Tuesday, 5 May 2015

Walau Dikabarkan Tanda-tandanya , Kiamat Akan Datang Secara Tiba-tiba



Kata baghatan (tiba-tiba) , di dalam Al Qur’an disebut sebanyak tiga belas kali yang berarti menunjukkan urgensi Kiamat yang datang secara tiba-tiba. Kiamat datang secara tiba-tiba, meskipun terdapat tanda-tanda kecil menengah dan besar yang menandakan akan terjadinya kiamat. Tanda-tanda tersebut telah terbukti sepanjang sejarah Islam, sejak Rasulullah SAW diutus.

Kiamat tidak akan datang pada saat ini, tetapi akan datang setelah generasi sekarang. Dan  tanda-tanda kiamat yang paling besar akan datang sebelum kiamat terjadi . jika demikian, bagaimana mungkin kiamat datang secara tiba-tiba? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, kiamat terjadi secara tiba-tiba tidak berarti menghilangkan tanda-tanda kiamat.  Dengan demikian, manusia mengetahui bahwa kiamat itu pasti terjadi, tidak mungkin mundur jika waktunya telah tiba. Rasulullah SAW sebagai penutup nabi dan rasul, diutus pada waktu kiamat sudah dekat sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits bahwa beliau mengisyaratkan dengan telunjuk dan jari tengahnya yang sangat dekat.
Meskipun tanda-tanda kiamat telah diketahui , hingga kini kami yakin bahwa kiamat akan datang secara  mendadak . Kami tidak mengetahui kapan, tahun berapa, bulan apa, hari apa , jam berapa dan menit ke berapa kiamat terjadi. Kiamat merupakan saat berakhirnya keberadaan dunia karena pada saat itu Allah mengizinkan Malalikat Israfil meniup sangkakala.

Kedua, kiamat hanya menimpa orang-orang yang jahat dan buruk perangainya karena Allah telah meniupkan angin sejuk dari Syam, yang mencabut nyawa semua manusia yang miliki iman hingga jika ia mendaki bukit pun, niscaya nyawanya akan dicabut oleh angin sejuk tersebut.

Diriwayatkan dari An Nuwas bin sama’an r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Ketika keberadaan masyarakat seperti itu, tiba-tiba Allah mengutus angin sejuk yang bertugas mencabut naywa orang beriman hingga yang tersisa hanya orang-orang jahat. Mereka berbuat zina secara terang-terangan, sama dengan hewan. Merekalah yang mengalami kiamat (HR Muslim)
Allah berfirman :
12:107
Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangn kiamat kepada mereka secara mendadak (QS Yusuf : 107)

21:40
Sebenarnya (hari kiamat) itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba , lalu mereka menjadi panik mereka tidak sanggup menolaknya (QS Al Anbiya : 40)

29:53
..dan (azab itu) pasti akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka mereka tidak menyadarinya  (QS Al Ankabut : 53)

43:66
Apakah  mereka hanya menunggu saja kedatangan hari kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak sedang mereka tidak menyadarinya (Qs A-zukhruf: 66)
Apa maksud sabda Nabi Saw dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “..hingga yang tersisa hanya orang-orang jahat .Mereka berbuat zina terang-terangan , sama dengan hewan. Merekalah yang mengalami kiamat”

Yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah laki-laki yang berhubungan badan dengan wanita yang bukan istrinya di hadapan khalayak ramai, sama persis dengan keledai dan mereka tidak risih dengan hal tersebut.
Diriwayatkan dari Mirdas Al Aslami r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Orang-orang saleh telah meninggal dunia dan tinggalah orang-orang  yang jahat , sama seperti gandum atau kurma sisa . Mereka tidak mempedulikan Allah sama sekali (Hr Imam Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan  “ Orang-orang rendahan sama dengan gandum yang buruk.”
Orang-orang yang mengalami hari kiamat secara tiba-tiba , tidak dapat menghindar karena mereka tidak mengerti sedikitpun tentang hari kiamat. Sebagian mereka telah mendengar tentang hari Kiamat tetapi tidak meyakini dengan terjadinya hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang jahat, kufur dan lacur. Mereka akan mengalami hari kiamat, sedangkan mereka dalam kesesatan yang nyata.

Sementara itu orang-orang yang berada pada masa Nabi Isa a.s menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah , seperti adanya Al Mahdi, turunnya Nabi Isa, munculnya dajjal, seta Yakjuj dan Makjuj. Kelompok yang sama dengan nabi Isa telah diselamatkan Allah dari api neraka karena ketaqwaan, keimanan dan budi pekerti mereka. Orang-orang yang menyaksikan tanda-tanda besar kiamat itu mengetahui bahwa hari kiamat makin dekat, tinggal dua jengkal, bahkan lebih dekat dari itu. Namun, mereka tidak mengetahui secara pasti kapan hari kiamat akan tiba, meskipun mereka mengetahui secara pasti kapan hari kiamat akan tiba, meskipun mereka mengetahi tanda-tandanya.

Itu merupakan rahasia Allah bagi semua makhlukNya, termasuk orang yang menyaksikan tanda kiamat yang paling benar sekalipun. Sedang orang yang mengalami kiamat secara tiba-tiba , tidak dapat menghindarinya karena mereka tidak mengerti sedikitpun tentang tanda-tanda kiamat. Bagaimana mungkin mereka akan mengerti tanda-tanda , sementara mereka tidak mempedulikan , sebagaimana dijelaskan oleh Rasul dalam hadis?
Mahir Ash Shufiy

www.eramuslim.com

Wednesday, 25 March 2015

Yakinlah Allah Sebagai Saksi Segala Sesuatu


Allahu 
Seandainya saat ini kita sedang duduk di kursi pengadilan, berhadapan dengan seorang hakim yang sedang mengadili kita atas kesalahan yang telah kita lakukan sebelumnya, disertai saksi yang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan, maka mungkin kita pun akan bisa membayangkan betapa menyesal dan malunya kita saat itu. Atau, mungkin saja ada di antara kita yang justru merasa seperti tak bersalah sama sekali, hingga bahkan tanpa ragu untuk berbohong ataupun sampai membayar saksi untuk ikut berbohong juga, hanya demi sebuah keselamatan yang sementara. Tapi memang demikianlah kenyataan pengadilan manusia di dunia ini, di mana kita bisa berbohong untuk menghindari hukuman, dan bahkan sang hakim sendiri pun juga terkadang bisa salah dalam memberikan keputusannya meskipun kita telah berusaha untuk mengatakan kebenaran.

