Wednesday, 17 April 2013

Pertolongan Allah akan datang, Maka Janganlah Mengeluh

Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Swt mungkin ada getir yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak beriman yang senantiasa putus harapan.

Seperti kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat!
Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp ustadz Burhan. Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE RUMAH BA’DA MAGRIB, BOLEH GA?

Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA’DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA…. DITUNGGU!
Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU “NGEREPOTIN”. ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!
Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz.

Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam:
“Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah… Saya lagi pusing nih!”
“Emangnya ada apa Majid?” sang ustadz bertanya balik.
Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.
“Begini… saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta. Hari Jum’at raport dibagiin dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan…. Tolong dong bang haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!”
Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia memikirkan.

Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid:
“Begini…. urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:
1) Tahajud malam ini.
2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan
3) Punya duit berapa sekarang di kantong?”
Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan keheranan ia bertanya, “Ada sih 250 ribu..!”
“Boleh gak disedekahin 100 ribu?!” ustadz Burhan bertanya.
Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, “Disedekahin ke Antum?”
“Nggak…. sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal kita yakin Allah bakal nolong!”
Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang.
Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.

Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu dihitungnya dihadapan ustadz. Usai menghitung Abdul Majid berkata, “Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?” Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.
“Iya… itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan!” Ustadz Burhan coba menegaskan.
Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, “Emangnya bener kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum’at pagi?” Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid.
“Jangankan Jum’at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!” Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan.
Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.

Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMU’ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?
Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!

Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya:
ASTAGFIRULLAHAL’ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO’A SAYA GAK DI QOBUL.
Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari Jum’at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Swt demi menyelesaikan permasalahannya. Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid kepada Allah Swt akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid. Usai hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan:

ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN. TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DPT PERTOLONGAN.
Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan Abdul Majid dan urusannya.
Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum’at. Ustadz Burhan mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya.
Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang:

“Bang haji…. Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih… Alhamdulillah!”
Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur. Beliau pun bertanya, penasaran “Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?”
“Entar saya datang ke rumah bang haji deh…. Biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!”

Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid. Kini tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu?
Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh Abdul Majid.
Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!
Salam
Bobby Herwibowo
www.eramuslim.com

Banyak Pendusta Sebelum Kiamat Terjadi

Muslim meriwayatkan dari hadist Syu’bah dan selainnya, dari Sammak dari Jabir bin Samurah, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Akan muncul para  pendusta sebelum kiamat terjadi.” Berkata Jabir : berhati-hatilah terhadap mereka.

Berkata Imam Ahmad : telah menceritakan kepada kami Musa dari Ibnu Luhaiah dari Abu Zubair dari Jabir bahwasanya ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sebelum terjadinya kiamat akan muncul para pembohong diantara mereka penduduk Yamamah, penduduk San’a Al;Absy, penduduk Himyar, dan diantara mereka Dajjal dan ia adalah fitnah yang paling besar.” Berkata Jabir : “Sebagian sahabatku berkata jumlah mereka kurang lebih tiga puluh orang.” Ahmad menyendiri dalam riwayat ini.

Dan telah ditetapkan di dalam shahih Bukhari dari Abul Yaman dari Syuaib dari Abu Zinad dari A’raj dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda : “Tidak akan  terjadi kiamat hingga muncul para pendusta berwujud dajjal kurang lebih tigapuluh orang semuanya mengaku bahwasanya ia utusan Allah.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yami’ dari Abdurrazak dari Ma’mar dari Hamaam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi kecuali beliau bersabda : yanba’its (muncul).

Berkata Imam Ahmad : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah, aku mendengar  Ala’I bin Abdurrahman menceritakan dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi bahwasanya  beliau bersabda : Tidak akan terjadi kiamat hingga muncul para pendusta berjumlah tigapuluh  orang semuanya mengaku utusan Allah, harta melimpah ruah, fitnah bermunculan, huru-hara semakin banyak,  Abu Hurairah berkata, ditanyakan : Huru-hara yang  bagaimana?  Beliau menjawab : Pembunuhan…pembunuhan….Pembunuhan…. beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.” Ahmad menyendiri dalam jalur ini yang mana hadist sesuai dengan syarat Muslim. Abu Dawud meriwayatkan pula dari AlQa’nabi dari Ad-Darawardi dari Ala’I dengan sanad tersebut, dan dari Hadist Muhammad bin ‘Amr dari Al Qamah dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul  tiga puluh orang pendusta setiap mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Auf dari Jallas dari Abu Hurairah  dari Nabi beliau bersabda : “Sebelum terjadinya kiamat akan ada sekitar tigapuluh pembohong  semuanya mengatakan : “saya adalah Nabi.” Sanad hadist ini baik dan hasan, Ahmad menyendiri pula dalam riwayat ini.

Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa dari Ibnu Lahiah dari Salamaan bin amir dari Abu Utsman Al Ashbahy, ia berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, Bahwasanya Rasulullah bersabda, : “akan ada pada umatku para pembohong mereka datang membawa tambahan di dalam hadist yang kalian belum mendengarkannya demikian pula Bapak-bapak  kamu maka berhati-hatilah dan menjauhlah dari mereka agar mereka tidak menipu kalian..”

Di dalam shahih Muslim dari hadist Abu Qilabah dari  Abu Asma’ dari Tsauban, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Sungguh akan ada pada umatku para pendusta yang berjumlah tigapuluh orang seluruhnya mengaku bahwa dirinya adalah Nabi, dan Aku adalah penutup para Nabi tidak ada Nabi sesudahku. “

Imam Ahmad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abul Walid dari Abdullah bin Ayaad bin Laqiit dari Abaar dari ‘Abdurrahman bin An’am atau Nu’aim Al A’rajy sebagaimana hadist diatas : Abul Walid berkata, Seseorang bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang nikah mut’ah dan ia memiliki wanita yang dinikahinya secara mut’ah? Maka Ibnu Umar menjawab : Demi Allah, tidaklah kami pada zaman Rasulullah ragu dan tidak pula melakukan zina, kemudian Ibnu ‘Umar berkata, Demi Allah, aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Akan ada sebelum kiamat Al Masih Dajjal dan para pembohong  sebanyak tiga puluh orang atau lebih.”

