereka kafir dan mengingkari-Nya. Engkau telah menghidupkan kami pada pertama kali. Ruh ditiupkan ke benda mati, tiba-tiba hidup , tiba-tiba kami hidup. Kemudian Engkau menghidupkan kami lagi setelah kami mati, lalu kami mengeluarkan kami dari tempat kami ini. Kami benar0benar mengakui dosa-dosa kami . “Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Bentuk nakirah ini menyiratkan keletihan dan keputusan yang pahit.

Di bawah situasi nestapa ini, dilontarkanlah kepada mereka alasa sehingga mereka kembali ketempat seperti itu , ” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan, kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka, putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang MahaTinggi lagi Mahabesar .’ (al- Mu’min : 12)

Inilah yang menuntunmu ketempat yang hina itu, yaitu keimananmu kepada sekutu dan kekafiranmu kepada keesaan Allah. Keputusan ada di tangan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Itulah dua sifat yang serasi dengan konteks pemberlakuan keputusan. Yaitu, pengusaan atas segala sesuatu dan keagungan atas segala sesuatu pada maqam keputusan terakhir.

www.eramuslim.com

Kewajiban Beribadah kepada Allah

Di bawah nauangan pemandangan ini, disajikan sedikit sifat Allah yang sesuai dengan kedudukan yang tinggi. Diarahkanlah kaum mukminin pada konteks ini supaya mempersembahkan doa kepada-Nya serasa mempersembahkan doa kepada-Nya serasa mengesankan-Nya dan memurnikan ketaatan bagi-Nya. Dan, diisyaratkan wahyu yang memperingatkan hari pertempuran, pemutusan, dan pembalasa ketika kekuasaan, keperkasaan dan ketinggian hanya milik Allah .

وَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ السَّمَاء رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ ﴿١٣﴾
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿١٤﴾
رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ ﴿١٥﴾
يَوْمَ هُم بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ ﴿١٦﴾
الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿١٧﴾
 
“Dan yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan rezeki dari langit. Dan, tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah). Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat), (yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur), tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini ?’ Kepunyaan Allah Yang Maja Esa lagi Maha Mengalahkan. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberikan balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat depat hisabnya.” Al-Mu’min : 13-17).
 
“Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya…”
Ayat-ayat Allah tampak pasa segala sesuatu di alam nyata ini, pada benda-benda yang besar seperti matahari, planet-planet, siang, malam, hujan, kilat, dan guruh. Ayat itu juga terdapat pada benda-benda kecil seperti atom, sel, dan molekul. Pada benda besar dan kecil terdapat yangda kekuasaan yang luar biasa. Kebesarannya tampak tatkala manusia berupaya untuk menundukkannya, bahkan menciptakannya. Tidaklah mungkin benda itu patuh secara total kepada makhluk yang paling krcil dan paling sederhana dari sekian makhluk yang diciptakan Allah di alam nyata ini.
 
… Dan yang menurunkan rezeki untukmu dari langit..”
Manusia mengenalkan sebagai hujan yang menjadi pokok kehidupan di bumi ini, sarana makanan, dan minuman. Selain hujan, banyak ayat lain yang disikapkan manusia dari hari ke hari, di antaranya sinar kehudupan. Jika tidak ada sinar ini, maka takkan ada kehidupan di planet bumi ini. Mungkin termasuk kedalam rezeki juga berbagai risalah yang diturunkan, yang menuntun langkah manusia sejak kanak-kanak, lalu kakinya diayunkan di jalan yang lurus, dan ditunjukkan kemanhaj kehidupan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada hukum-Nya yang kokoh.

“… Tifaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali (kepada Allah).” (al-Mu’min: 13)
Orang yang kembali kepada Rabbnya akan ingat akan aneka nikmat-Nya, ingat akan karunia-Nya, dan ingat akan ayat-ayat-Nya yang dilupakan oleh orang yang keras hatinya.
Melalaui penceritaan kembali dan kesadaran serta renungan sebagai pengaruh yang timbulkannya di dalam kalbu, Allah hendak mengarahkan kaum mukmin supaya mereka hanya memohon kepada-Nya dan memurnikan ketaata bagi-Nya semata, dan tidak menghiraukan kebencian kaum kafir, “Maka, beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan penghambaan kepada-Nya, walaupun kaum kafir tidak menyukainya .” (al-Mu’min: 14 )
 
Kaum kafir tidak akan menyukai kaum mukmin yang memurnikan ketaatanya untuk Allah dan menyeru kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya. Tidaklah diharapkan dapat menyenangkan mereka, meskipun kaum mukminin bersikap lembut kepada mereka, berdamai, atau melakukan hal-hal yang dapat menyenangkan mereka dengan berbagaui cara. Karena itu, lanjutkanlah aeah perjalanan kaum mukmin dengan meyeru Rabbnya semata, memurnikan akidah untuk-Nya, mengkonsentrasikan hati kepada-Nya, dan jangan dipersulit oleh karelaan atau kemurkaan kaum kafir, sebab mereka takkan pernah rela.