Namun, kelak di dalam pengadilan yang sesungguhnya pada hari yang sangat berat dan panjang, ketika Sang Maha Hakim justru sekaligus menjadi Saksi, yang mana telah menyaksikan sendiri segala perbuatan kita selama di dunia, maka ketika itulah kita tak mungkin bisa menghindar. Kita tentu tidak mungkin menutup-nutupi sesuatu dari Saksi yang justru telah melihat sendiri tingkah laku kita. Saat itu tiada lagi yang akan bisa kita sembunyikan. Dan ketika itu, amal kebaikan orang-orang yang ingkar dan enggan beriman akan diperlihatkan tanpa pahala apapun, melainkan telah cukup bagi mereka pahala di dunia saja, dan sisanya adalah pertanggungjawaban atas keingkaran dan amal kejahatan mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman, akan ada yang amal baiknya diterima dan ada yang tidak, ada yang amal buruknya diampuni dan ada yang dibalas dengan hukuman. Dan semua itu akan menyesuaikan dengan amal perbuatan dan niat masing-masing selama di dunia ini. Sang Maha Hakim akan mengadili dengan sangat tepat, tanpa meleset sedikitpun meski hanya setitik maksiat di dalam hati kita.

Pada hari yang berat tersebut, semua dari kita akan dikumpulkan setelah dibangkitkan dari kematian, lalu masing-masing dipanggil untuk diberi sebuah kitab catatan yang menceritakan dengan sangat terperinci segala amal perbuatannya selama di dunia ini. Semuanya akan diperlihatkan dengan sangat jelas di dalam kitab catatan tersebut. Di dalam al-Qur’an disebutkan ayat-ayat tentang itu semua, di antaranya adalah yang artinya berikut ini:

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan (singkirkan secara perlahan) gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu menjadi datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan satu orang pun dari mereka.” (Al-Kahfi: 47)

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris, (dan dikatakan:) sesungguhnya kalian datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali yang pertama; bahkan kalian mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kalian waktu (untuk memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi: 48)

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di dalamnya). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi: 49)

Juga dalam surat lainnya yang artinya berikut ini:
“Katakanlah: ‘Allah-lah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tiada keraguan padanya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (Al-Jaatsiyah: 26)

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan merugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan.” (Al-Jaatsiyah: 27)

“Dan (pada hari itu) kamu melihat tiap-tiap ummat berlutut. Tiap-tiap ummat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. (Lalu dikatakan:) ‘Pada hari ini kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan (sebelumnya).’” (Al-Jaatsiyah: 28)

“(Allah berfirman): ‘Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan tentang kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah memerintahkan pencatatan atas apa yang telah kalian kerjakan.’” (Al-Jaatsiyah: 29)

Dan juga yang artinya berikut ini:
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat); dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”; pada hari itu bumi menceritakan beritanya; bahwa sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya; Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya (bangkit dari kematiannya) dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka; Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya; Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula. (Al-Zalzalah: 1-8)

Dan di sana masih banyak lagi ayat-ayat serupa yang menggambarkan tentang hari yang sangat berat tersebut. Dan ketika itulah penyesalan yang mendalam akan dialami oleh orang-orang kafir non-Muslim dan orang-orang yang tak pernah mempedulikan urusan kehidupan setelah mati tersebut, di mana amal kebaikan yang telah diusahakannya selama di dunia ternyata tidak membuahkan pahala apapun di akhirat, dan mereka bahkan sangat berharap untuk menjadi debu atau tanah yang tak perlu merasakan nikmat apapun selama di dunia. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu (ternyata) dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nuur: 39)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan; Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (Huud: 15-16)

“Dan Kami hadapi segala amal (kebaikan) yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan (selama di dunia), lalu Kami jadikan amal tersebut (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqaan: 23)

“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya; Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (An-Nabaa’: 39-40)

Demikianlah Allah SWT memberitakan tentang kehidupan yang nyata setelah mati. Kesengsaraan yang kita alami di dunia ini ternyata tak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat kelak. Kebahagiaan pun juga demikian; semuanya tak akan bertahan lama dan pasti akan berakhir. Ketika kita telah dibangkitkan dari kematian kelak, maka seakan-akan waktu hidup kita selama di dunia ini hanyalah seperti waktu sore atau pagi hari saja. Dan apalah artinya sebuah waktu sore ataupun pagi yang hanya tak sampai sehari penuh atau hanya beberapa jam saja dibandingkan dengan ribuan tahun umur dunia dari awal diciptakannya hingga tiba hari kiamat nanti. Tentu akan terbayang betapa pendek dan tak berartinya dunia ini. Dan demikianlah mungkin kurang lebih perumpamaan masa hidup di dunia dibandingkan dengan masa hidup di akhirat kelak. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar) di waktu sore atau pagi hari (saja).” (An-Naazi’aat: 46)

Dan pada dasarnya, menumbuhkan rasa takut dan cemas terhadap hari yang sangat berat tersebut bukan dimaksudkan agar kita meninggalkan segala urusan duniawi, melainkan justru agar kita lebih berhati-hati dalam segala urusan tersebut dan agar justru semakin giat mengejar amal kebaikan demi akibat yang lebih kekal nantinya. Mengenal hari yang besar tersebut tidak harus menjadikan kita menghina dan mencela dunia, karena sebenarnya dunia ini pun baru akan menjadi hina dan tercela jika memang hanya digunakan untuk bersenang-senang belaka atau bahkan untuk menanam keburukan dan kejahatan. Dan dia justru akan menjadi ladang yang baik jika memang ditanami kebaikan yang didasari iman dan rasa takut kepada Allah SWT, insyaa’Allaah.

Dan dengan pemahaman yang demikian itu, maka kita pun akan dapat semakin bersemangat dalam menjalankan peran masing-masing. Apapun peran kita, selama bukan untuk maksiat, melanggar syari’at, ataupun berbuat kerusakan di muka bumi ini, insyaa’Allaah tiada yang salah ataupun perlu dipermasalahkan. Bahkan, kita justru dilarang meninggalkan beragam peran yang saling melengkapi tersebut. Kita sebagai ummat Islam diharuskan menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupan, sesuai kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Mengenal kehidupan setelah mati bukan justru agar kita meninggalkan ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, geografi, dan semacamnya, melainkan justru agar kita lebih meningkatkan ilmu-ilmu tersebut dan mengarahkannya sesuai rambu-rambu Islam, agar iman kita justru semakin bertambah dengan mendalami ayat-ayat Allah SWT yang tersebar di alam semesta ini.

Mengenal kedahsyatan akhirat tidak harus berarti memisahkan antara perkara agama (Islam) dengan perkara dunia, hingga seakan-akan yang kita sebut agama (Islam) itu pasti harus menjauh dari dunia. Padahal, justru agama (Islam) itulah yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur urusan dunia, demi keselamatan manusia di akhirat kelak. Selama ini kita cenderung meyakini bahwa ummat Islam haruslah dipisahkan dari perkembangan sarana dunia seperti teknologi, media, ataupun kemajuan-kemajuan lainnya, yang mungkin itu semua adalah karena kita menyetujui istilah-istilah yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam sendiri, seperti istilah pembedaan antara Islam dan Barat misalnya, yang mana dengan menerima istilah tersebut sebagai kenyataan, maka kita pun akan lantas menjaga jarak dan bahkan menjauhi Barat yang konon adalah tempat bagi para penguasa dunia. Padahal, Timur ataupun Barat, semuanya hanyalah milik Allah SWT, dan bukan milik non-Muslim. Kita mungkin sering ketakutan sendiri dengan istilah ‘Islam versus Barat’ yang dibuat-buat oleh mereka, padahal bisa jadi itu akan justru membatasi jangkauan dakwah agama Islam itu sendiri, dan padahal istilah yang benar adalah ‘Islam versus kekafiran’, dan bukan ‘Islam versus Barat’ tersebut. Kita justru seharusnya mendekati Barat agar dapat menyerukan Islam di sana, karena Barat adalah bumi Allah SWT juga. Kita tentu juga akan justru bergembira ketika semakin banyak ummat manusia di Barat yang turut bergabung dengan kita dalam agama yang lurus ini, agar kerusakan-kerusakan aqidah dan syari’at yang telah diperbuat oleh non-Muslim di sana dapat diluruskan.