2. Isyarat Nabawiyah bahwasanya akan ada di dalam kaum muslimin orang-orang yang mengajak ke neraka

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadist Mauraq Al-Ajali dari Ibnu ‘Umar sebagaiman hadist di atas. Ahmad menyendiri dalam riwayat ini. Berkata Al-Hafidz Abu Ya’la: telah menceritakan kepada kami Wasil bin Abdul A’ala dari Ibnu Fudail dari Laits dari Sa’id bin Amir dari Ibnu ‘Umar , Ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda:
إِنَّ فِى أُ مَّتِى لَنَيفًا وَسَبْعِينَ دَا عِيًا كَُلُّهُمْ دَاعٍ إِلَى النَّارِ لَوْأَشَاءُ لأَنْبَأْتُكُمُ بِأَسْمَائِهِمْ وَقَبَائِلِهِمْ
 “Sesungguhnya akan ada pada umatku tujuhpuluhan lebih da’i semuanya mengajak ke neraka, jika aku mau akan kukabarkan kepada kalian nama-nama dan suku-suku mereka.” Sanad hadist ini tidak mengapa.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad di atas sebuah hadist tentang minum dengan menempatkan mulut di air serta minum dengan tangan, berkata Al-Hafidz Abu Ya’la : telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dari Muhammad bin Al-Hasan  Al Asady dari Harun bin Shaleh Al Hamdaany dari AlHirs bin ‘Abdurrahman dari Abull Jallas, ia berkata, aku mendengar Ali berkata kepada ‘Abdullah bin Saba’ : celakalah engkau, tak ada satupun  yang sampai kepadaku kecuali akan aku sampaikan kepada manusia, dan aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “bahwasanya akan ada sebelum kiamat tiga puluh orang pendusta”, dan engkau salah seorang diantara mereka. Diriwayatkan pula oleh Abu Bakar bin Syaibah dari Muhammad bin Al Husain sebagaimana di atas.

Abu Ya’la berkata, telah menceritakan kepada kami Zahrah dari Jarir dari Tlais dari Bisyr dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Akan datang sebelum munculnya Dajjal tujuhpuluh lebih pembohong.” Dalam hadist ini terdapat keganjilan adapun di dalam kitab shahih lebih kuat.

Ahmad berkata’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazak dari Ma’mar dari Zuhri dari Thalhah bin  ‘Abdullah dari Auf dari Abu Bakar, ia berkata, Musailamah  datang dengan tiba-tiba sebelum Nabi mengucapkan sesuatu, lalu Rasulullah berdiri dan berkotbah, beliau bersabda : “Adapun pria ini yang kalian banyak menceritakannya ia adalah pembohong diantara tiga puluh pembohong yang akan keluar sebelum terjadinya kiamat dan tidak ada satu negeripun kecuali ancaman Dajjal akan menghampirinya.”

Dan juga telah diriwayatkan oleh Ahmad dari Hajjaj dari Laits bin Sa’ad dari Uqil dari Ibnu Syihab dari Talhah dari ‘Abdullah bin Auf dari Iyad bin Nafi’ dari Abu Bakrah kemudian ia menyebutkannya, di dalamnya terdapat tambahan : “Sesungguhnya ia adalah pembohong diantara tiga puluh pembohong yang keluar sebelum Dajjal, dan tidak ada satu negeripun kecuali akan ancaman Dajjal akan menghampirinya.” Ahmad menyendiri dalam riwayat ini dari dua jalur.

Imam Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far al Madany ( Muhammad bin Ja’far ) dari Abbad bin Al Aram   dari Muhammad bin Ishak  dari Muhamm bin Al Munkadir dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Bahwasanya sebelum datangnya Dajjal akan ada tahun-tahun penuh dengan tipu daya, orang yang biasa berkata benar jadi berdusta, dan para pendusta dibenarkan perkataannya, orang yang jujur berkhianat, dan para pengkhianat diberi kepercayaan, dan ruwaibidah pada saat itu turut berbicara, ditanyakan : siapakah ruwaibidah itu ? Beliau menjawab : orang-orang dungu yang ikut berbicara dalam urusan umat.” Sanad hadist ini baik. Ahmad menyendiri pada jalur ini. (Lr-Ibnu Katsir)
www.eramuslim.com

Kenapa Kanan Selalu didahulukan Dibanding Kiri?

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, & dalam seluruh aktifitas beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5926 & Muslim no. 268)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
“Apabila salah seorang dari kalian memakai sandal, hendaknya memulai dengan yang kanan, & apabila dia melepas hendaknya mulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan pertama kali mengenakan sandal dan yang terakhir melepasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5856 & Muslim no. 2097)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِلَبَنٍ قَدْ شِيبَ بِمَاءٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ وَعَنْ يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ فَشَرِبَ ثُمَّ أَعْطَى الْأَعْرَابِيَّ وَقَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi minum susu campur air, sementara di sebelah kanan beliau ada seorang badui dan di sebelah kiri beliau ada Abu Bakr. Maka beliau minum kemudian beliau berikan (sisanya) kepada orang badui tersebut. Beliau bersabda: “Hendaknya dimulai dari sebelah kanan dahulu dan seterusnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5619 & Muslim no. 29029)
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ
“Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika dia minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan  minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim no. 3764)
Penjelasan ringkas:
Memulai dengan yang kanan pada seluruh amalan-amalan yang sifatnya amalan kemuliaan merupakan salah satu di antara tuntunan Islam yang mulia. Ini menunjukkan bagaimana keuniversalan Islam karena menyinggung masalah yang mungkin dianggap remeh banyak orang, yaitu dalam mengerjakan sesuatu apakah dimulai dari yang kanan atau yang kiri, menggunakan tangan kanan atau tangan kiri, menggunakan kaki kanan atau kaki kiri.
Adapun hikmah dianjurkannya memulai dengan yang kanan pada amalan-amalan yang sifatnya kemuliaan, karena kanan itu lebih mulia daripada kiri.
Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya:
1.    Kedua tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
“Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla -sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan-: Yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga, dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 3406)
2.    Kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memulai setiap aktifitasnya dengan yang kanan.
3.    Karena menggunakan tangan kiri dalam makan adalah perbuatan menyerupai setan, padahal Islam telah mengharamkan seseorang itu serupa dengan setan.
4.    Nabi shallallahu alaihi wasallam mendahulukan orang yang di sebelah kanan beliau padahal dia hanyalah arab badui & mengundurkan orang yang ada di sebelah kiri beliau padahal di situ ada Abu Bakr.
5.    Dalam wudhu anggota wudhu yang kanan lebih didahulukan untuk dicuci daripada yang kiri.
6.    Dan masih banyak dalil-dalil lainnya.
Karenanya disunnahkan seseorang untuk mulai dengan yang kanan pada setiap amalan kemuliaan, seperti: Masuk masjid mulai dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, masuk ke kamar kecil dengan kaki kiri dan keluar darinya dengan kaki kanan, menyentuh kemaluan dengan tangan kiri, bersiwak dengan tangan kanan. Wallahu a’lam
sumber: www.al-atsariyyah.com tags: Alaihi Wasallam, Abu Hurairah,
www.eramuslim.com