Kemudian dikemukakan sebagaian sifat Allah dalam konteks yang mengarah kaum mukmin supaya menyembah Allah Yang Esa, walaupun kaum kafir membencinya. Melalui sifat-sifat ini di ceritakan bahwa Allah Ta’ala, “Dialah Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arasy, Yang mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya..”
Hanya Allah Ta’ala yang memiliki ke agungan dan kedudukan yang tinggi. Dialah yang memiliki ‘Arasy, Yang berkuasa, dan Yang agung. Dialah yang menyampaikan perintah-Nya melalui ruh dan kalbu kepada hamba yang telah dipilih-Nya. Perintah merupakan kiasan dari wahyu dan rasulan. Pemakaian kiasan ini pertama-tama menerangkan hakikat wahyu ini, bahwa wahyu itu merupakan ruh dan kehidupan bagi manusia. Selanjutnya kiasan ini menerangkan bahwa wahyu diturunkan dari yang tinggi kepada hamba terpilih. Semua ini merupakan naungan yang serasi dangan sifat Allah Yang Mahatinggi dan Yang Mahaagung.
Tugas utama hamba yang dipilih Allah sehingga Jibril menyampaikan perintah itu kepadanya ialah memberi peringatan, “…supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat),” (al-Mu’min: 15)

Pada hari itu seluruh manusi bersua. Manusia bersua dengan amalnya sendiri yang telah dilakukan pada kehidupan dunia. Manusia, malaikat, jin, dan seluruh makhluk bertemu dan menyaksikan hari yang disaksikan itu. Seluruh makhluk bertemu dengan Tuhannya pada saat perhitungan. Itulah hari pertemuan dengan segala maknanya.

Kemudia hari pertemuan pu disebut hari ketika segalanya transparan, tanpa penghalang, tanpa pelindung, tanpa kepalsuan, dan tanpa tipuan, “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur). Maka tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah..”
Tidak ada sesuatu pun dari perkara mereka yang tersamar bagi Allah kapanpun dan dimanapun. Namun, diselain hari ini, mereka kadang beranggapan bahwa dirinya tidak terlihat atau perilaku dan dinamikanya tersamar. Namun, hari ini mereka merasa dirinya tersungkap. Mereka berdiri dalam keadaan telanjang, tanpa penutu[, bahkan penutup imajinaf sekalipun.

Pada hari itu kaum yang sombong terbongkar dan kaum yang tiran tersingkap. Seluruh yang maujud berdidi dengan khusu, seluruh hamba menunduk, dan tinggalah Pemilik segala kekuasaan, Yang Mahakuasa dengan segala kekuasaan-Nya. Dialah semata yang tetap demikian disetiap saat. Pada hari ini, kekuasaan-Nya terlihat nyata bagi semua mata, setelah sebelumnya Dia hanya tampak bagi para pemilik kalbu. Dia diketahui oleh setiap orang yang ingkar dan sirasakan oleh setiap orang yang congkak. Segala yang bersuara petah hanyalah suara keagungan yang memiriskan, yang bertanya dan menjawab. Pada hari itu, tiada yang bertanya dan menjawab di antara yang maujud kecuali Dia, ” … (Lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini ?’ Kepunyaan Allah Yang Maja Esa lagi Maha Mengalahkan. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberikan balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat depat hisabnya.” Al-Mu’min : 16-17)

Hari itu adalah hari pembalasa yang hak. Hari itu adalah hari keadilan. Hari itu adalah hari ketetapan dan keputusaan tanpa penangguhan dan keterlambatan.
Hari itu diliputi dengan keagungan dan kebisuan. Tempat itu diselimuti kekhawatiran dan kekhusuan. Seluruh makhluk mendengar dengan khusu. Perkara pun diputuskan dan lemabaran perhitunganpun dilipat.
Naungan tersebut selaras dengan firman Allah tentang orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah pada permulaan surah, “Maka, janganlah kamu terperdaya oleh hilir-mudiknya mereka (dalam berniaga) ke berbagai negeri.” Inilah akhir dari dinamika di bumi, ke tinggian tanpa hak, kecongkakan, lesombongan, kekayaan, dan kesengan.

Konteks selanjutnya mengarahkan Rasulullah supaya memperingatkan kaumnya akan hari tersebut yang ada pada salah satu panorama Kiamat di mana ketetapan dan putusan hanya milik Allah, setelah hari itu disampaikan kepada mereka dalam bentuk kisah tanpa memfokuskan sapaan,

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ ﴿١٨﴾
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ ﴿١٩﴾
وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَقْضُونَ بِشَيْءٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿٢٠﴾
 
“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) samapai di kerpngkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. Dia menetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Allah menghukum dengan keadilan. Dan, sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan suatu apapun. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ” (al-Mu’min: 18-20)

Hari yang dekat dan segera ialah hari Kiamat. Kata azafah menggambarkan seolah-olah hari itu datang dengan derapnya. Karenanya, diri-diri berduka dan kebingungan. Seolah-olah kalbu yang bingung meloncat kekerongkongan. Mereka menahan marah atas dirinya sendiri, cita cita, dan atas segala yang dikhawatirkan. Penahan marah membuatnya berduka dan membabini dadanya, sedang mereka tidak menemukan teman akrab yang dapat mengasihinya. Tidak juga menemukan penolong yang memiliki kalimat bertuah pada situasi yang sulit dan susah itu.

Pada hari itu merekan tampak trasparan. Tiada satupun dari persoalan yang samar bagi Allah, termasuk lirikan mata pengkhianat dan rahasia hati yang tependam.
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat san aoa yang disembunyikan oleh hati.” Al-Mu’min :19)

Mata yang berkhianat barupaya menyembunyikan pengkhianatannya, tetapi ia tetap diketahui Allah. Rahasia ygn tetutup disembunyikan dalam hati, tetapi ia terbukan bagi pengetahuan Allah.
Allah semata yang pada hari ini menetapkan keputusan dengan benar. Tuhan-tuhan yang diseru oleh mereka tidak memiliki arti, keputusan, dan ketetapan.
Allah menghukum dengan keadilan. Dan, sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan suatu apapun..”
Allah memutuskan dengan benar melalu pengetahuan dan aneka informasi; melalui pendengaran dan penglihatan. Mak, Dia tidak menxalimi seorang pun dan tidak melupakan satu perkarapun. “.. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Al-Mum’min: 20)
www.eramuslim.com