Adapun penyerupaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, maka itu adalah penyerupaan dengan sikap orang-orang kafir, bukan dengan Barat. Karena di Barat maupun di Timur, pasti ada orang-orang yang ingkar dan kafir. Di Barat juga ada orang-orang yang beriman, sebagaimana di Timur juga ada orang-orang yang kafir. Jadi, Islam tidak seharusnya dipisah-pisah berdasarkan arah, tempat, ataupun ruang, melainkan yang menjadi pemisah adalah keimanan dan keingkaran. Bumi ini dan segala arahnya hanyalah milik Allah SWT. Teknologi memang lebih banyak berkembang di Barat, namun teknologi bukan hanya milik orang-orang di Barat, melainkan dia adalah anugerah dari Allah SWT yang diperuntukkan bagi ummat manusia, yang seharusnya juga dikuasai oleh sebagian ummat Islam agar dapat dipergunakan ke arah yang lebih sesuai dengan aturan Islam. Media pun juga demikian, jika orang kafir Yahudi menyerang kita dengan media, maka tentu kita pun harus menggunakan media juga untuk melawan mereka.

Islam tidak pernah melarang perkara-perkara dunia yang baik, melainkan yang dilarang adalah membesar-besarkan perkara dunia tersebut hingga kita mengecilkan perkara akhirat yang sebenarnya lebih besar dan lebih berat. Karena itulah, di sana memang harus ada yang sibuk mengembangkan perkara dunia, namun harus ada pula yang tetap fokus dengan urusan agama Islam ini, hingga detil-detilnya. Semuanya saling melengkapi dan mendukung. Dan jika mengembangkan perkara dunia adalah ibarat perang, maka akan tidak semestinya semua orang-orang yang beriman ikut serta dalam peperangan tersebut. Seharusnyalah ada sebagian mereka yang menempuh perjuangan dalam bentuk yang lain berupa belajar agama. Golongan inilah yang akan mempelajari agama secara detil, hingga bahkan masalah ibadah ritual yang tampak sederhana sekalipun, seperti mengalirkan air ke dalam hidung ketika berwudhu, dan seterusnya, karena jika tiada yang mengurusi hal-hal yang seperti itu, mungkin kita juga tidak akan pernah tahu seperti apakah sifat shalat Rasulullah SAW, yang mana tentunya tidak mungkin kita karang sesuka hati. Bahkan dalam hal mempelajari agama pun akan harus ada juga pembagian tugas-tugas; ada yang harus menguasai ilmu warisan dalam Islam, ilmu Tafsir, ilmu Hadits, ilmu bahasa Arab, Fiqih dan seterusnya, di mana semuanya akan saling melengkapi. Dan kita yang hanya mengerti dasar-dasar agama pun akan bisa merujuk kepada para ahlinya untuk permasalahan yang lebih detil. Semuanya akan saling menopang dan membantu.

Intinya adalah agar kita semua tidak lupa dan melupakan tujuan hidup yang sejati, yang bukan selalu tentang pembangunan duniawi dalam bentuk fisik, melainkan justru lebih cenderung tentang pembangunan ruhani yang niscaya akan juga dengan sendirinya memperbaiki sisi fisik manusia. Karena setelah dunia ini akan masih ada hari berat yang panjang dan melelahkan, yang penuh dengan keluhan dan penyesalan yang tak berujung. Maka sangat merugilah kita jika sampai meremehkan hari yang berat tersebut. Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (Islam) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)
“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).” (Al-Insaan: 27)

Dan dari semua itu, kita pun akan dapat lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu. Kita akan berusaha menghindari perbuatan buruk dan akan lebih bersemangat dalam mengejar kebaikan untuk akhirat. Kita akan menjadi semakin yakin bahwa dunia ini adalah tempat menanam yang hasil panennya akan menyesuaikan dengan apa yang kita tanam. Maka betapa banyaknya keburukan amal yang telah kita tanam di sini. Betapa banyaknya kekurangan diri kita yang tak diketahui oleh orang lain. Kita memang saat ini hanya diharuskan menyembunyikan aib masing-masing dari sesamanya. Tapi kelak pada hari yang berat tersebut, tiada lagi yang bisa disembunyikan dan ditutup-tutupi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pada hari itu, ketika catatan amal perbuatan ditampakkan, kita tak akan sempat mengingat orang-orang yang pernah menyakiti kita di dunia. Rakyat yang teraniaya tak akan sempat meneliti kabar para pemimpin yang menganiaya mereka. Bahkan, jika saja dengan memaafkan orang yang menyiksa dan menganiaya kita, kita lantas bisa selamat sepenuhnya ketika itu, niscaya detik ini pun kita akan lebih memilih untuk memaafkan, karena keselamatan di kampung abadi tersebut sangatlah mahal dibandingkan dengan kenikmatan semacam apapun di dunia ini. Semuanya akan sibuk memikirkan keselamatan masing-masing. Semuanya sibuk dengan catatan amal perbuatannya. Kita tak lagi sempat berkeinginan menggunjing, melainkan justru menyesali gunjingan-gunjingan yang telah kita lakukan. Kita juga tak akan sempat berprasangka buruk kepada orang lain, melainkan segala prasangka buruk yang telah menjadi tuduhan akan dimintai pertanggungjawaban bukti yang justru akan menjadi beban yang sangat disesali. Semua berita yang telah kita sebarkan tanpa kebenaran akan justru menjadi bumerang yang mempersulit diri kita sendiri. Segala ucapan yang bermuatan kata-kata mengganggu akan justru menjadi gangguan bagi diri kita sendiri. Ketika kita pernah menuduh saudara-saudara seiman kita sebagai orang-orang yang kafir, seperti menyamakannya dengan orang-orang Kristen, Yahudi, bahkan Dajjal ataupun iblis, padahal tidak demikian kenyataannya, maka ketika itulah tuduhan kita tersebut akan menjadi masalah besar bagi diri kita sendiri.