Islam Adalah Agama Untuk Realitas

Setiap orang diciptakan Allah سبحانه و تعالى ke muka bumi dengan karakter diri masing-masing yang berbeda-beda. Ada orang yang cenderung penyabar ada pula yang cenderung pemarah. Ada orang yang cenderung dermawan ada yang cenderung bakhil. Ada yang cenderung pandai bersyukur ada yang cenderung mudah berkeluh-kesah. Ada yang cenderung pemikir ada yang cenderung perasa. Inilah keaneka-ragaman yang biasa disebut individual differences (perbedaan individual).
Kemudian setiap orang dengan individual differences tadi hidup di dunia dalam realitasnya masing-masing yang juga berbeda-beda. Interaksi antara perbedaan individual dengan aneka realitas itulah yang membuat hidup di dunia menjadi dinamis dan terkadang menimbulkan berbagai gesekan bahkan konflik.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. (QS Al-Isra 84)
Seringkali kepentingan setiap individu berbenturan dengan kepentingan individu lainnya. Inilah yang kemudian menimbulkan konflik. Tetapi sebenarnya ada jalan supaya konflik tidak berkembang sampai menjadi perang dimana manusia menjadi saling berbunuhan satu sama lain. Dan inilah rahasianya mengapa Allah سبحانه و تعالى mengirim para Nabi-NabiNya dari masa ke masa. Agar para Nabi tersebut menjadi hakim yang memutuskan perkara dengan adil berdasarkan Kitabullah yang mereka terima.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS Al-Baqarah 213)

Jadi fungsi diutusnya para Nabiyullah ‘alaihimus-salam bukan hanya sebagai mubasysyiriin (pembawa

kabar gembira) adanya surga di akhirat bagi hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang taat kepada Nabi dan Kitabullah yang dibawanya. Bukan hanya sebagai munzhiriin (pemberi peringatan) akan adanya neraka di akhirat bagi hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang mengingkari Nabi dan Kitabullah yang dibawanya. Tetapi sebagai pemberi keputusan dalam berbagai perkara yang diperselisihkan oleh manusia. Dan keputusan yang diberikan para Nabi berlandaskan atau berpedoman kepada Kitabullah yang diturunkan Allah سبحانه و تعالى kepada para Nabiyullah tadi. Jika masyarakat mentaati keputusan tersebut maka mereka akan tetap menjadi ummat yang satu, tidak bercerai-berai, apalagi saling berbunuhan. Tapi jika masyarakat mengingkari keputusan berdasarkan Kitabullah yang diputuskan oleh Nabi, maka mereka bakal hidup sengsara, baik di dunia apalagi di akhirat.
Lalu setelah terputusnya rantai pengiriman para Nabi bagaimana manusia menyelesaikan perselisihan di antara mereka? Nabi Akhir Zaman telah diutus, yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Berarti tidak bakal ada lagi Nabiyullah yang diutus ke muka bumi dengan membawa Kitabullah baru. Lalu bagaimana manusia menyelesaikan berbagai perselisihan yang muncul sesudah wafatnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم ?

Di sinilah letak keistimewaan dienullah Al-Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak sebagaimana Nabi-Nabi terdahulu yang setiap diutus Allah سبحانه و تعالى senantiasa mengisyaratkan bakal datangnya Nabi berikutnya untuk menyempurnakan agama Allah سبحانه و تعالى. Maka kehadiran Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dengan Kitabullah Al-Qur’anul Karim menandakan telah sempurnanya proyek Risalah yang telah berlangsung sepanjang sejarah kemanusiaan. Tidak lama lagi dunia akan berakhir. Tibalah Yaumul Qiyamah.

Artinya, dengan selesainya penyampaian wahyu Kitabullah Al-Qur’an telah sempurnalah ajaran Allah سبحانه و تعالى bagi ummat manusia hingga datangnya hari kiamat. Manusia tidak sepantasnya berfikir mencari-cari ajaran selain Al-Qur’an untuk menyelesaikan berbagai perselisihan yang muncul. Bahkan Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa kaum kafirpun sudah putus harapan untuk dapat menandingi apalagi mengungguli agama
Allah Al-Islam yang sudah sempurna itu.
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah 3)

Masalah muncul ketika mayoritas manusia meragukan bahkan mengingkari kesempurnaan Islam yang dibawa Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Jika yang meragukan adalah kaum kafir, kita tentu dapat memakluminya. Tetapi di era penuh fitnah dewasa ini, kita bahkan menyaksikan bahwa yang turut meragukan bahkan mengingkari kesempurnaan dienullah Islam meliputi mereka yang mengaku dirinya kaum muslimin juga. Sehingga kita dipaksa menyaksikan dan mendengar statement dari tokoh Islam, yang berkata misalnya: “Ajaran founding-father bangsa kita ini sejalan dengan Islam. Maka kita tidak perlu mempertentangkannya dengan Islam.”

Atau misalnya kita mendengar ungkapan seorang muslim-defitis (muslim bermental pecundang) yang berkata: “Kalau kita paksakan Islam kepada seluruh masyarakat ini tentunya kita menjadi kaum yang zalim. Sebab tidak semua orang di negeri kita adalah muslim. Oleh karenanya kita jadikan ajaran nenek-moyang kita sebagai platform yang disepakati bersama, sekedar sebagai batu loncatan sebelum akhirnya Islam juga yang kita berlakukan.”

Tidakkah orang-orang tersebut membaca ayat Allah سبحانه و تعالى di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS Al-Baqarah 185)
Jelas di dalam ayat di atas Allah سبحانه و تعالى sendiri mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia. Allah tidak membatasi Al-Qur’an sebagai petunjuk hanya bagi kaum muslimin. Kalau Allah سبحانه و تعالى mengatakan ia merupakan petunjuk bagi manusia berarti meliputi segenap manusia. Apakah ia orang Arab atau orang ‘Ajam (orang non-Arab). Apakah ia muslim atau ia kafir. Semua termasuk manusia. Artinya, Allah سبحانه و تعالى menjamin bahwa bila Al-Qur’an diberlakukan sebagai platform masyarakat, maka ia akan sesuai untuk semua fihak yang namanya komunitas manusia. Berbeda dengan kitab-kitab Allah سبحانه و تعالى sebelumnya yang memang belum sempurna sehingga belum dilegalisir untuk berlaku bagi segenap manusia. Taurat dan Injil, misalnya. Kedua Kitabullah tersebut diwahyukan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihimas-salam. Tetapi Allah سبحانه و تعالى sendiri menegaskan bahwa ia hanya berlaku bagi suatu kaum tertentu, yakni Bani Israel. Bukan untuk segenap manusia.

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel.” (QS Al-Isra 2)
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa as) Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel.” (QS Ali Imran 48-49)

Lalu di era modern ini ada sebagian orang berpendapat dengan prinsip bahwa “agama Islam adalah untuk realitas.” Maka, dengan dalih ini mereka berpendapat bahwa Islam perlu disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi yang sudah jauh berkembang dan berbeda dari zaman Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dan para sahabat. Masyarakatpun telah berubah dibandingkan dengan masyarakat saat Islam awal berkembang di jazirah Arab limabelas abad yang lalu. Atas dasar perubahan realitas inilah kemudian mereka memandang Islam sendiri perlu “disesuaikan” dengan perubahan dan perkembangan tersebut. Artinya, mereka memandang bahwa jika Islam ingin tetap up to date dan diterima oleh masyarakat modern, maka Islam harus ditampilkan dengan tampilan yang berbeda. Alias mereka ingin beragama Islam yang bukan seperti Islam yang dibawa dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم .

Akhirnya, alih-alih mereka mewujudkan realitas yang diarahkan oleh Islam, malah mereka menerima dan membenarkan segenap realitas menyimpang yang ada di sekitar dirinya. Bahkan mereka memberikan dalil ayat dan hadits untuk melegitimasi realitas menyimpang tersebut. Inilah tafsiran konyol mereka terhadap prinsip bahwa “agama Islam adalah untuk realitas.” Sehingga tidak kurang seorang Sayyid Qutb menyoroti fenomena ini di dalam kitab monumentalnya Ma’alim Fit-thoriq (Petunjuk Jalan). Inilah petikannya:
Perkataan “agama itu adalah untuk kenyataan” telah salah dimengerti dan juga telah salah dipergunakan. Tentu saja agama ini adalah untuk kenyataan. Tetapi kenyataan yang mana? Yaitu kenyataan yang timbul dari agama itu sendiri, sesuai dengan metode-nya, sesuai dengan fitrah manusia semuanya. Memenuhi kebutuhan manusia sesungguhnya dalam kese-luruhannya. Yaitu kebutuhan-kebutuhan yang telah ditetapkan oleh Yang Menciptakan dan Yang Mengetahui apa yang diciptakan-Nya.

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS Al-Mulk 14)

Agama tidaklah menghadapi sembarang kenyata­an saja, lalu mengakuinya, dan mencari-carikan alasan baginya, atau mencari-carikan hukum agama baginya seperti slogan-slogan yang dipinjam. Agama meng­hadapi kenyataan, untuk ditimbanginya dengan timbangannya ditetapkannya mana yang akan ditetapkannya, dibatalkannya mana yang akan dibatalkannya, dan didirikannya suatu kenyataan baru, seandainya kenyataan yang ada tidak disenanginya, dan kenyataan yang diadakannya itulah yang benar-benar kenyataan. Inilah pengertian kata-kata: Islam itu agama kenyataan. Atau begitulah semestinya arti da­lam pengertian yang benar.

Barangkali di sini timbul pertanyaan :
“Bukankah kepentingan manusia yang seharusnya membentuk kenyataannya ?”
Sekali lagi kita kembalikan pertanyaan yang telah dikemukakan Islam dan telah dijawabnya sekaligus :
“Kamukah yang lebih tahu atau Allah ?”
“Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui”.(QS Al-Baqarah 216)
Kepentingan manusia terkandung dalam hukum Allah, sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah, sebagaimana yang telah disampaikan kepada kita oleh RasulNya.
Kalau manusia pada suatu hari menyadari bahwa kepentingannya adalah dalam menentang hu­kum Allah, maka keadaan mereka itu, adalah sebagai berikut:

Pertama-tama, mereka itu hanya “berimajinasi” saja, mengenai apa yang mereka sadari itu.
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ
رَبِّهِمُ الْهُدَى أَمْ لِلإنْسَانِ مَا تَمَنَّى فَلِلَّهِ الآخِرَةُ وَالأولَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS An-Najm 23-25)

Kedua, karena mereka itu “orang-orang kafir”. Seseorang yang menyangka bahwa kebaikannya (maslahatnya) menurut pendapatnya bertentangan dengan hukum Allah, tidak mungkin satu detikpun tinggal dalam agama ini, dan termasuk ke dalam para pemeluk agama ini. (Petunjuk Jalan-Media Da’wah cetakan VI 2000 hlm 160-163)

Saudaraku, tugas kita di dunia ini hanyalah beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Dalam upaya kita beribadah menegakkan kalimah Allah سبحانه و تعالى terkadang Allah سبحانه و تعالى mudahkan kita merubah realitas tapi tidak jarang Allah سبحانه و تعالى tidak izinkan kita merubah realitas. Yang paling penting adalah memastikan bahwa kita tetap beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى baik realitas berhasil kita ubah maupun tidak. Jangan sampai demi menyesuaikan diri dengan realitas lalu kita rela merubah dienullah. Yang berarti kita rela untuk tidak lagi beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya. Na’udzubillahi min dzaalika…!
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS Al-Bayyinah 5)

Sungguh berat menegakkan sunnah Nabi صلى الله عليه و سلم di era penuh fitnah seperti sekarang. Karena begitu banyak ajakan sesat yang seringkali berbungkus ajaran Islam padahal sejatinya sudah bukan Islam yang orisinal sebagaimana dibawa dan dicontohkan oleh Rasullah صلى الله عليه و سلم. Sehingga kita harus waspada jangan sampai ikut-ikutan dengan ajaran sesat berbungkus ayat, hadits dan siroh Nabi صلى الله عليه و سلم yang penggunaannya bukan untuk merubah realitas menyimpang yang berlaku, malah menjustifikasinya.
Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepadanya. Ya Allah, janganlah Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang berwudhu bahkan sholat namun iman dan islam kami ditolak oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم tatkala kami berjumpa dengannya di telaga al-haudh di hari berbangkit. Sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, ” Sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.” Para Sahabat bertanya, ‘Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab dengan bersabda: “Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud.” Sahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab dengan bersabda: “Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu? ‘ Para Sahabat menjawab, ‘Sudah tentu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda lagi: ‘Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat’. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah kamu semua’. Maka dikatakan, ‘Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat’. Maka aku bersabda: “Pergilah jauh-jauh dari sini.” (MUSLIM – 367) Shahih
www.eramuslim.com

Monday, 15 April 2013

Perang Otak di Zaman Kotak-kotak

Oleh: Falah Abu Ghuddah*
Kemunduran Islam sudah sangat akut. Hampir di seluruh aspek dan lini Islam seakan tak punya taring. Teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hingga ke sendi-sendi moral dan ibadah agama suci ini banyak mengalami kemunduran. Faktor intim dari sekian bentuk kemerosotan ini tak lepas dari mainstream-mainstream dan doktrin serta berbagai konspirasi yang di lakukan para musuh Islam walau ada beberapa faktor yang berasal dari kaum Muslim sendiri. Hal ini memang terlihat subjektif namun ia dapat kita rasakan bersama. Hampir semua kendali dan alih dunia dimiliki dan ditarik oleh non-Islam, hingga memunculkan berbagai isu-isu anti Islam dan Islamofobia selalu digencarkan di berbagai media seluruh dunia.
Tulisan ini tak bertujuan untuk membeberkan fakta-fakta yang berada di balik seluruh konspirasi besar ini namun hanya ingin menyadarkan bahwa kita sedang dijajah oleh para neo-kompeni walau tidak nampak dalam bentuk nyata. Neo-kolonial ini lebih sering kita dengar dengan ungkapan perang pemikiran atau Ghazwul Fikri. Minimal dengan kesadaran terhadap adanya musuh membuat kita semakin peka terhadap apa yang sebenarnya terjadi dan terbebas dari intrik terselubung ini atau minimal kita mampu mengantisipasinya.

