Oleh : Ustadz Fatuddin Jaffar
Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari
neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai
momentum
Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi
Training Manajemen Ibadah.
Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri
bagaimana Rasulullah Saw. dan generasi Islam pertama, generasi terbaik
umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.
Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat situasi yang perlu kita perhatikan.
Pertama, sebelum memasuki Ramadhan.
Kedua, saat memasuki Ramadhan.
Ketiga, setelah memasuki Ramadhan.
Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.
Pertama, sebelum memasuki Ramadhan
Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan
kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan
menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik,
misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk
mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal
yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama
para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup
mereka.
Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada
Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur
mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak
Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah
mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah :
Yaa Allah,
sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan
aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga
menjadi amal yang diterima.
Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para
Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan.
Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua
janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang
tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para
Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan
keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti
rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api
neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi :
Celakalah kaum Ramadhaniyyin.
Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh
Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak
jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada
Allah lebih mereka tingkatkan.
Kedua, saat memasuki Ramadhan
Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para
Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa
seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits
berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Dari Ibnu Umar dia berkata :
Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak
bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini
bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik
kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu
(hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).
Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut
kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil
keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta
petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula
dengan ajang promosi produk dan iklan diri agar dikenal dan dipilih
masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan,
kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah
Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih
rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak
akan ternilai harganya bagi mereka dibandingkan dengan dunia dan
seisinya.
Ketiga, setelah memasuki Ramadhan
Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan?
Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari
terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan
diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata,
syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan,
syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang
memalingkan mereka dari mengingat dan mencintai Allah serta akhirat.
Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan
sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa)
Ramadhan yang diwajibkan Allah.
Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan
berbagai syahwat tersebut malam harinya digunakan untuk istirahat,
makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah
dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah)
seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan
berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para
Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu
training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua
hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat
ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.
‘Aisyah meriwayatkan :
Rasulullah adalah orang yang paling
dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu
Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan
(mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan
Ramadhan lebih kencang dari (tiupan) angin. (HR. Bukhari).
Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka
memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat
mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal
sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem
penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari
pengaruh syahwat buruk, karena merekalah yang mengendalikannya. Pada
waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan
berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah.
Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw.
Siapa yang shaum (puasa) di
bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturannya (batas-batasnya), dia
menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa
sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan
Jika kita teliti perilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan
Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat
memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat
kontras dengan apa yang terjadi di masyarakat Muslim hari ini. 10 Hari
terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat
kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.
Menurut presepsi dan perilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia,
10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk
mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati
mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya,
mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka
meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke
tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke
mall-mall moderen.
Lalu apa yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil
dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya
dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak
terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan
keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Coba bayangkan,
terhadap janji Allah yang bernama
Lailatul Qadr yang nilainya
lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu
mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara
beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw.
Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi
i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke
daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah,
i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan
Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir
Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih
pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu
Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun
terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan
I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah
peninggalan Beliau.
Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk
berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang
paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka
bisa melaksanakan i’tikaf pada 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah :
itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang
menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan
para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama
jika menginginkan sampai ke peringkat yang sama pula (taqwa).
(Bersambung…)
www.eramuslim.com