Memang, di dunia ini kita tampak lebih cenderung sibuk dengan kesalahan-kesalahan orang lain, bahkan menikmati kesibukan semacam itu hingga melupakan kesalahan-kesalahan kita sendiri. Padahal, jika saja setiap orang dari kita bersedia untuk melihat ke dalam hati, lalu menghitung setiap titik debu yang hinggap di situ, pasti kita pun akan tak sempat untuk mencari-cari kesalahan orang lain, karena menghitung debu yang menempel di hati kita sendiri saja juga tak akan ada habisnya. Ini bukan berarti kita harus menghentikan kegiatan saling mengingatkan kesalahan sesama, karena tentu saling menasehati itu sangat diharuskan, namun tentu antara memberi nasehat dengan meneliti aib itu pasti akan berbeda. Yang pertama akan dilandasi dengan semangat memperbaiki, sedangkan yang kedua akan dilandasi semangat negatif yang bahkan bisa jadi tak akan ada ujungnya kecuali hanya kepuasan hati yang manfaatnya sangat sementara dan fana. Nasehat akan dapat membantu mereka yang telah bersalah untuk dapat berbuat baik dan benar, sedangkan meneliti aib biasanya dimaksudkan untuk menghalang-halangi mereka dari memperoleh kebaikan, didasari oleh perasaan negatif kita. Dan hati kita sendiri pun pasti akan bisa membedakan sendiri mana yang nasehat dan mana yang bukan.

Cukuplah Allah SWT sebagai saksi atas segala perbuatan kita selama ini. Dialah pihak ketiga ketika kita hanya berdua, Dialah yang kedua ketika kita hanya sendirian. Dialah yang tak pernah salah dalam menilai. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujaadilah: 7)

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (An-Nisaa’: 108)

“Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” (At-Taubah: 78)

“Katakanlah: ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian menampakkannya, pasti Allah mengetahui. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (Aali ‘Imraan: 29)

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita ingatan akan kedekatan dan kebersamaan-Nya dengan kita, bahwa Dia senantiasa menyaksikan kita. Dan semoga Dia mengampuni kita atas segala kesalahan yang tidak kita sadari dan tidak kita maksudkan. Kita memang terkadang tidak bermaksud berbuat salah dalam suatu sikap dan tindakan, dan tidak juga bermaksud mendzalimi orang lain, namun memang cara menilai manusia itu pasti akan beragam sesuai sudut pandang masing-masing, hingga yang telah kita usahakan benar pun bisa saja tetap salah dalam pandangan orang lain, atau bahkan tiada yang pernah benar sama sekali, hanya karena tertutup sebagian kesalahan kita yang lainnya. Dan itulah keridhaan seluruh manusia yang selamanya akan mustahil dapat berkumpul di satu titik. Maka dari itu, cukuplah Allah SWT sebagai Saksi yang tak pernah salah dalam menghukumi. Apapun amal perbuatan yang kita lakukan, setidaknya kita tidak sampai mendasarinya dengan niat berbuat kerusakan di muka bumi ini. Perkara apakah amal tersebut akan diterima ataukah tertolak, maka itu bukanlah wewenang kita. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Katakanlah: ‘Siapakah yang paling kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah, (Dialah) Saksi antara aku dan kalian.’” (Al-An’aam: 19)

“Katakanlah: ‘Cukuplah Allah menjadi Saksi antara aku dan kalian. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi.’” (Al-‘Ankabuut: 52)

Dan akhirnya, kita pun sama-sama bukan Tuhan yang mengetahui isi hati orang lain ataupun nasib masa depan mereka. Kita bahkan juga tidak pernah tahu akhir hidup kita sendiri. Maka sepantasnyalah kita tak perlu terlalu berlebihan meresahkan kesalahan orang lain, semenjak kita sendiri pun juga tak pernah terlalu berlebihan meresahkan kesalahan kita sendiri. Kita hanya diperintahkan untuk menyeru sesama manusia untuk kembali kepada kebaikan dan kebenaran dengan nasehat dan cara yang benar, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah, menurut kesanggupan dan keterbatasan masing-masing. Dan tentu kita pun tak ada yang berniat untuk terjerumus ke dalam siksa neraka. Maka dari itu, semoga Allah SWT yang merupakan Saksi Nyata kehidupan kita, senantiasa menunjuki kita hidayah-Nya serta mengampuni segala kesalahan kita, terutama kesalahan yang tidak kita sadari dan tidak kita maksudkan. Dan hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

Wallaahu a’lam.
Ibnu Anwar
www.eramuslim.com

Misteri Kematian Matahari dalam Al-Quran



لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Dan Matahari berjalan ke tempat Peristirahatannya. Itu adalah keputusan dari Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui. (Surah Ya Sin, 38)

Matahari telah memancarkan panas selama sekitar 5 miliar tahun sebagai akibat dari reaksi kimia konstan berlangsung pada permukaannya. Pada saat yang ditentukan oleh Allah di masa depan, reaksi ini pada akhirnya akan berakhir, dan Matahari akan kehilangan semua energi dan akhirnya Mati. Dalam konteks itu, ayat di atas dapat dijadikan acuan bahwa pada suatu hari energi matahari akan segera berakhir. (Allah maha tahu akan kebenarannya).

Kata Arab “limustaqarrin” dalam ayat ini merujuk pada tempat tertentu atau waktu. Kata “tajrii” diterjemahkan sebagai “berjalan,” juga bermakna seperti “untuk bergerak, untuk bertindak cepat, untuk bergerak, mengalir.”

Tampaknya dari arti kata bahwa Matahari akan terus dalam perjalanannya dalam ruang dan waktunya, tetapi pergerakan ini akan berlanjut sampai waktu tertentu yang telah ditetapkan. Ayat “Ketika matahari dipadatkan dalam kegelapan,” (QS. at-takwir, 1) yang muncul dalam deskripsi Hari Kiamat, memberitahu kita bahwa seperti waktu itu akan datang. Waktu tersebut hanya diketahui oleh Allah.

Kata Arab “taqdiiru,” diterjemahkan sebagai “keputusan” dalam ayat tersebut, termasuk makna seperti “untuk menunjuk, untuk menentukan nasib sesuatu, untuk mengukur.” Dengan ungkapan dalam ayat 38 dari Surah Ya Sin, kita diberitahu bahwa masa hidup Matahari terbatas pada jangka waktu tertentu, yang ditahbiskan oleh Allah.

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d, 2) 

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (Surah Fatir, 13)

Penggunaan kata “musamman” dalam ayat di atas menunjukkan bahwa masa hidup Matahari akan berjalan untuk “jangka waktu tertentu.” Analisis ilmiah tentang akhir Matahari menjelaskan sebagai mengkonsumsi 4 juta ton materi kedua, dan mengatakan bahwa Matahari akan mati ketika bahan bakar yang dimiliki semua telah dikonsumsi oleh matahari.