Secara singkat perang pemikiran dapat diartikan berupa berbagai upaya yang dilakukan oleh satu bangsa untuk menguasai bangsa lain. Namun secara lebih spesifik perang ini lebih mengarah pada berbagai upaya yang dilakukan para musuh Islam untuk menguasainya.
Perang Pemikiran ini lebih berbahaya ketimbang perang prajurit atau tentara (al-ghazw al-‘askarī), karena perang pemikiran berjalan secara “rahasia”. Sehingga, bangsa yang diperangi tidak merasa bahkan tidak siap untuk membendungnya. Pada gilirannya, bangsa yang diperangi menderita sakit pemikiran dan mencintai dan membenci apa yang disukai dan dibenci oleh musuhnya.

Dalam salah satu tulisannya Qosim Nurseha (Penulis buku Salah Paham tentang Islam: Dialog Teologis Muslim-Kristen di Dunia Maya) mengutip opini beberapa tokoh Islam. “Perang pemikiran”, menurut Alī ‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd dalam “al-Ghazw al-Fikrī wa al-Firaq al-Mu‘ādiyah li al-Islām” (al-Riyāḍ, 1981) memiliki banyak otot untuk memangsa bangsa-bangsa lain dan menghilangkan identitasnya. Secara umum, perang pemikiran ini biasa terjadi terhadap bangsa-bangsa berkembang (al-umam al-nāmiyah) dan secara khusus terhadap umat Islam.
Menurut Khādim Ḥusain dalam “al-Ghazw al-Fikrī Ta‘rīfuhu wa Ahdāfuhu”, kalangan non-Muslim sangat terbiasa melakukan praktik ini. Tujuannya mengajak umat lain untuk “menghilangkan” karakteristik kehidupan islami, mengalihkan umat Islam agar tidak berpegang kepada akidah dan etika Islam. Biasanya, sasaran “perang pemikiran” adalah fondasi Islam, yaitu: akidah, ekonomi, sistem pemerintahan, sistem pendidikan bahkan penerangan.

Melalui “perang pemikiran”, seseorang tak harus berganti agama, misalnya dari Islam  menjadi Kristen namun tanpa seseorang akan bisa hilang karakteristik kehidupan islaminya. Penjelasan di atas mengingatkan kita pada pandangan sejarawan, sosiolog dan antropolog Muslim klasik, Ibn Khaldūn (w. 808 H). Dalam kitab al-Muqaddimah ia menyatakan bahwa bangsa pecundang selalu mengikuti bangsa pemenang, baik dalam: syiar (motto hidup), pakaian, keyakinan, tindak-tanduk bahkan kebiasaannya. Sikap meniru itu, kata Ibn Khaldūn, disebut al-iqtidā’.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita kaji beberapa fase kelahiran perang pemikiran ini. Secara garis besar Ali Muhammad Jarisyah dan Muhammad Syarif  -dalam bukunya Asalib al-ghazw al-fikri lil al-‘alam al-slami- membagi fase perang pemikiran ini dalam tiga tahapan; pra runtuhnya khilafah Uthsmaniyah (khilafah Islam terakhir), ketika runtuhnya khilafah dan setelah runtuhnya khilafah.
Fase pertama, pra runtuhnya Khilafah Uthmaniyah. Pada fase ini para musuh Islam membaginya dalam empat proyek besar; perang salib, gerakan orintalisme (al-istisyroq), misionaris atau kristenisasi (at-tabsyir) dan pemecahan Khilafah Usthmaniyah. Pada proyek pertama ternyata kaum non-muslim mengalami kekalahan telak. Perang yang disponsori oleh para pemuka agama serta dimotori dan didukung para pemikir besar tak membuahkan hasil. Umat Islam yang ketika itu sudah mulai terpecah-pecah dan terkoyak-koyak kembali bangkit dan bersinergi untuk membela agama mereka. Seruan jihad dan mati syahid ternyata lebih dahsyat dari kobaran semangat pendeta-pendeta dan tokoh Yahudi. Peperangan ini juga mencatat beberapa tokoh penting yang menorehkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah Islam sebut saja Nurudin Mahmud Zinki at-Turki dan Solahuddin al-Ayyubi al-Kurdi.

Setelah mengalami kekalahan telak dalam perang yang berlansung ratusan tahun ini akhirnya mereka mendapat kongklusi bahwa Islam tidak akan dapat ditaklukan kecuali setelah meraih pikiran, akidah dan otak mereka.  Akhirnya mereka mencetuskan dua proyek besar lainnya berupa orientalisme dan kristenisasi (al-istisyroq wa at-tabsyir).

Selain mendapati kekalahan telak ternyata perang salib juga membuahkan sebuah produk pemikiran baru berupa orientalisme dimana para sekelompok orang barat mulai mengkaji dan menulis perihal ketimuran dan Islam, namun yang disayangkan adalah bahwa sikap fanatisme mereka yang tinggi terkadang membuat tidak objektif dalam menilai Islam hingga menghilangkan nilai-nilai keilmiyahan suatu ilmu, berdampak pada pencorengan dan pencitraan yang buruk terhadap Islam.

Banyak peneliti menilai bahwa orientalisme adalah buah karya koloni dan kristenisasi dimana para penjajah berusaha agar Islam tak dapat memperlebar wilayah serta membangun kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaan kompeni, sedangkan kristenisasi bertujuan untuk menghadang laju Islam supaya tak menjadi rival Kristen.

Proyek orientalisme terus diluncurkan seiring bergulirya waktu, mereka terus membenahi dan memodifikasi kinerja hingga awal abad 13 Masehi mereka merubah pola kerja mereka dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang mempelajari bahasa, kultur dan hal-hal ketimuran. Dengan bertopeng reseach ilmiyah, mereka mengusung objektifitas keilmuan untuk menarik para pelajar timur belajar di sana dengan beasiswa penuh, tak jarang sepulang dari sana para pelajar inilah yang menjadi mercusuar dan terompet mereka dengan membawa paham dan misi muslihat ini. Selain misi orientalis mereka juga menyebarkan misi kristenisasi dimana mereka membangun sekolah dengan metode barat yang memisahkan agama dengan ilmu dan negara, membuat majalah, buletin, seminar dan simposium untuk menggoalkan hajat ini.