Panas dan cahaya yang dipancarkan dari matahari adalah energi yang dilepaskan seketika. Inti hidrogen berubah menjadi helium dalam proses fusi nuklir. Energi Matahari, dan karena itu hidupnya, sehingga akan berakhir setelah bahan bakar ini telah digunakan. (Allah maha mengetahui kebenaran.) Laporan berjudul “The Death of the Sun” oleh Departemen Ilmu BBC News mengatakan:
… Matahari secara bertahap akan mati. Sebagai inti bintang ke dalam kehancuran, akhirnya akan menjadi cukup panas untuk memicu atom lain menyusunnya menjadi helium.

Sebuah dokumenter, juga berjudul “The Death of the Sun,” disiarkan oleh National Geographic TV, memberikan penjelasan sebagai berikut:

Matahari menghasilkan panas dan menopang kehidupan di planet kita. Tapi seperti manusia, Matahari juga memiliki umur yang terbatas. Seiring dengan penuaan bintang tersebut, Matahari akan menjadi lebih panas dan menguapkan semua lautan kita dan membunuh semua kehidupan di planet Bumi … Matahari terus menjadi lebih panas karena usia dan membakar bahan bakar lebih cepat. Suhu akan meningkat, akhirnya memusnahkan kehidupan hewan, penguapan laut dan membunuh semua kehidupan tanaman … Matahari akan membengkak dan menjadi bintang raksasa merah, menelan planet-planet terdekat. Daya tarik gravitasinya akan mengurangi dan mungkin memungkinkan Bumi melarikan diri. Pada akhirnya, ia akan menyusut menjadi bintang kecil putih, memancarkan cahaya selama seminggu untuk ratusan miliar tahun.
Para ilmuwan baru-baru ini menguraikan struktur Matahari dan menemukan apa yang terjadi di dalamnya. Sebelum itu, tak ada yang tahu bagaimana memperoleh energi matahari atau bagaimana Matahari menghasilkan panas dan cahaya.

وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ
Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” (QS. Al-An’aam, 80)/miraclesofthequran

www.eramuslim.com

Tuesday, 21 October 2014

Pidato Pertama Abu Bakar dan Umar Minta Diingatkan dan Ajak Shalat


PASCA meninggalnya Rasulullah Muhammmad Shallallahu’alaihi Wassallam, khususnya kondisi politik dan pemerintahan masa Al-Khulafa‟al Rasyidin berbeda-beda tatkala di masa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Bin Abi Thalib. Meski berbeda, satu hal yang tak ada perbedaan, setiap memegang kepimpinannya para Khulafaur Rasyidin tetap menjaga prinsip musyawarah dan memegang ajaran Al- Quran dan Sunnah Rasul disertai ketinggal akhaq islami.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pengganti. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin.

Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu’anhu terpilih.

Dalam pidato pertamanya saat Khalifah Abu Bakar Assiddiq ra dilantik menjadi pemimpin umat, ia tak menyatakan rasa syukur, apalagi terlihat gembira atau mengadakan pesta.

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Shaat semoga Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.”

Tatkala Abu Bakar ash-Shiddiq merasakan ajalnya sudah dekat, ia mengundang para sahabat untuk membahas siapa penggantinya. Abu Bakar juga menulis surat yang ditujukan kepada khalayak, yang menjelaskan atas apa pilihannya itu. Abu Bakar menjatuhkan pilihannya kepada Umar bin Khaththab. “Tapi, kepada para sahabat, Abu Bakar berkata, ‘Saya menjatuhkan pilihan kepada Umar, tapi Umar bebas menentukan sikap’.”

Rupanya, umat juga bersetuju dengan Abu Bakar. Lalu, kepada Umar, Abu Bakar berpesan, “Sepeninggalku nanti, aku mengangkatmu sebagai penggantiku…” ucap Abu Bakar pada Umar bin Khaththab.

“Aku sama sekali tak memerlukan jabatan khalifah itu,” ujar Umar menolak.
Tapi, atas desakan Abu Bakar dan dengan argumentasi yang membawa misi Ilahi, Umar luluh dan menerimanya. Sepeninggal Abu Bakar, ketika Umar dilantik jadi khalifah, ia justru menangis. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”

“Aku ini keras, banyak orang yang takut padaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”

Tiba-tiba, muncullah seorang Arab Badui dengan menghunus pedangnya, seraya berkata, “Aku, akulah yang mengingatkanmu dengan pedang ini.”
“Alhamdulillah,” puji Umar pada Ilahi, karena masih ada orang yang mau dan berani mengingatkannya bila ia melakukan kesalahan.*/AU Shalahuddin Z, dari berbagai sumber
 www.hidayatullah.com

Pidato Pertama Umar Bin Abdul Aziz Menangis Karena Takut Pada Allah


TATKALA Khalifah demi khalifah datang pergi silih berganti, disebut-sebutlah nama Umar bin Abdul Azir untuk menjadi penggantinya. Nama Umar bin Abdul Aziz digadang-gadang menjadi calon khalifah yang baru.
Tapi apa kata Umar?

“Jangan sebut-sebut nama saya, katakan bahwa saya tidak menyukainya. Dan jika tidak ada yang menyebut namanya, maka katakan, jangan mengingatkan nama saya,” ujar Umar bin Abdul Aziz.

Umar Bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada dinasti Bani Umayyah, hari Jum’at tanggal 10 Shafar tahun 99 Hijriyah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman Bin Abdul Malik. Saat diumumkan di depan publik namanya disebut sebagai pengganti, seluruh hadirin pun serentak menyatakan persetujuannya. Tapi tidak dengan Umar. Sang Khalifah menangis terisak-isak. Ia memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesunggukan.

Ia justru terkejut, seperti mendengar petir di siang bolong. Bukan hanya terkejut, Umar bin Abdul Aziz bahkan mengucapkan Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’uun, bukannya Alhamdulillah atau mengadakan pesta, sebagaimana kebanyakan pejabat di negeri ini.

“Demi Allah, ini sama sekali bukanlah atas permintaanku, baik secara rahasia ataupun terang-terangan,” ujar cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab ini.

Di atas mimbar Umar Bin Abdul Aziz berpidato: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dibebani dengan pekerjaan ini tanpa meminta pendapatku lebih dulu, dan bukan pula atas permintaanku sendiri, juga tidak pula atas musyawarah kaum muslimin. Dan sesungguhnya aku ini membebaskan saudara-saudara sekalian dari baiat di atas pundak saudara-saudara, maka pilihlah siapa yang kamu sukai untuk dirimu sekalian dengan bebas!”

Ketika semua hadirin telah memilihnya dan melantiknya, Umar berpidato dengan ucapan yang menggugah. “Taatlah kamu kepadaku selama aku ta’at kepada Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka tak ada keharusan bagimu untuk taat kepadaku.”

Dalam pidato di hari kedua memegang amanah, Umar mengatakan tiada nabi selepas Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassallam dan tiada kitab selepas Al-Quran.
“Aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah.”

Usai berpidato, khalifah menangis kemudian melanjutkan, “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku.”
Jika kebanyakan pejabat berpesta ria saat kenaikan pangkat dan meraih kekuasaan, Umar bin Abdul Aziz malah banjir air mata karena takut pertanggungjawabanya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak tak mampu dipikulnya.