Proyek meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah terus digulirkan pada fase awal ini. Setelah “melaunchingkan” dua program besar (orientalisme dan kristenisasi) Islam kembali dipecah belah mulai dari sisi geografis hingga kesatuan. Dua kekuatan besar saat itu –Inggris dan Prancis- mulai mensekat-sekat daulah Islam menjadi negara-negara. Meraka juga memecah persatuan umat dengan politik belah bambu dimana pohon tak dapat dirobohkan kecuali oleh bagian pohon tersebut (kapak kayu). Dengan asumsi ini mereka menggandeng Mustafa Kamal at-Tatruk dengan partainya (hizbu al-ittihad wa at-taraqqi( untuk melengserkan Sultan Abdul Majid II dari kekuasaannya. Dari sinilah perang otak memasuki fase ke dua, saat-saat keruntuhan Khilafah Islamiyah.

Tak kurang dari tiga strategi telah mereka siapkan ketika melewati fase ini diantaranya menyebarkan faham sekularisme (memisahkan agama dan negara), nasionalisme  dan separatisme yang menyebabkan fanatik buta hingga berujung pada misi peruntuhan khilafah. Setelah diserang dari beberapa arah –politik, ekonomi, akidah hingga agama- akhirnya mereka dapat merayakan keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 1924 M.
Tak puas sampai di sana, mereka juga mengagendakan beberapa program pasca runtuhnya khilafah atau fase ketiga. Pada fase inilah gerakan perang pemikiran dengan dua sayapnya (orientalisme dan kristenisasi atau misionaris) serta berbagai cara semakin digencarkan belum ditambah dengan proyek-proyek lain yang terdapat dalam protokolat zionis.

Muhammad Mahmud As-Showwaf dalam bukunya Al-Mukhothothot al-isti’miryah li mukafahati al-Islam menuliskan beberapa alternative dalam “perang era modern” ini, diantaranya membuka sekolah-sekolah asing dengan metode belajar yang sekuler (memisahkan agama dengan ilmu dan hal lain), menyebarkan majalah, video dan film-film “hot”, menguasai ekonomi dan pasar, memarginalkan turats serta mengalihkan pada metode dan konsep barat, menggemborkan emansipasi wanita, mempopulerkan bahasa tidak resmi dan arabisasi (‘ammiyah wa musta’robah) dan lain-lain dimana mereka tak memberikan satu celahpun kepada Islam untuk bangkit dan berjaya kembali.

Melihat kemunduran dan keterbelakangan umat selama ini banyak para pemikir dan pejuang Muslim yang berusaha untuk mengembalikan Islam pada masa-masa emasnya. Walau demikian tak jarang terjadi pro dan kontra antara gerakan dan jama’ah yang satu dengan lainnya. Perbedaan ini menurut hemat kamikembali pada pandangan dasar setiap gerakan, pembenahan apa yang harus didahulukan dan menjadi prioritas; akidah, politik, hati dan jiwa, tingkah laku atau hal lainya. Maka di bawah ini kami uraikan secara sekilas beberapa gerakan Islam (haraqah Islamiah) dengan tidak bermaksud mencari kelemahan dari masing-masing gerakan namun agar kita dapat lebih mengenal dan memahami usaha dan jerih payah setiap gerakan ini.

Secara umum, ada lima pergerakan Islam yang masih eksis keberadaannya dan menyebar di saentero dunia. Beberapa gerakan itu antara lain Jamaah Tabligh, Salafi, Shufi, Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin.  
Pertama, Jamaah Tabligh. Dalam menjalankan aktivitas dakwahnya jamaah yang didirikan oleh Syeikh Muhammad Ilyas ini menggunakan metode nasihat dan bimbingan. Jamaah ini memiliki beberapa poin yang sering mereka dakwahkan dalam setiap perkumpulan dan pertemuannya (bayan) diantarnya; kalimah toyyibah, sholat khusyu’, ilmu dan zikir, ikrom (menghormati) muslim dan ikhlas. Mereka juga mewajibkan pengikutnya agar meluangkan waktu untuk melakukan tugas dan kewajiban dakwah. Satu jam dalam satu minggu, sehari dalam sebulan atau sebulan dalam setahun atau dalam waktu yang mereka mampu.  Kesempatan inilah yang dimanfaatkan untuk berdakwah dan menyeru manusia kepada Allah di seluruh penjuru dunia dan dikenal dengan khuruj atau jaulah.

Kedua, Jamaah Salafiyah. Arti kata salafiyah sendiri adalah kembali kepada pemahaman Islam yang berasal dari dua sumber, Al-Quran dan Sunah Rasulullah SAW, sebagaimana yang dipahami ulama salaf. Adapun yang dimaksud dengan kaum salaf adalah era tiga abad pertama yang digambarkan oleh Rasululllah SAW sebagai generasi terbaik. Salafiyyun, meyakini bahwa penyebab kehinaan kaum muslimin adalah perbedaan dalam memahami ajaran Islam, fanatik, dan jumud terhadap pemikiran dan mazhab yang beragam. Mereka juga meyakini bahwa sumber masalah umat Islam adalah akidah mereka yang sudah rusak. Maka misi terbesar dari jamaah ini adalah memurnikan akidah dan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf as-soleh. Pemikiran dan pergerakan jamaah ini merujuk pada Imam Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abdul Wahab.

Ketiga, Jamaah Shufiyah. Secara umum, tujuan yang hendak dicapai pada jamaah ini adalah batin setiap individu dan pembersihan terhadap jiwanya. Jamaah ini menekankan pada ibadah-ibadah ritual dan membangun pribadi muslim. Sesuai dengan pepatah As-Solah qobla al-islah (perbaiki diri dulu baru memperbaiki orang lain). Kesalahan dan hal negatif yang dinisbahkan pada tasawwuf dan jamaah ini sering terjadi pada oknum saja bukan esensi dan hakihat jamaah tersebut.  Keempat, Hizbut Tahrir. Lahir di awal 1950-an. Syeikh Taqiyudin An-Nabhani adalah pendirinya. Anggota Pengadilan Banding Agama di Al-Quds dan alumni Al-Azhar ini telah menerbitkan sebuah buku pada April 1950 berjudul, Risalatul Arab, karakter nasionalis beliau jelas tergambar dalam buku tersebut.

Menurut DR. Shadiq Amin, hizb ini beranggapan bahwa tugas yang mereka hadapi adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap berbagai pemikiran Islam. Itu dapat dilakukan melalui amal tsaqafi (pengayaan wawasan pengetahuan) dan amal siyasi (kerja politik). Dan itu semua bertujuan untuk mengembalikan tegaknya khilafah Islam.

Kelima, Ikhwanul Muslimin. Gerakan Ihkwan sejak awal menyatakan bahwa gerakan mereka adalah gerakan yang integral dan mencakup semua bentuk aktifitas. Al-Ikhwan Al-Muslimun didirikan pertama kali di Ismai’liyyah, sebuah wilayah di Mesir oleh Hasan Al-Banna pada tahun 1928 M. Mulai dari ceramah beliau di kedai-kedai kopi hingga menjadi sebuah gerakan yang besar dan memiliki cabang di berbagai pelosok Mesir bahkan ke berbagai negara Arab lainnya. Dari segi level dan usia kematangan gerakan, Ikhwan termasuk gerakan Islam yang paling besar dan senior. Mereka memilik banyak kekuatan sumber daya manusia dari ulama, tentara, pejabat, ilmuwan, mahasiswa, pedangan, petani, nelayan dan para pemuda.

Salah satu kelebihan gerakan ini adalah kemampuan mereka merekrut pendukung dan kepiawaian dalam membentuk sturktur yang solid. Sehingga mampu menghimpun sekian banyak potensi umat menjadi sebuah kekuatan raksasa yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Dalam banyak literatur, mereka menerapkan sistem usroh yang berjalan secara kontinu untuk semua anggota mereka.
Disamping itu, relatif banyak jumlah gerakan dakwah islamiah dan aliran-aliran haraqah lain yang mestinya membuat kita lebih cerdas dalam memahami Islam. Lalu, sikap apa yang mestinya ditunjukkan oleh masing-masing haraqah atau jamaah serta umat Islam yang belum memutuskan untuk bergabung dan berkomitmen dalam sebuah jamaah. Ada baiknya kita mengutamakan persamaan dan menjauhi perbedaan apalagi perbedaan yang terjadi hanya berkisar pada furu’iyah bukan ushuli. Sudah semestinya masing-masing haraqah islamiah saling menghargai tanpa menyibukkan diri untuk mencari celah perbedaan dan berjuang tulus dan ikhlas untuk mengibarkan bendera Islam bukan karena rasa etnosentris haraqah.
Persoalannya sekarang adalah sebagian dari haraqah islamiah ada yang melenceng dari apa yang semestinya dilakukan oleh sebuah haraqah islamiah yakni menyebarkan nilai-nilai yang ada di dalam Islam itu sendiri. Timbulnya perpecahan tak lain tak bukan karena sebagian jamaah yang membesarkan persamaan. Padahal, jika dilihat secara mendalam, titik kesamaannya lebih banyak, terutama dari sisi tujuan masing-masing secara umum.

Menurut Dr. Shadiq Amin dalam bukunya “Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal”, bila dilihat secara teliti, sebenarnya, semua jamaah umat Islam yang ada mempunyai titik kesamaan; (a) akidahnya sama, yakni beriman kepada Allah dan seluruh nabi dengan tanpa sedikit pun dikurangi, (b) semuanya berjuang untuk mengajarkan Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Islam benar-benar menjadi pedoman hidup, baik secara mikro maupun makro, (c) referensinya sama, yakni Al-Quran dan hadis dan sejarah para Khulafa ar-Rasyidin, (d) tantangan yang dihadapi sama: musuh-musuh Allah dan pemikirannya yang selalu menghambat umat Islam dalam berdakwah. Kalau ternyata secara prinsip sama, sementara hanya dari segi nama dan cara berdakwah, sungguh, tidak ada alasan untuk saling bermusuhan.
Maka kaidah al-jam’u baina syaiaini khoirun min ihmali ahadihima (mengumpulkan dua hal lebih baik daripada membuang salah satunya) sangat tepat untuk menyatukan umat. Apalagi pada zaman yang sudah sangat terkotak-kotak ini. Toh, gelas yang kosong masih menyimpan air yang lebih banyak dibanding ruang kosong yang ada di dalamnya, persamaan di antara kita lebih banyak mengapa selalu melihat titik perbedaan, kelebihan yang ada lebih dominan dari kekurangannya. Mudah-mudahan Allah selalu menguatkan dan menyatukan barisan kita menuju rido-Nya. Qul kullun ya’malu ‘ala syakilatih wa robbukum Huwa ‘alamu biman huwa ahda sabila (setiap kita berbuat sesuai modelnya sedangkan Allah jua lah yang lebih tahu siapa diatara kita yang mendapat petunjuk-Nya). Teruslah berusaha dan berbuat untuk agama kita mudah-mudahan hidayah Allah selalu mengiringi setiap langkah perjalanan kita. Wallahu ‘alam bi showab.
Istana Cinta-Lembah Juang Kairo, 31-03-2013

Syirik di Tengah Kita, Mulai Eyang Subur Sampai Ritual UN

(Oleh: Adam Cholil, Pengajar di HSG Khoiru Ummah Gresik)

Perilaku syirik di tengah masyarakat kita sudah menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan anak-anak sekolah sudah diajarkan berbuat syirik. Menjelang UN banyak cara dilakukan agar ujian diberi kelancaran. Mulai doa bersama sampai ritual syirik. Belum lama ini kita juga digemparkan dengan berita Eyang Subur yang telah banyak merugikan orang terutama kalangan selebritis dengan praktek syiriknya. Mereka, para selebritis itu, yang katanya modern ternyata masih suka mendatangi dukun. Dukun-dukun itu seolah-olah menawarkan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi manusia, mulai dari ekonomi, karir, lulus ujian, sampai rumah tangga. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak orang yang was-was dan bingung dalam menjalani kehidupan. Hal ini tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi global yang tengah menggejala. Maka tawaran para penjaja kemusyrikan itu tak pelak menjadi semacam oase ditengah gurun pasir. Tidak sedikit masyarakat yang tengah megap-megap dan kelimpungan menghadapi kondisi hidup yang serba sulit ini kemudian tergiur tawaran yang menjanjikan itu. Dan herannya yang mencoba peruntungan kepada paranormal itu bukan hanya datang dari kalangan awam tetapi juga kalangan berilmu.

Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah para tukang ramal dan dukun tersebut dapat memberikan jalan keluar yang baik dari persoalan-persoalan yang tengah menimpa manusia sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan? Bagi orang beriman tentu kita harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberikan jalan keluar yang baik kecuali Allah swt. Dia saja lah yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa manusia. Allah swt. Berfirman :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. Ath Thalaq, [65]:2)

Dan orang beriman juga harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau menolak mafsadat (bencana) terhadap seseorang kecuali jika Allah menghendaki. Dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan dicatat dalam kitab “Az-Zawaajir”, Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ibnu Abas: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakanmu maka mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepadaMu.” Bagaimana dengan seorang paranormal? Jika berkumpulnya seluruh manusia untuk memberikan manfaat atau menghindarkan bencana yang akan menimpa seseorang saja tidak bisa, apalagi hanya seorang paranormal yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Logika ini sudah cukup bagi kita untuk tidak percaya 100% kepada para pendusta tersebut.

Orang-orang yang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa memberi kehidupan kepada mereka dan bisa membebaskan mereka dari persoalan maka itu adalah musyrik (menyekutukan Allah). Dalam kitab “Majmu’ Fatawa”, Ibnu Taymiyah berkata: “Siapa saja yang meyakini bahwa berhala itu yang menurunkan hujan dan memberi rizki maka dia telah menyekutukan Allah (musyrik).” Sedangkan perbuatan menyekutukan Allah merupakan dosa yang amat besar yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah swt.