Sikapnya tak hanya ditunjukkan di mimbar. Iia justru hidup dalam kezuhudan dan wara’. Ketika ia disodori kendaraan “dinas” yang supermewah berupa beberapa ekor kuda tunggangan, lengkap dengan kusirnya, Umar menolak, dan malah menjual semua kendaraan itu, lalu uang hasil penjualannya diserahkan ke Baitul Maal. Termasuk semua tenda, permadani dan tempat alas kaki yang biasanya disediakan untuk khalifah yang baru.

Dalam sejarah peradaban Islam disebutkan, Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah Dinasti Umayyah yang membawa Daulah Umayyah mencapai puncak kejayaan. Menurut para ahli sejarah, gaya kepemimpinannyamirip dengan gaya kepemimpinan khulafaur Rasyidin. Dialah satu-satunya khalifah Bani Umayyah yang tidak dicela oleh para khalifah Bani Umayyah pada masa selanjutnya.*/AU Shalahuddin Z, dari berbagai sumber
Rep: Administrator
Editor: 
www.hidayatullah.com
 

Monday, 20 October 2014

Reinkarnasi Menurut Islam


sigit1
BismiLLAHiRahmaniRahim

Assalamu’laikum WrWb.
Keif halk ya akhi.. alUstadz Sigit…mohon maaf  sebelumnya .. es… ini ada link coba tolong dibuka..
http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/reinkarnasi-atau-hukuman-tuhan/comment-page-2/#comment-5146 disitu ada beberapa pendapat berat yg sungguh sangattt mungkin membutuhkan ide2 dr panjenengan yaa al Ustadz… please put your idea there, coz I am alone and dont have enough time and facility to reply them sooner as possible for their question and idea…because, I believe that  you have excelent educational back ground about this case…

Syukran katsiran.. Wassalam WrWb..
Waalaikumussalam Wr Wb

Reinkarnasi adalah bahwa ruh pada jasad seseorang yang sudah meninggal berpindah ke jasad yang lainnya baik dia akan merasakan kebahagiaan didalam jasad tersebut ataukah kesengsaraan didalamnya tergantung dari amal-amal yang telah dilakukannya. Ia adalah perpindahan dari jasad yang satu ke jasad lainnya. Ini adalah perkataan paling batil dan kekufuran terhadap Allah, kitab-kitab dan Rasul-rasul-Nya.
Sesungguhnya keimanan dengan akherat, hisab (perhitungan), surga dan neraka adalah diantara hal-hal yang diinformasikan melalui kedatangan para Rasul dan yang dicakup oleh kitab-kitab-Nya yang diturunkan dan perkataan tentang reinkarnasi ini merupakan pendustaan terhadap itu semua.

Tafsir islami terhadap perkaran akherat sudah jelas didalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, diantaranya firman Allah swt :

Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al Ankabut : 57)

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمْ شَرَابٌ مِّنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُواْ يَكْفُرُونَ

Artinya : “Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.’ (QS. Yunus : 4)
يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا ﴿٨٥﴾
وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا ﴿٨٦﴾

Artinya : “(ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam Keadaan dahaga.” (QS. Maryam : 85 – 86)
لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ﴿٩٤﴾
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ﴿٩٥﴾

Artinya : “Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam : 94 – 95)

Artinya : “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya.” (QS. An Nisaa : 87)
Artinya : “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghabun : 7)

Dan ayat-ayat muhkamat lainnya.

Sedangkan didalam hadits banyak disebutkan tentang akhirat, penegasannya maupun perincian berbagai perkarannya yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya. Diantara sabda Rasulullah saw itu adalah,”Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, tidak berbusana dan tidak beralas kaki.” Kemudian beliau membacakan firman-Nya ;

Artinya : “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya : 104)

Dan orang yang pertama kali dikeluarkan dari kubur dengan pakaian (ketika meninggalnya) pada hari kiamat adalah Ibrahim.” HR. Bukhori (3100) dan Muslim (5104)

Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya didalam jasad manusia terdapat sebuah tulang yang tidak dimakan bumi selamanya dan darinya akan dibentuk (kembali makhluk itu) pada hari kiamat.’ Mereka bertanya,’Tulang apakah itu wahai Rasulullah?’ beliau saw menjawab,’Ia adalah tulang ekor.” HR. Muslim (5255)

Sabdanya saw,”Pada hari kiamat, matahari akan didekatkan kepada para makhluk hingga berjarak satu mil.’ Salim bin ‘Amir—salah seorang perawi hadits—berkata,’Demi Allah aku tidaklah mengetahui apakah yang dimaksud dengan satu mil itu apakah ia ukuran jarak di bumi ataukah mil yang digunakan untuk mencelak mata.” Rasulullah saw bersabda,”Kelak manusia, keringatnya akan tergantung pada amal-amal mereka. Dari mereka ada yang berkeringat hingga kedua mata kakinya, dari mereka ada yang berkeringat hingga kedua lututnya, dari mereka ada yang berkeringat hingga pinggangnya, dari mereka ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya sendiri.” (si perawi) mengatakan,”Rasulullah saw mengisyaratkan dengan tangannya kearah bibirnya.” HR. Muslim (5108)

Sabdanya saw,”Aku memasuki pintu surga pada hari kiamat lalu (pintu itu) terbuka dan penjaganya berkata,’Siapa anda?’ aku berkata,’Muhammad.’ Dia berkata,’karena engkau aku diperintahkan untuk tidak membukanya bagi seorangpun sebelum dirimu.” HR. Muslim (292) dan berbagai hadits lainnya.
Sehingga reinkarnasi roh-roh ini merupakan pendustaan terhadap nash-nash tersebut dan pengingkaran terhadap kebangkitan.

Didalam syariah terdapat dalil-dalil yang zhahir yang mengukuhan adzab dan nikmat kubur serta pertanyaan dua malaikat kepada roh manusia dan roh itu tidaklah berpindah kepada (jasad) yang lainnya akan tetapi yang diterima jasad itu bisa adzab ataupun kenikmatan hingga manusia dikumpulkan kepada tuhan mereka.
Imam Ibnu Hazm mengatakan,”Cukuplah bantahan terhadap mereka (yang menganggap adanya reinkarnasi) adalah ijma seluruh ahli islam yang menyatakan kekufuran mereka. Dan terhadap orang yang mengatakan dengan perkataan mereka berarti sesungguhnya itu adalah di luar islam dan Nabi saw datang dengan selain itu.” (al Milal wa al Ahwa wa an Nahl 1/166).

Keyakinan bahwa jasad akan punah dan tidak akan kembali lagi untuk merasakan nikmat atau menaggung adzab adalah jalan untuk menenggelamkan manusia kedalam syahwat, kezhaliman dan kegelapan. Inilah yang diinginkan setan dari para pengikut akidah yang rusak ini ditambah dengan tenggelamnya mereka didalam kekufuran didalam madzhab yang buruk ini. (fatawa al Islam Sual wa Jawab juz I hal 1428)

Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya tentang permasalahan ini menyebutkan bahwa… perpindahan roh manusia dari seorang manusia kepada yang lainnya tidaklah benar. Dasar dari itu adalah firman Allah swt :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al A’raf : 172)

Tafsir dari ayat ini adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Malik didalam “al Muwatho’” bahwa Umar bin Khottob ditanya tentang ayat ini
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al A’raf : 172)

Lalu Umar menjawab,’Aku mendengar Rasulullah saw pernah ditanya tentang mereka maka Rasulullah saw bersabda,’Sesungguhnya Allah menciptakan Adam kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya maka keluarlah darinya keturunannya lalu Allah berfirman,’Aku telah menciptakan mereka untuk di surga dan mengamalkan amal orang-orang surga.’ Kemudian Allah menugusap punggungnya maka keluarlah darinya keturunannya dan Allah pun berfirman,’Aku telah menciptakan mereka untuk di neraka dan mengamalkan amal orang-orang neraka.” (Imam Ahmad di “al Musnad” (311) tahqiq Ahmad Syakir. Imam Malik di “al Muwattho” (898), Abu Daud (4703), at Tirmidzi (5071), al Hakim di “al Mustadrok” (171), Ibnu Mundih di “ar Rod ala al Jahmiyah” (28)

Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa makna dari hadits ini, sungguh betul berasal dari Nabi saw dari berbagai sisi yang mengukuhkannya dari hadits Umar bin Khottob, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairoh dan yang lainnya.

Ijma Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyebutkan bahwa perkataan perpindahan roh dari satu jasad ke jasad lainnya adalah perkataan orang-orang pendukung reinkarnasi dan mereka adalah orang yang paling kufur dan perkataan mereka itu adalah yang paling batil. (al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta juz IV hal 64)

Tidak mungkin roh manusia bertemu dengan roh hewan atau salah satunya berpindah ke yang lainnya, ini yang disebut dengan reinkarnasi roh yang tidak dibenarkan akal dan tidak diterima oleh syariat.
Ahli Ilmu menyebutkan bahwa perkataan seperti itu adalah perkataan kufur keluar dari agama. Khalil Ibnu Ishaq al Maliki didalam “Mukhtashar” nya mengatakan—tentang segala sesuatu yang menjadikannya dihukum dengan kufur dan murtad—atau tetang reinkarnasi roh.. dia menjelaskannya,”Yaitu perpindahannya didalam diri manusia atau lainnya. Dan bahwa sengsara atau bahagianya tergantung pada kebersihan dan keburukannya. Jika jiwanya jahat maka dirinya akan berbentuk seperti keburukannya itu, ia bisa berbentuk anjing, babi atau lainnya.

Jika dirinya telah menyelesaikan hukuman dari keburukannya itu maka ia akan berpindah dari seekor kera kepada kera yang lainnya. Akan tetapi jika dirinya belum menyelesaikannya maka ia akan berindah ke bentuk yang lebih buruk lagi hingga dirinya menyelesaikan hukumannya itu. Sedangkan jika jiwanya baik maka ia akan berubah bentuk kepada yang lebih tinggi (baik).”
Tujuan dari reinkarnasi ini adalah menafikan hari perhitungan (hisab), surga dan neraka… dan didalam keyakinan ini tampaklah pendustaan terhadap nash-nash wahyu dan ijma kaum muslimin.
Jadi tidak dibenarkan menurut syariat dan juga akal perkataan bahwa ruh manusia berpindah ke tubuh hewan atau yang lainnya. (Markaz al Fatwa no. 36533)

Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo Lc
Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :
Resensi Buku : Fiqh Kontemporer yang membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…
www.eramuslim.com

Sunday, 12 October 2014

Penyebab Wanita Kebanyakan Masuk Neraka




Suatu perkara yang pasti bahawa Syurga dan Neraka adalah dua tempat balasan yang Allah s.w.t. ciptakan. Syurga diciptakanNya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Muslimin dan Muslimat dan Neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum Musyrikin, Musyrikat dan pelaku dosa yang Allah s.w.t. telah melarang darinya. Setiap Muslim yang mengerti keadaan Syurga dan Neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Syurga dan terhindar jauh dari Neraka, inilah fitrah.

Membicarakan tentang Neraka dan penghuninya, yang mana mayoritas penghuninya adalah wanita kerana sebab-sebab yang akan dijelaskan nanti.
Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni Neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah s.w.t. di dalam Al Quran tentang Neraka dan azab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Allah s.w.t. berfirman yang maksudnya :
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah At Tahrim ayat 6)

Imam At-Tobari (rahimahu ‘Llah) menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari Neraka.”
Ibnu Abbas r.a juga mentafsirkan ayat ini : “Beramallah kamu dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kamu untuk bermaksiat kepadaNya dan perintahkan keluarga kamu untuk berzikir, nescaya Allah menyelamatkan kamu dari Neraka.”

Masih banyak tafsir para sahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari Neraka dengan mengerjakan amalan soleh dan menjauhi maksiat kepada Allah s.w.t.
Di dalam surah lainnya Allah s.w.t. berfirmanyang bermaksud :
“Peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Surah Al Baqarah ayat 24)
Sahabat yang dimuliakan, Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan Neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian Neraka juga dinyatakan Rasulullah s.a.w di dalam hadis yang sahih dari Abu Hurairah r.a bahawasanya baginda bersabdayang bermaksud :
“Api kamu yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bahagian dari 70 bahagian Neraka Jahanam.”

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api Neraka yang panasnya 70 kali ganda dibandingkan dengan panas api dunia? Semoga Allah S.W.T. menyelamatkan kita dari api Neraka.

WANITA PENGHUNI NERAKA

Mengenai hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah s.a.w tentang penghuni Syurga yang majoritinya adalah fuqara (para fakir miskin) dan Neraka yang majoriti penghuninya adalah wanita. Tetapi hadis ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang menyebabkan mereka dimasukkan ke dalam Neraka dan menjadi majoriti penghuninya, namun demikian sebab-sebab tersebut disebutkan dalam hadis lainnya.
Di dalam kisah solat gerhana matahari, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya melakukan solat gerhana padanya dengan solat yang panjang , Rasulullah s.a.w melihat Syurga dan Neraka. Ketika beginda melihat Neraka beginda bersabda kepada para sahabatnya:

“ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda s.a.w menjawab : “Kerana kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w menjelaskan tentang wanita penghuni Neraka, baginda bersabda :
“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka kerana sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti bunggul unta. Mereka tidak masuk Syurga dan tidak mendapatkan wanginya Syurga padahal wanginya boleh didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Sesungguhnya penduduk Syurga yang paling sedikit adalah wanita.”
(Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)
Imam Qurthubi (rahimahu ‘Llah) menjelaskan maksud hadis di atas dengan pernyataannya :
“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”
(Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tazkirah halaman 369)

Jika kita perhatikan keterangan dan hadith di atas dengan insaf, nescaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam Neraka bahkan menjadi majoriti penghuniya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoriti dari penghuni Syurga.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya :

Rasulullah s.a.w menjelaskan hal ini pada sabda baginda di atas tadi. Kekufuran seumpama ini terlalu banyak kita dapati di tengah-tengah keluarga kaum muslimin, iaitu seorang isteri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak sesuai dengan kehendak isteri sebagaimana kata pepatah,’panas setahun dihapus oleh hujan sehari’. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang isteri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan suami kerana Allah s.w.t. tidak akan melihat isteri seumpama ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah s.a.w :
“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.”
(Hadis Riwayat Nasaie)

Hadis di atas adalah peringatan keras bagi kaum wanita muslimah yang menginginkan keredhaan Allah s.w.t. dan SyurgaNya. Maka tidak layaklah bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal kekurangan yang tidak sepatutnya untuk diperbesar-besarkan.