Mereka adalah pendusta
Para dukun dan tukang ramal sesungguhnya mereka tidak pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang. Mereka juga tidak bisa memberikan solusi yang benar terhadap orang yang meminta jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Sesungguhnya mereka itu adalah para pendusta dan penipu. Apa yang disampaikannya hanya karangan semata. Kalaupun suatu ketika ada satu dari ramalan mereka yang benar dan tepat maka itu hanya kebetulan saja. Karena ada seratus lebih ramalan mereka yang pasti keliru.

Hal tersebut telah disampaikan Rasulullah saw. kepada para sahabat ketika mereka mengatakan; Wahai Rasulullah, mereka (para dukun) menyampaikan kepada kami sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan itu terbukti! Beliau saw. bersabda; “Perkataan tersebut memang benar, karena itu hasil pencurian bangsa jin yang disampaikan kepada para sekutunya (dukun dan peramal), tetapi kemudian mereka mencampurnya dengan 100 kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.” (HR. Mutafaq ‘alaih)

Kita pernah mendengar ramalan beberapa paranormal yang sering tampil di media massa yang mengatakan bahwa artis A karirnya di tahun yang akan datang akan menurun sedangkan artis B akan menanjak. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Tapi banyak masyarakat yang tidak memperhatikan fakta tersebut. Banyak diantara mereka yang tetap saja mempercayainya. Ada juga yang katanya sekedar iseng. Padahal bertanya atau mendatangi dukun dan tukang ramal baik percaya ataupun tidak (sekedar iseng) tetap saja dilarang di dalam Islam. Termasuk yang marak saat ini adalah bertanya kepada paranormal melalui pesan singkat (sms), itu tidak ada bedanya dengan bertanya atau mendatanginya secara langsung. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةً أَرْبَعِينَ لَيْلَةً *
Barangsiapa mendatangi dukun kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah melepaskan diri dari apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad saw (al Qur’an). Dan barangsiapa yang mendatangi dukun tetapi ia tidak membenarkan apa yang dikatakannya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam. (HR. Thabrani)

Perbuatan syirik merugikan pelakunya
Perbuatan syirik yang diantaranya adalah mempercayai dukun dan tukang ramal (paranormal) merupakan tindakan yang sangat merugikan diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dia rugi karena telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, maupun biaya dengan sia-sia. Tidak berguna dan rugi karena telah mempercayai suatu kebohongan dan tidak bermanfaat. Sementara di akhirat dia juga akan mendapatkan kerugian yang amat besar berupa hukuman akibat perbuatannya yang telah melanggar larangan Allah swt., Tuhan yang menciptakan dan memberinya kehidupan. Diatara hukuman yang akan mereka terima adalah:
Pertama; Tidak akan diampuni dosanya. Karena dosa syirik termasuk dosa yang sangat besar. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa,[4]:116)

Kedua; Diharamkan baginya masuk Surga dan akan ditempatkan di Neraka. Allah swt. berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ*
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maidah,[5]:72)

Ketiga; Tidak akan mendapat syafa’at Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra. ia berkata, “Suatu malam Rasulullah saw. shalat dan membaca sebuah ayat. Beliau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujudnya sampai tiba waktu subuh. Ayat tersebut yaitu:  
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ *
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah, [5]:118)
Ketika tiba waktu subuh aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidak henti-hentinya engkau membaca ayat ini sampai datang waktu subuh, engkau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujud?” Beliau bersabda; “Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku yang Maha Mulia lagi Maha Agung, agar Dia memberi syafaat kepada umatku, kemudian Dia mengabulkannya. Insya Allah syafaat tersebut akan didapatkan oleh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Ahmad, seperti dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

Penutup
Jadi, apa gunanya kita melakukan sesuatu yang sebenarnya justru akan merugikan dan membahayakan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita berpikir menggunakan akal sehat, maka kita tentu lebih memilih sesuatu yang dapat menguntungkan dan membawa manfaat bagi kita baik di dunia dan akhirat. Hal itu hanya akan kita dapati dengan beriman kepada Allah swt., tidak menyekutukannya, dan yakin bahwa hanya Dia lah yang memberikan kehidupan dan dapat menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Doa kita yang dipanjatkan setiap hari adalah; “Robbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.” Doa ini sudah cukup untuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi. Ini yang diajarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Masihkah kita akan mencari yang lain selain Allah? Semoga tidak! Wallahu waliyyut taufiq wailaihi uniib.[]     www.eramuslim.com

Kenapa Menurut Rasulullah , Tidur Harus Berbaring di Lambung Kanan?

Hadits dari Barra bin ‘Azib ra : Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Jika kalian hendak tidur di pembaringan, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah kamu dengan berbaring di lambung kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan kepada umat Islam agar berbaring dilambung kanan. Pada saat itu tak ada yang mengetahui apa alasan dibalik sunah tersebut, tetapi kini melalui penelitian yang panjang para ilmuwan berhasil mengungkapkan rahasia di balik anjuran tersebut. Dan berikut ini akan dijelaskan rahasia dari berbagai posisi tidur.
 
 
 
 
Tidur Dengan Tengkurap
Dr. Zafir al-Attar berkata “Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak.”
Peneliti dari Australia telah menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Sedangkan Majalah “Times” mempublikasikan hasil sebuah penelitian di Inggris yang menunjukan peningkatan tingkat kematian mendadak pada anak-anak yang tidur tengkurap.
Fakta-fakta tersebut sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Islam, sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW bahwa beliau pernah melihat seorang pria yang sedang tidur dengan posisi tengkurap, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya.” (HR Tirimizi dan Ahmad-hasan lighairihi)
 
Tidur Terlentang
Dr. Zafir al-Attar menjelaskan bahwa saat seseorang tidur dengan cara terlentang, maka hal ini akan menyebabkan orang tersebut bernafas melalui mulutnya. Hal ini disebabkan karena pada saat kita tidur terlentang maka mulut kita akan terbuka, dikarenakan meregangnya rahang bawah.
Manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup. Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mullut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.
Tidur Dengan Menyamping Ke Kiri
Tidur miring ke kiri ternyata jugalah tidak baik untuk kesehatan, terutama organ jantung. Hal ini dikarenakan saat kita tidur pada posisi ini, maka paru-paru sebelah kanan, yang berukuran besar, akan menekan kearah paru-paru. Hal ini akan berpengaruh kepada kinerja jantung, terutama kepada orang yang berusia lanjut.
 
Tidur Dengan Menyamping Ke Kanan
Inilah posisi tidur terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat kita tidur dalam posisi ini jantung hanya akan terbebani oleh paru-paru kiri yang berukuran kecil. Selain itu tidur dengan cara ini akan menenpatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu posisi ini juga sangat baik bagi pencernaan, penelitian menunjukkan saat kita tidur dengan menyamping ke kanan, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan dalam posisi tidur yang lain makanan baru akan selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.
Sumber :Be Inspired- Dr. Zafir al-Attar/ Bibit Suhardi