Jika sedemikian keadaannya, maka sangat tidak sesuai sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah s.a.w sebagai majoriti kaum yang masuk ke dalam Neraka walaupun mereka tidak kekal didalamnya.

Cukup sekiranya isteri-isteri Rasulullah s.a.w dan para sohabiyah sebagai suri tauladan bagi isteri-isteri kaum muslimin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang isteri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

1. Derhaka dengan ucapan.
2. Derhaka dengan perbuatan.
3. Derhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang isteri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kederhakaan seperti ini sering dilakukan seorang isteri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk kederhakaan ini ialah apabila seorang isteri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang dibenarkan oleh syara’. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan yang bermaksud untuk menjatuh dan merosak kehormatannya sehingga suaminya dipandang hina di mata orang lain. Begitu juga apabila seorang isteri meminta talak atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mendakwa telah dianiaya atau dizalimi suaminya atau lain-lainnya.
Permintaan cerai biasanya di awali dengan pertengkaran antara suami dan isteri kerana ketidakpuasan isteri terhadap kebaikan dan usaha suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya kerana suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah s.w.t. dan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. Sungguh hina sekali apa yang dilakukan isteri seperti ini terhadap suaminya.

Ingatlah sabda Rasulullah s.a.w :
“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’ie) maka haram baginya mencium wangi Syurga.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi )

Bentuk kederhakaan kedua yang dilakukan para isteri terjadi apabila seorang isteri tidak mahu melayani keperluan batiniyah suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang seumpamanya.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang isteri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tindakan ini sebenarnya adalah seakan-akan seorang isteri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’ie. Demikian pula jika isteri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya (aurat), menerima tetamu tanpa izin suaminya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang lain-lain.

Begiti juga apabila seorang isteri tidak mau berdandan atau mempercantikkan diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal-hal itu, melakukan puasa sunat tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti solat atau puasa Ramadhan.

Maka setiap isteri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah isteri yang durhaka terhadap suami dan telah melakukan maksiat kepada Allah s.w.t. Jika kedua bentuk kederhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang isteri maka ia dikatakan sebagai isteri yang derhaka dengan ucapan dan perbuatannya.

Sungguh rugi wanita yang melakukan kederhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke Neraka daripada jalan ke Syurga kerana memang biasanya wanita yang melakukan kederhakaan-kederhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Jalan menuju Syurga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di hujung jalan ini ada Syurga yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahawa jalan menuju ke Neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sedarlah bahawa Neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mahu berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.
Hanya wanita yang bijaksanalah yang mahu bertaubat kepada Allah s.w.t. dan meminta maaf kepada suaminya dari kederhakaan-kederhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang wajib ditutupnya dari pandangan lelaki bukan mahramnya.

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah s.a.w tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang disebabkan pakaian yang mereka pakai tipisnya, berseluar ketat menampakkan bahagian-bahagian tubuh tertentu, tidak menutup aurat sepertimana yang berlaku di dalam masyarakat kita. Sebagaimana yang dihuraikan oleh Ibnul ‘Abdil Barr rahimahu ‘Llah ketika menjelaskan sabda Rasulullah s.a.w tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan :

“Wanita-wanita yang dimaksudkan Rasulullah s.a.w adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan tubuhnya atapun yang menunjukkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”
Mereka adalah wanita-wanita yang suka dan amat gembira apabila berjaya menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah s.w.t. telah melarang hal ini dalam firmanNya yang bermkasud :
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (Surah An Nur ayat 310)

Imam Az-Zahabi rahimahu ‘Llah menyatakan di dalam kitab Al Kabair :
“Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang dipakai oleh mereka, memakai minyak wangi dengan yang seumpanya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini bererti mereka secara tidak langsung menyeret kaum lelaki ke dalam Neraka, kerana pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoncang keimanan yang kukuh sekalipun, apa lagi iman yang lemah yang tidak dikuatkan dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah sendiri menyatakan di dalam hadis yang sahih bahwa :

“ Fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum lelaki adalah fitnahnya wanita.”
Sahabat yang dirahmati Allah,

Sejarah sudah membuktikan bahawa betapa banyak tokoh-tokoh dunia yang tidak beriman kepada Allah s.w.t. hancur hanya disebabkan pujuk-rayu wanita. Bahkan berapa banyak persaudaraan di antara kaum muslimin terputus hanya disebabkan wanita. Berapa banyak anak yang menderhaka kepada ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi gejala-gejala lainnya yang dapat membuktikan bahawa wanita seumpama mereka ini memang layak untuk tidak mendapatkan wanginya Syurga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum lelaki ke dalam lembah dosa yang hina, terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan tubuh mereka kepada kaum lelaki. Tidak menghairankan lagi jika di sana-sini terjadi jenayah dan kezaliman terhadap kaum wanita, kerana yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang disaran oleh Islam yang akan menyelamatkan kaum wanita dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak. Jangan diikut pemikiran sekular pemimpin-pemimpin wanita Islam yang cuba mempertikaikan hukum-hukum Allah dan mempertikaikan hak-hak wanita yang telah dinyatakan di dalam al-Qur’an.

Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud :
“Dan tinggallah kamu di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Surah Al Ahzab ayat 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang menyebabkan wanita menjadi penghuni majoriti Neraka. Tetapi cukuplah dengan tiga sebab ini sahaja yang dijelaskan di sini kerana memang tiga perkara inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat kita.

Rasulullah s.a.w pernah menerangkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Ketika beginda selesai berkhutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah s.w.t. dan anjuran untuk mentaatiNya. Baginda pun bangkit mendatangi kaum wanita, baginda menasihati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian baginda bersabda :

“Bersedekahlah kamu semua. Kerana kebanyakan kamu adalah kayu api Jahanam!”
Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”
Baginda menjawab : “Kerana kamu banyak mengeluh dan kamu kufur terhadap suami!” (Hadis Riwayat Al- Bukhari)

Bersedekahlah kerana sedekah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Semoga Allah s.w.t. menyelamatkan kita dari azab-Nya. Aamiin.
Al maulaana
www.eramuslim.com